Adikku Murtad, Ikut dosakah aku?

—— Tanya —— Saya mau tanya : 1. Adik saya (wanita) umur 30 tahun pindah agama dari Islam ke Kristen (ikut agama suaminya), bagaimana hukumnya (dosa) yang ditanggung saya sebagai kakak dan orang tua saya ?? 2. Nabi Muhamad adalah manusia yang sudah dijanjikan oleh oleh Allah surga mengapa kita harus mendoakan beliau pada saat shalat ??? 3. Saya sering ditanyakan oleh orang-orang mengapa agama Islam bisa mempunyai aliran/pengertian macam-macam terhadap satu hal, apakah ini karena Kitab suci kita yang berbahasa Arab sehingga terjadi beda pengartian dari masing-masing ahli ??? Decky ——– Jawab ——– Assalamu'alaikum, Sdr. Decky. 1. Dalam Islam terdapat prinsip "Laa taziru waaziratun wizra ukhra" yang artinya: seseorang tidak dituntut untuk menanggung dosa orang lain. Dalam kasus anda, anda hanya berkewajiban memberi nasehat kepada sang adik dengan cara-cara yang persuasif. Jika sang adik tetap tidak mau mengikuti nasehat anda, maka andapun tetap berkewajiban bergaul dengan sang adik sebagaimana biasa, bukan malah menjauhinya meskipun ia lain agama. Inilah salah satu bentuk toleransi Islam yang sangat luhur. Sambil juga anda tetap berdoa kepada Allah SWT semoga sang adik diberi petunjuk. 2. Doa untuk Nabi justru bermanfaat kepada kita sendiri. Dalam banyak hadist, Nabi SAW berjanji barang siapa mendoakan beliau, maka beliau akan mendoakan kita. Ditambah lagi, tahukah anda bahwa doa itu adalah sebenarnya merupakan pangkal ibadah. Persoalannya bukanlah "Nabi sudah pasti masuk surga kok masih perlu didoakan", tetapi bahwa dengan doa anda kepada Sang Nabi, maka nabi menjamin, berjanji akan mendoakan anda. Dan doa Nabi pasti dikabulkan oleh Allah SWT. 3. Perlu diketahui bahwa perbedaan antara aliran-aliran dalam Islam pada dasarnya hanya merupakan perbedaan yang bersifat bukan fundamental. Semua aliran dalam Islam (asalkan aliran tsb sudah 'punya nama' dan memiliki tata aturan yg baku, bukan asal aliran sempalan), akan selalu sepakat atas hal-hal besar seperti kewajiban sholat lima waktu, wajib membayar zakat dan semacamnya. Perbedaan yg ada hanya terbatas kepada, misalnya, dalam wudlu apakah wajib membasuh kepala secara keseluruhan ataukah sebagian saja. Sementara semua aliran akan sepakat bahwa wudlu itu wajib dilakukan untuk menunaikan sholat. Justru perbedaan pendapat dalam Islam yg sedemikian itu menunjukkan bahwa Islam menghargai hasil olah fikir Imam-Imam pendiri aliran. Memang benar, karena Alqur'an berbahasa Arab, maka kemudian terjadi perbedaan-perbedaan tersebut. Tetapi hal ini jangan dilihat hanya dalam konteks ke-Indonesiaan saja. Justru perbedaan-perbedaan tsb muncul di kalangan para Imam yg nota bene berasal dan berbahasa Arab. Kalau dalam konteks ke-Indonesiaan, jangan diartikan bahwa NU dan Muhammadiyah, misalnya, adalah aliran. Keduanya hanya merupakan ormas keislaman. Tak lebih dari itu. Pertanyaannya kemudian, mengapa para Imam yg asli Arab itu tetap berselisih pendapat dalam memahami Alqur'an yg juga berbahasa Arab? jawabannya sbb: bahwa Bahasa Arab adalah merupakan bahasa yg paling tinggi, sulit dan luas cakupannya dibanding dengan bahasa-bahasa yg ada di dunia ini. Contoh kecil dalam kalimat 'Ain. Ia bisa berarti "mata" atau "mata air" atau "mata-mata/intel" atau bahkan "emas", padahal kalimatnya satu dan tak perlu mengulang atau memberi imbuhan. Kecuali itu, perbedaan aliran itu pada dasarnya justru merupakan cerminan kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya. Madzhab Syafi'iyyah, misalnya, adalah cocok untuk umat Islam di Asia Tenggara karena madzhab ini kebetulan banyak relevan dengan sosiologi masyarakat Asean. Sementara mazhab yang lain juga cocok utk umat Islam di belahan bumi yg lain pula. Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Semoga dimengerti dan difahami. Wassalam. Ahmad Nadhif Abdul Mudjib