Amalan-amalan Praktis Orang Bertaqwa

Taqwa itu artinya menjauhi segala larangan dan melakukan/mena’ati perintah Allah Swt. “Menjauhi larangan dan mena’ati perintah” lingkupnya yang luas sekali. Sebab itu, amalan-amalan praktis –yang karenanya kita disebut bertaqwa– tidak terbatas jumlahnya, meliputi bidang ibadah atau keakhiratan (shalat, puasa, haji, zakat, dll) dan bidang mu’amalah atau pergaulan duniawi (sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik, pendidikan, dll). Tanya Jawab (428) Amalan-amalan Praktis Orang Bertaqwa Assalamu’alaikum wr. wb. Saya ingat dulu waktu saya masih kelas 1 SMP, saya pernah mendengarkan kaset ceramah Pak Miftah Faridl tentang amalan-amalan praktis yang dilakukan untuk menjadi orang bertaqwa, misalnya sholat tahajud, dsb. Dari ceramah itulah, saya mulai mengerjakan sholat tahajud sejak SMP. Namun sepertinya saya tidak bisa beristiqomah untuk selalu berusaha menjadi orang bertaqwa, dan sekarang saya diingatkan oleh Allah untuk kembali lagi. Pertanyaan: 1. Amalan-amalan praktis apa saja yang bisa dilakukan untuk menjadi orang bertaqwa? 2. Apa kebaikan-kebaikan yang dijanjikan oleh Allah jika kita menjadi orang bertaqwa? Wassalam, Rudi Nugroho Y. ——— Jawab ——— Assalamu’alaikum wr. wb. Saudara Rudi, Taqwa itu artinya menjauhi segala larangan dan melakukan/mena’ati perintah Allah Swt. “Menjauhi larangan dan mena’ati perintah” lingkupnya yang luas sekali. Sebab itu, amalan-amalan praktis –yang karenanya kita disebut bertaqwa– tidak terbatas jumlahnya, meliputi bidang ibadah atau keakhiratan (shalat, puasa, haji, zakat, dll) dan bidang mu’amalah atau pergaulan duniawi (sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik, pendidikan, dll). Dengan ungkapan lain, orang bertaqwa adalah orang yang bisa membina hubungan baik dengan Allah (hablun minallaah) dan baik dengan sesama manusia (hablun minannaas). Baik dalam urusan agama dan baik dalam urusan dunia. Kedua urusan itu dilakukan sesuai norma agama dan logika/pengetahuan secara serius/sungguh-sungguh, pantang menyerah, disiplin, dan tulus. Kalau kita rajin dalam bidang ibadah saja sementara kegiatan duniawi kita berantakan, maka kualitas ketaqwaan kita hanya setengah. Demikian juga bila kita hanya baik duniawi saja atau setengah-setengah dalam hal ibadah dan setengah-setengah dalam hal duniawi. Padahal kata Allah: “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash/28:77) Tuntutan taqwa di kedua bidang ini tidak berarti tuntutan untuk mencapai kesempurnaan (dengan arti punya kemampuan, kemauan, dan tindakan di segala bidang ibadah dan kegiatan duniawi). Namun nilai taqwa itu sudah cukup memihak pada orang yang mempunyai kemauan dan tindakan pada bidang sesuai kemampuannya. Dalam hal ibadah sesuai kemampuan, duniawi sesuai kemampuan. Kalau jadi polisi, jadilah polisi yang baik dan ibadahnya jangan lupa. Jadi pedagang, pedagang yang baik dan ibadahnya jangan kacau. Guru yang baik dan rajin beribadah. Demikian seterusnya. “Jangan lupa ibadah” artinya lakukanlah ibadah sesuai kemampuan. Semuanya (kebaikan) diukur dengan kemampuan. Ini kaitannya dengan prinsip: apa saja kejelekan (kemungkaran) harus kita tinggalkan, apa saja kebaikan harus kita lakukan sesuai kemampuan. Perlu ditegaskan di sini, kita juga berkewajiban meningkatkan kualitas ketaqwaan kita. Bagaimana caranya? Tiada lain dengan meningkatkan kemampuan. Dan kemampuan akan meningkat seiring dengan tambahnya pengetahuan. Dengan kata lain kita harus mencari ilmu untuk menambah pengetahuan. Tak boleh berhenti pada apa yang sudah kita mampui. Kata Allah: “Katakan (hai Muhammad), Aku hanyalah menasehatkan satu perkara saja kepada kamu semua, yaitu hendaknya kamu berdiri menghadap Allah, berdua-dua (bersama orang lain) atau pun sendirian, kemudian kamu berpikir.” (QS. Saba’/34:46) Dalam ayat ini Nabi Muhammad diperintahkan menyampaikan pesan yang terdiri dari dua hal tapi hakikatnya satu, yaitu beribadah dan berpikir. Dengan kata lain, beribadah dan berpikir adalah dua kegiatan yang tak boleh dipisahkan. Berpikir di sini mempunyai arti belajar, mencari ilmu, dan meningkatkan pengetahuan. Itulah makanya keunggulah itu diberikan pada orang yang beriman dan berilmu. “…Allah mengangkat mereka yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan ke berbagai derajat.” (QS. Al-Mujadalah/58:11) Bagi Anda sendiri, sekarang tinggal mengukur kemampuan. Dalam hal ibadah, lakukan semua kewajiban lebih dulu, baru yang sunat menyusul (di antara tahajud atau shalat malam). Dan dalam urusan dunia, lakukan apa yang menjadi keahlian Anda. Kerjakan sesuai urutan prioritas untuk menuju keseimbangan hidup. Atau bisa diformulasikan: keluarga damai, bisnis lancar, dan sosial tak terabaikan. Atau: sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat (bagi keluarga dan lingkungan). *** Saya kira, dari uraian di atas Anda sudah tahu dengan jelas apa dan bagaimana taqwa itu. Otomatis tahu apa kira-kira akibat atau dampak yang akan terjadi pada orang yang bertaqwa. Balasan orang yang bertaqwa tiada lain adalah kebaikan di dunia dan akherat. Kedamaian di dunia dan di akhirat (dalam surga). “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Nazi’at/79:40-41) “Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.(QS. Ali ‘Imran/3:15) Semoga membantu. Wassalam Arif Hidayat