Agar Ibunda Senyum Kembali

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sebelumnya saya perkenalkan diri saya , Lucky Dewi dan kerap dipanggil Lucky, putri bungsu dari 5 bersaudara (2 perempuan dan 3 laki-laki). Saya sangat mencintai ibunda saya, karena ia adalah sosok idola saya sejak kecil hingga detik ini. Beliau memang hanyalah seorang ibu rumah tangga, tapi beliau adalah wanita Jawa yang sangat mengerti "perannya" baik di rumah, lingkungan keluarga besar (saudara), tetangga, maupun organisasi darma wanita saat ayah saya masih aktif bekerja. Ibunda seorang yang sangat menyayangi keluarganya, mengurus kelima anaknya dengan sekuat tenaga, mengurus suami tanpa pamrih, walau ayah saya dulu terkenal orang yang sangat keras, hingga ibu saya pernah sangat kurus dibuatnya.. tapi ketulusan hatinya untuk tetap mengurus keluarga dan tetap menurut pada suami tidak pernah berubah .. hingga detik ini.

Ayah saya baru saja berulang tahun, kini berusia 85 tahun, sedangkan ibunda lebih muda 12 tahun, Alhamdulillah, ayah saya masih bertubuh sehat, karena masih sering olahraga jalan kaki dan semasa hidupnya sering puasa "tirakat" / mutih. Memang Ayah saya adalah orang Jawa yang sangat konvensional, yang walau menjalani sholat namun kadang masih menganut tradisi kepercayaan Jawa. Ayah saya belakangan merasa sedih karena di usianya yang sepuh , sehat namun istri tercintanya lebih sering menghabiskan waktunya di tempat tidur , karena sejak mengalami patah tulang belakang sekitar 4 tahun lalu, ibu saya terus sakit-sakitan dengan berbagai macam sakit dan keluar masuk rumah sakit.

Saya sangat shock saat ibu saya mengalami patah tulang, karena dapat dikatakan semua anggota keluarga (hingga menantu dan cucu2) sampai kita dewasa, sangat menikmati bermanja2 dengan ibunda yang selalu siap melakukan apapun untuk membahagiakan kami. Dan saat ibunda sangat kesakitan, saya stress, sempat kurang fokus dengan pekerjaan karena energi dan perasaan saya tumpahkan untuk mengurus ibunda yang saat itu hanya bisa terbaring. Setelah sembuh, semua mulai kembali sedikit normal, hingga akhirnya ibunda jatuh sakit lagi , entah kenapa ibu tidak bisa makan apapun.. dan sejak itu sering masuk rumah sakit , kondisinya naik turun tidak pernah stabil…

Hingga hari ini, ibunda sudah sangat kurus (nyaris tdk berdaging), ibunda mau makan kalau disuapi. Saya dan kakak2 kembali stress, berapa tahun belakangan ibu sakit, segala upaya kamu lakukan bersama, hingga sempat terjadi bersitegang antara kami. Kadang kami sampai kasihan dengan ayah kami yang hampir tidak diperhatikan karena semua fokus ke ibunda dan kami menganggap ayah masih sangat sehat.

Dari semua cerita saya diatas, kami sekeluarga sangat menginginkan ibunda tidak menderita seperti ini, kami yakin ada unsur psikis , tapi ibunda tidak mau mengungkapkan, walau dengan saya yang selama ini paling dekat.Saya tahu alasannya karena ibunda adalah orang yang tidak mau merepotkan siapapun, termasuk anaknya sendiri. Dulu pernah, ibunda waktu tinggal diluar kota dengan ayah, jatuh hingga jalannya harus menyeret lutut, tapi semua yang berada disana termasuk ayah dilarang menelpon kami agar kami tidak khawatir.. tapi hati seorang anak tidak bisa dibohongi, saya feeling ada apa2 dengan ibunda dan langsung kami kesana menemui ibu tidak bisa jalan sempurna.

