Anak di Luar Nikah

Teman saya sudah memiliki anak sebelum menikah (kecelakaan). Dia menanyakan perihal warisan. Bagaimana hukumnya, apakah sama dengan anak yang dihasilkan setelah pernikahan resmi ?

Ahmad Royhan

Jawab:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. 17:32) Fatwa No. 77 Majlis Fatwa Mesir: Nikahnya seorang lelaki dengan seorang wanita yang berzina dengannya dan mengandung darinya hukumnya sah, dan ia juga diperbolehkan mengumpulinya sesuai dengan kesepekatan ulama'. Adapun apabila sang wanita hamil dari hasil zina dengan orang lain, maka nikahnya sah akan tetapi ia tidak diperbolehkan mengumpulinya hingga ia melahirkan.

Pendapat lain menyatakan, yang terakhir ini nikahnya tidak sah. Fatwa No. 291 Majlis Fatwa Mesir:

1. Tidak diperbolehkan sama sekali seorang lelaki non-Muslim mengumpuli wanita muslimah, baik dengan akad nikah atau tidak.

2. Anak zina tidak berintisab kepada sang lelaki [tidak sah sebagai anaknya] walau ia mengakuinya.

Adapun sang wanita, maka nasab anak darinya tetap sah. Demikian fatwa yang dikeluarkan oleh Majlis Fatwa Mesir [Dar al-Ifta']. Hal ini didasarkan sebuah hdaits Nabi: "al walad lil-firasy, wa lil-'ahir al-hajr", Nasab anak mengikuti hak mengumpuli, dan bagi pelaku zina dikenakan lempar batu.

Syarat berlakunya nasab adalah "terhormatnya" air mani, yakni air mani yang berbuah dari praktik legal [pernikahan misalnya].

Namun menurut madzhab Hanafiyah, anak tersebut berintisab kepada sang lelaki selama ia segera mengawini sang wanita, dan ia melahirkannya pada masa tidak kurang dari enam bulan dari hari perkawinan. [Keputusan Mahkamah Kasasi Mesir No.18, 3 Nopember 1976]. Tampaknya, untuk menjaga maslahat sang anak, pendapat Hanafiyah ini menjadi rujukan penting dalam fikih kita. Adapun mengenai hak waris, ini disandarkan sepenuhnya kepada ketetapan nasab sang anak.

Demikian, semoga membantu.

Abdul Ghofur Maimoen