Antara Asuransi Konvensional dan Asuransi Takaful

Pertanyaan:

Assalamu`alaikum wr. wb.

Terima kasih atas kesempatan yang Bapak/Ibu berikan untuk bertanya masalah yang berkaitan dengan agama. Saya ingin menanyakan masalah asuransi.

Bagaimanakah hukum asuransi menurut agama Islam? Menurut pendapat saya, secara praktis asuransi hampir sama dengan praktek perbankan komersial lainnya, bahkan lebih kental unsur bunganya. Intinya, pemegang polis akan menerima sejumlah uang pertanggungan sebagaimana yang diperjanjikan dengan menyetor sejumlah uang tertentu. Jumlah uang yang disetor, baik sekali setor maupun berkala, lebih sedikit dari jumlah uang pertanggungan. Secara hitungan finansial yang sangat kental dengan riba, hal itu sudah lumrah. Dapat dikatakan tidak ada perusahaan asuransi yang mewajibkan setorannya lebih besar dari uang pertanggungannya.

Seandainya praktek asuransi itu haram hukumnya menurut Islam, alternatif apa sajakah yang menurut agama Islam sah untuk mengakomodir hal-hal sebagaimana yang dicover oleh praktek asuransi?

Atas bantuan Bapak/Ibu saya sampaikan banyak terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Teguh Setiadi

Jawaban:

Assalamu`alaikum wr. wb.

Para ulama telah membahas panjang lebar mengenai asuransi konvesional, mencakup asuransi jiwa, kecelakaan dll. Akhirnya mereka pada kesimpulan bahwa asuransi konvensional mengandung unsur ketidak jelasan yang sangat tinggi, seperti berapa lama harus membayar, berapa jumlah yang akan diterima peserta asuransi. Unsur ketidakjelasan dalam obyek transaksi disebut "gharar" yang diharamkan oleh hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah s.a.w. melarang jual beli yang mengandung unsur "gharar". (H.R. Muslim, Abud Dawud dll.)

Dalam asuransi konvnsional juga banyak hal-hal yang disembunyikan, seperti mekanisme penghitungan dana asuransi yang akan diberikan, jumlah dana yang disetorkan sampai kepada prosedur pemberian dana transaksi.

Yang lebih kuat lagi menjadi alasan untuk dilarang secara agama, bahwa dalam asuransi konvensional terdapat konsep dana hangus, yaitu apabila peserta asuransi menghentikan pembayarannya maka dana premi yang telah dibayarnya akan hangus, ini sangat bertentangan dengan asas bermu'amalah sesuai ajaran agama yang melarang memakan harta orang lain dengan cara batil dan tidak boleh mengambil hak orang lain kecuali dengan asas keridloan, serta larangan berbuat kedlaliman dan aniaya.

Dalam praktik asuransi konvensional, juga sangat terkait erat dengan transaksi riba. Transaksi yang dilakukan antara peserta asuransi dan perusahaan pengelola asuransi, tidak jauh berbeda dengan transaksi riba konvensional. Ini karena perusahaan asuransi seakan meminjam uang dari peserta asuransi untuk jangka waktu tertentu dan mengembalikannya dengan jumlah lebih besar atau lebih sedikit, hanya didasarkan pada jeda waktu pengembalian. Kemudian dana yang masuk ke perusahaan asuransi, sudah pasti (umumnya) akan diputar dalam bentuk transaksi yang mengandung unsur riba.

Untuk mengetahui posisi hukum suatu transaksi dalam Islam, berikut ini kami sampaikan asas-asas mu'amalah/perniagaan/bisnis dalam Islam, yatu a.l.:

  1. Didasarkan atas kerelaan. (al-Nisa'/4: 29) Rasulullah SAW bersabda: "Perdagangan itu atas dasar sama-sama ridha".(HR al-Baihaqi dan Ibnu Majah).
  2. Objek bisnis adalah sesuatu yang halal. (HR. Ahmad & Abu Daud)
  3. Tidak membantu dalam kemaksiatan/kesesatan dan permusuhan. (al-Maidah/5:2)
  4. Tidak dengan penipuan. (HR. Muslim)
  5. Tidak mengeksploitasi/memeras (seperti menaikkan harga yang kelewat batas). (HR. Bukhari, Muttafaq 'alaih)
  6. Tidak menzalimi/merugikan pihak lain.(al-Baqarah/2: 188)
  7. Tidak memonopoli (dengan cara melakukan penimbunan dan semacamnya). (HR. Ahmad , al-Hakim, Ibn Abi Syaibah, dan Bazzar)
  8. Tidak mengandung unsur riba. Allah SWT berfirman: "Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba"(QS Al Baqarah 275).
  9. Asas membantu dalam kebaikan.Allah berfirman :"Tolong menolonglah atas kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong atas dosa dan permusuhan" (QS Al Maidah 2).
  10. menjunjung tinggi kesepakatan, seperti dijelaskan dalam al-Quran surah al-Maidah 1 : "Hai orang-orang beriman, penuhilah aqad-aqad itu".Rasulullah juga menegaskan: "Umat Islam terikat dengan persyaratan mereka"(H.R. Abu Dawud)

Ibnu Abidin (1252 H.), seorang ulama Hanafi, dalam bukunya "Raddul Mukhtar" pernah menyinggung masalah asuransi maritim yang saat populer dengan istilah "saukara". Ia menegaskan "Tidak halal bagi seorang pedagang yang mengambil ganti hartanya yang rusak, karena ini termasuk membebani tanggungan dengan tanpa alasan yang kuat".

Banyak fatwa-fatwa ulama yang mengatakan haram asuransi konvensional ini, seperti fatwa ulama Azhar, Mesir Januari 1919 dan Desember 1925, fatwa Konferensi Ekonomi Islam pertama tahun 1976 di Mekah dan Fatwa Majma' Fiqh, Jeddah tahun 1985.

Sejalan mulai dikembangkannya sistem ekonomi Islam modern, dicarilah alternatif pengganti asuransi konvensional dengan asuransi "takaful" dan "ta'awun". Model asuransi ini lebih dekat kepada prinsip-prinsip Islam dan sesuai dengan makna dari kata "ta'awun" itu sendiri asuransi ini didasarkan kepada asas saling membantu dan saling menolong, seperti diperintahkan ayat al-Qur'an "Bertolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan" (al-Maidah:2). Asuransi takaful juga merupakan pengembangan dari konsep "qardul hasan" (mengembalikan pinjaman lebih dengan ihlas dan niyat sedekah), yang diaanjurkan dalam agama. Dalam sebuah hadist Jabir bin Abdullah berkata "Rasulullah s.a.w. pernah berhutang kepadaku, lalu beliau mengembalikannya dengan tambahan"(H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad). Dalam hadist lain Rasulullah juga bersabda "Sebaik-baik kalian adalah yang mengembalikan dengan kelebihan" (H.R. Ahamd dll.), maksudnya dengan ikhlas dan sukarela.

Pola kerja asuransi ta'awun : perusahaan asuransi bertindak memfasilitasi dana yang disetorkan atau dipinjamkan oleh para peserta asuransi, secara sukarela dan menyalurkan kepada para peserta asuransi yang terkena musibah, baik kematian, kerusakan barang atau musibah lainnya. Asuransi ini tidak berorientasi komersial, namun lebih kepada orientasi sosial.

Fatwa Mu'tamar ulama Islam sedunia kedua tahun 1965 di Kairo, Fatwa Mu'tamar Ulama Sedunia ke tujuh tahun 1972, Fatwa Majma'ul Foqh, Makkah tahun 1978 dan Fatwa Majma' Fiqh, Jeddah tahun 1985 menyatakan boleh model asuransi seperti ini.

Beberapa perusahaan dan lembaga komersial yang menerapkan syariah saat ini sudah mulai banyak yang menawarkan asuransi takaful ini, sebagai alternatif pasar untuk asuransi konvensional untuk menghindarkan diri pada traksaksi yang dilarang agama.

Wallahu a`lam. Semoga membantu.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Muhammad Niam

Sumber :
1. Al-Fihqul Islami : Wahbah Zuhaily
2. Fatawa Azhariyah
3. Sumber-sumber lainya.