Sempat ibunda mengatakan ingin bicara dengan seorang ustadzah, tapi kami masih belum menemukan orang yang tepat. Untuk itu kami melalu media ini mohon bantuannya , bukan kami "neko-neko" mencari ustadzah, namun kami tidak mau terjerumus dengan hajah2 yang komersil , atau yang terlalu teoritis dan malah membuat ibu saya stress, tapi paling tidak yang memiliki "bahasa" yang sama, karena ibu saya seorang yang "Njawani" , sangat halus perasaanya.. saya tidak ingin ada yang menyakiti / menyinggung perasaan halusnya.

Saya juga mohon saran, apa yang dapat kami lakukan untuk dapat memberikan ketenangan jiwa bagi ibunda saya yang sudah terlihat payah… saya ingin ibunda bisa kembali tersenyum.. menikmati hari2nya bermain dengan cucu. Saya sadar , mungkin ibunda tidak bisa 100% sehat & kuat seperti dahulu lagi, namun, paling tidak kami tidak ingin batinnya ikut menderita… karena saya yakin, hati yang tenang dapat memulihkan sakit apapun. Saya sudah tidak tahan melihat ibunda yang tampak menahan rasa sakitnya, rasanya ingin saya ikut menanggung bebannya agar beliau lebih tenang.

Sebelumnya terima kasih atas waktu Bapak/ Ibu bersedia meluangkan waktu membaca curahan hati saya yang panjang ini, mohon saran, masukan, nasehat atau apapun yang dapat kami lakukan untuk ibunda kami tercinta.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Lucky Dewi Murwitasari
Jawab
Assalamu alaikum wr wb,
 
Mbak Lucky, membaca email anda sebenarnya hati saya sangat tersentuh. Alhamdulillah ternyata ibu anda patut berbangga memiliki putra putri yang sangat mencintainya dan tidak gegabah dalam mengambil sikap menghadapi persoalan hidup. Secara medis kondisi tubuh ibunda dengan umur yg telah lanjut memang sangat rentan untuk menderita berbagai penyakit, selain itu kondisi psikis bisa lebih rentan lagi menghadapi permasalahan2 hidup dan juga kemunduran2 kondisi diri ibunda sendiri.
 
Membaca email anda, mungkin saja ada permasalahan yang dipendam sendiri oleh ibunda, tentunya dengan berbagai pertimbangan yang beliau anggap masalah tersebut akan menyusahkan anda dan saudara2 yg lain.Apapun masalah itu dan menyangkut siapapun permasalahan itu,menurut saya baiknya jangan ada yang dipersalahkan. Yang dibutuhkan ibunda adalah dukungan moril, kasih sayang yang tidak terbatas dan perhatian yang lebih. Namun ada satu hal yang perlu diingat, sesehat apapun ayah anda, beliau juga kondisinya kurang lebih hampir sama. Beliau juga telah lanjut usia, baiknya anda dan saudara2 yg lain berdiskusi dan membagi waktu secara bergantian tetapi rutin menjaga kedua orangtua. Di satu pihak akan lebih menghemat waktu dan tenaga juga tidak ada perasaan "ditelantarkan" baik ayah maupun ibu anda.
 
Kalaupun and ingin mencari ketenangan bathin dengan pendekatan agama, usul saya baiknya carilah seorang yang ‘alim tetapi yang bisa menjadi teman.Teman dalam artian bisa mendengar dan juga bisa dipercaya oleh ibu anda.Dan akan lebih baik lagi kalau ayah anda juga terlibat di dalamnya.
 
Hanya saran seperti ini yang dapat saya berikan, semoga keceriaan dan kesehatan ibunda anda dapat berangsur2 pulih.Amiin.
Tetap sabar dan tawakkal, karena ini adalah bagian dari ujianNya.Hadapi cobaan ini bersama2 dengan saudara anda, insya Allah akan terasa lebih ringan.
 
Wassalam
 
dr. Lilya Wildhanie