Agama fitrah

Seorang Muslim adalah khalifah Allah di muka bumi. Keberlangsungan kehidupan di atas bumi adalah kewajibannya. Islam melarang umatnya menjauh dari pentas kehidupan dunia, bertapa. Ia harus terlibat dalam proses-proses sosial. Seorang Muslim adalah pencipta sejarah dirinya. Kesinambungan hidup spesis makhluk manusia adalah menjadi tanggung jawab seorang Muslim. Keberadaan spesis manusia di muka bumi harus berlangsung terus dan tidak boleh punah. Dan, Muslim diwajibkan untuk nikah dan beranak-pinak. Islam adalah satu-satunya agama di dunia yang memelihara fitrah pemeluknya. Seorang Muslim diperintahkan oleh Allah untuk selalu menjaga fitrah dirinya sebagai manusia. Ia dalam wujud luarnya bukanlah sebagai malaikat. Dan, sebagai manusia, seorang Muslim diwajibkan untuk makan, minum, beristri dan beranak-pinak sebagaimana makhluk Allah yang lain di muka bumi. Dalam Islam tidak dibenarkan seorang Muslim memutus sifat dasar manusia, yaitu untuk ikut andil dalam proses keberlangsungan alam. Beranak-pinak adalah tugas kesejarahan yang dibebankan oleh Allah (swt). Setiap agama memiliki standar ketinggian spiritualnya masing-masing. Standar kesalehan tertinggi seorang Hindu adalah menjauh dari kehidupan dunia yang menipu untuk mencari kedamaian sejati, nirvana dengan bertapa, menjadi shadu (pertapa). Demikian pula pada Buddha menekankan hal yang sama. Kristen Katolik menganggap kehidupan yang sempurna bisa diraih dengan hidup suci yang menjaga jarak dari tipu daya dunia dan hidup membujang (celibate). Begitu juga tak jauh berbeda pada beberapa agama lain. Hidup suci menurut agama-agama di luar Islam adalah dengan pilihan hidup menjauh sama sekali dari dunia beserta perputarannya dan menafikan dirinya sebagai seorang makhluk manusia. Tidak sedikit ukuran kesalehan menurut agama-agama ini adalah dengan cara memutuskan diri dari kehidupan masyarakat, hidup menyendiri dan acuh tak acuh dengan segala bentuk pergolakan kehidupan sosial. Bagi mereka, hidup membujang adalah syarat pertama sebelum mengarungi hidup suci. Islam sangat berbeda dengan agama-agama tersebut. Meskipun Islam memerintahkan setiap Muslim untuk hidup suci, namun ukuran kesucian menurut Islam sangat jauh berlawanan dengan agama-agama diatas. Islam tidak menafikan bahwa setiap Muslim adalah makhluk manusia yang harus tetap melangsungkan hidup hingga ajal tiba. Makan dan minum sebagai syarat keberlangsungan hidup seseorang, oleh Islam, menjadi kewajiban. Islam melarang seorang Muslim mengharamkan dirinya dari makan dan minum dengan sengaja. Namun sebaliknya, Islam juga tidak mengizinkan seorang Muslim berlebihan dalam hal-hal tersebut. Kesalehan dan hidup suci menurut Islam adalah mereka yang selalu berbuat di tengah-tengah : tidak berlebihan dan tidak menjauhi sama sekali. Hanya saja, Islam mewajibkan seorang hamba untuk mengekang diri pada waktu-waktu tertentu dari nafsu makan, minum dan syahwat dengan berpuasa. Laku puasa dalam Islam menjadi perbuatan yang dilarang jika tanpa batas. Puasa hanya berlangsung dari waktu fajar hingga matahari terbenam, diluar ketentuan ini maka puasa itu menjadi laku sia-sia. Hidup suci lewat puasa cara Islam, sungguh berbeda dengan, umpamanya, puasa dalam agama Jain yang sama sekali menjauhi makan dan minum sesedikit mungkin dalam waktu cukup lama. Allah mengajarkan umat Islam untuk mengekang hawa nafsu dengan mewajibkan puasa satu bulan dalam setahun, tidak lebih. Adapun di luar bulan ini, oleh islam dihukumi sunah, lebih disukai dan dianggap amal tambahan. Seorang Muslim adalah khalifah Allah di muka bumi. Keberlangsungan kehidupan di atas bumi adalah kewajibannya. Islam melarang umatnya menjauh dari pentas kehidupan dunia, bertapa. Ia harus terlibat dalam proses-proses sosial. Seorang Muslim adalah pencipta sejarah dirinya. Kesinambungan hidup spesis makhluk manusia adalah menjadi tanggung jawab seorang Muslim. Keberadaan spesis manusia di muka bumi harus berlangsung terus dan tidak boleh punah. Dan, Muslim diwajibkan untuk nikah dan beranak-pinak. Menurut Islam, setiap bagian tubuh memiliki hak. Dan setiap bagian tubuh, Islam memerintahkan, untuk dipenuhi kebutuhannya. Perut diberi makan dan minum. Syahwat dengan pelampiasan. Mata dan badan dengan tidur dan istirahat. Karenanya, orang yang menghabiskan seluruh waktu untuk salat dan puasa terus-menerus tanpa memperhatikan hak masing-masing bagian tubuh menjadi larangan dalam Islam. Bahkan orang-orang di luar kita memiliki hak atas diri kita : orang tua, tetangga, istri, anak-anak dan lingkungan. Orang yang telah mencapi tahapan kehidupan suci dalam Islam adalah Nabi Muhammad (saw). Beliau adalah seorang manusia, makan dan minum, tidur, menggauli istri-istrinya, dan beranak-pinak. Allah berfirman, Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat serasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.(Q.S. al-Taubah : 128). Tidak ada yang lebih saleh dari Nabi (saw), dan tak ada seorangpun yang lebih suci dari beliau. Hidup suci seorang Muslim adalah hidup yang mengabdikan dirinya untuk Allah dengan ibadah kepada-Nya dan ikut andil dalam proses-proses sosial sehingga tercipta kehidupan dunia damai, sejahtera dan berkeadilan. Seorang Muslim adalah pembawa risalah kerasulan Muhammad (Islam), dan penerus misi kenabian yang menciptakan sebesar-besar keadilan dan kedamaian di muka bumi. Wallhu a’lam Rizqon Khamami