Al-Dharurat Tubiih Al-Mahdzuuraat

Tanya:

Saya mengucapkan terimakasih atas jawaban yang telah diberikan.

Adapun hal-hal yang masih saya ingin tanyakan adalah, bagaimana seandainya obat-obatan yang ada untuk menyembuhkan suatu penyakit harganya relatif mahal dan kita kurang mampu untuk membelinya. Sedangkan pengobatan itu sifatnya kontinyu/terus menerus. Karena kalau saya dapat ambil kesimpulan dari jawaban yang telah diberikan adalah haram hukumnya pengobatan dengan menggunakan sesuatu yang masuk dalam katagori najis, sepanjang masih ada obat-obatan lain yang suci. Disini tidak dijelaskan mengenai kemampuan seseorang untuk membeli obat-obatan tersebut. Karena sepanjang yang saya ketahui pengobatan untuk penyakit seperti KANKER membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan harus dilakukan secara kontinyu.

Demikian pula bagaimana seandainya , seseorang yang selama ini secara kontinyu sudah mengkonsumsi obat-obatan untuk suatu penyakitnya, akan tetapi belum banyak perubahan/kemajuan , maka apakah yang termasuk dalam kondisi ini diperkenankan untuk melakukan terapi air seni, karena obat-obatan yang suci masih tersedia.

Demikian pertanyaan saya Bapak Ustadz. Mohon jawaban, dan terimakasih atas perhatian dan kesediaannya untuk memberikan jawaban.

Joko Bagio S. – Bogor

Jawab:

Mas Bagio, dalam kondisi-kondisi seperti yang Anda terangkan berarti itu kondisi darurat. "al-dharurat tubiihul mahdzuurat", kata sebuah kaidah fikih. Artinya, hal-hal yg asliya terlarang bisa menjadi boleh karena kondisi darurat. Kaidah ini logis sekali. Tentu sangat dimaklumi soal kemampuan dan kecocokan pemakaian obat. Kalau mampunya membeli obat yang terbuat dari bahan najis (karena ia lebih murah) ya apa boleh buat. Demikian pula, kalau ia merasa cocok dengan obat yang najis. Ya sudah pakai saja. Tak apa-apa.

Dengan demikian, jelas, kalau keadaan sudah tidak darurat lagi maka hukum asli (haram/terlarang) kembali berlaku.

Semoga cukup jelas, wallaahua'lam.

Arif Hidayat