Antara Ibu Kandung dan Suami

Tanya:

Saya mempunyai persoalan antara ibu kandung saya dan suami. Saya ingin tahu sejauh mana kekuasaan suami terhadap istrinya dalam Islam. Setahu saya, wanita yang sudah menikah adalah milik suaminya. Tetapi apakah berarti bisa putus bakti si istri terhadap ibu kandungnya (dan saudara kandungnya) selama suami tidak mengizinkan?

Satu lagi, saya wanita bekerja, apakah bisa saya membagi sebagian kecil penghasilan saya ke ibu atau saudara saya yang membutuhkan tanpa setahu suami saya. Sepintas saya pernah dengar ceramah di SCTV, kalau dari hasil sendiri boleh saja.

Saya ingin tahu jelasnya.
Terima kasih.

Diah Mardiati – Tangerang

Jawab:

Antara suami dan ibu kandung, sebenarnya, kedudukannya tidak bisa dipertentangkan. Artinya, jalur ketaatan kita pada suami, berbeda dengan jalur ketaatan kita pada ibu; ketaatan kita pada suami ada porsinya tersendiri, demikian pula kepada ibu. Jadi tidak bisa dipertentangkan, dan tak bisa dicampuraduk.

Bila sampai terjadi, maka akan terjadi kedzaliman (menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya): taat pada suami sampai melalaikan ketaatan kita pada ibu, atau sebaliknya. Kalau terjadi perbedaan pendapat, misalnya, antara suami dan ibu kandung dalam satu persoalan keluarga, maka Anda harus bisa memilah-milah mana persoalan yang menjadi otonomi keluarga Anda (antara suami dan Anda), dan mana persoalan yang sekiranya Ibu Anda mempunyai wewenang untuk ikut campur.

Bila, misalnya, ibu Anda meminta Anda tidak menuruti suatu permintaan suami, ini berarti ibu Anda sudah melanggar kewenangannya (sebagai ibu). Sebaliknya, bila suami Anda meminta Anda jangan mengirim uang penghasilan Anda sendiri pada ibu (padahal beliau membutuhkan), ini juga pelanggaran wewenang.

Jika menghadapi kasus-kasus seperti itu, Anda harus pandai-pandai mengambil kebijakan: mana yang harus Anda lakukan, sehingga bisa menjaga kemaslahatan seluruh keluarga. Kuncinya adalah kemaslahatan.

Di sini ada satu kaidah penting: "laa thaa'ata li makhluuqin fii ma'shiatil khaaliq" ([siapapun] tak boleh menaati perintah sesamanya untuk melakukan maksiat pada Tuhan). Jadi, misalnya, bila sampai suatu saat suami Anda meminta Anda untuk melanggar hak-hak ibu Anda, maka Anda harus tidak menuruti perintah itu. Karena perintah itu menjerumuskan Anda pada kemaksiatan. Demikian pula sebaliknya, bila datang perintah dari ibu Anda untuk membangkang pada suami, jangan sampai Anda turuti. Anda harus bijak, tegas, dan adil, untuk meluruskan perintah itu. Tentu, penolakan Anda itu harus dengan sikap yang sopan dan santun.

Lihat juga "Tanya Jawab(135) Keharmonisan rumah tangga".

***
Mengenai gaji atau pemasukan hasil kerja Anda sendiri, itu betul menjadi hak Anda. Anda berhak menyisihkan sebagian penghasilan Anda itu untuk ibu dan saudara-saudara Anda. Tapi hal ini tentu jangan sampai mengesampingkan hak-hak keluarga, terutama putra-putri Anda yang juga membutuhkan biaya sekolah, dll. Karena bila suami Anda sudah bekerja kemudian Anda juga ikut bekerja, maka untuk adilnya baik Anda dan suami harus memperhatikan kesejahteraan finansial keluarga. Baru, setelah itu jika ada kelebihan rizki Anda boleh menyalurkannya untuk ibu dan saudara-saudara Anda (walau tanpa sepengetahuan suami, tak apa-apa).

Demikian, wallaahu a'lam.

Arif Hidayat