Antara Istihadhah dan Haid

Assalamu'alaikum Wr,Wb,.

Bapak dan ibu pengasuh pesantren Virtual yang di mulyakan Allah. Saya ingin bertanya mengenai darah haid yang tidak berhenti-hentinya keluar.

Pada tanggal 17-11-2000 saya mendapatkan obat Exluton (anti-consepsi) dari dokter, saya dianjurkan minum pil ini karna saya masih menyusui seorang putra yang berusia 18 bulan. Selama saya menyusui saya hampir tidak pernah haid, mungkin dua atau tiga kali saja. Setelah minum pil tersebut, sudah kurang lebih 21 hari saya haid terus, sekali berhenti kemudian esok harinya keluar lagi. Adapun effect sampingan pil tersebut, pendarahan akan sering keluar tidak beraturan pada bulan-bulan pertama. Karna saya tidak sabar ingin solat dan puasa, pada hari ke 15 saya bersuci kemudian solat dan puasa padahal darah tetap keluar. Memang sifat dan warna darah, lain dengan darah haid, warnanya merah muda dan tidak busuk baunya.

Pertanyaan saya:
Apakah ini yang dinamakan darah istihadhah? Bolehkah saya solat dan puasa setelah 15 hari haid? padahal darah masih keluar. Kalau dibolehkan solat, Batalkah solat apabila sewaktu solat ada terasa cairan yang keluar?

Demikian pertanyaan saya, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

Wassalam

Ibu Ani S.

Jawab:

Bu Ani, sebelum saya menjawab masalah yang Ibu tanyakan, ada baiknya kita perhatikan perbedaan darah haid dan darah istihadhah (darah yang keluar karena penyakit). Sifat-sifat darah haid adalah warnanya hitam, baunya busuk, dan waktu keluarnya terasa sakit. Masa keluarnya, paling sedikit sehari semalam, biasanya 6 sampai 7 hari, dan paling lama 15 hari. Kalau keluarnya darah kurang dari sehari semalam (masa minimal haid) atau melebihi 15 hari (masa maksimal haid), maka darah yang keluar itu adalah darah istihadhah, karena adanya penyakit.

Melihat keterangan yang Ibu berikan, keluarnya darah mencapai kurang lebih 21 hari, warnanya merah muda, dan tidak busuk baunya, maka jelas darah yang keluar itu –setidaknya yang melebihi 15 hari– adalah darah istihadhah. Setelah 15 hari dari masa haid, maka Ibu wajib mandi, melakukan salat dan puasa. Termasuk ibadah-ibadah yang lain, seperti thawaf (waktu haji atau umrah), memegang al-Qur'an, membacanya, masuk masjid, i'tikaf, dll. Termasuk juga senggama dengan suami.

Tapi, seandainya sebelum 15 hari (sejak keluarnya darah) darah yang keluar sudah tidak berupa darah haid? Dalam kasus seperti ini, yang penting Ibu ketahui adalah jadwal rutinitas haid. Misalnya, jika kebiasaan haid itu hanya 7 hari sejak awal bulan, lantas setelah 7 hari itu darah telah berubah (dari sifat-sifat darah haid) maka sejak saat itu Ibu kena kewajiban-kewajiban sebagaimana orang yang suci (puasa, salat, boleh membaca al-Qur'an, i'tikaf, dll). Namun, seandainya saja setelah 7 hari darah masih saja seperti darah haid, maka setatus Ibu masih tetap sebagai orang yang haid, sampai darah yang keluar benar-benar berubah dari darah haid (maksimal 15 hari sejak awal haid).

Yang perlu diingat lagi adalah kapan Ibu menelan pil itu, sehingga mengakibatkan keluarnya darah yang tak beraturan tersebut. Jika saat menelan itu di luar jadwal haid, dan ternyata memang darahnya tidak berupa darah haid, maka itu darah istihadhah. Tapi, jika darah itu darah haid, walaupun di luar kebiasaan masa haid, ada kemungkinan itu memang darah haid. Apalagi, seperti yang Ibu ceritakan, Ibu jarang mengalami haid selama menyusui. Karena pada dasarnya, darah istihadhah itu tidak akan berubah (dihukumi) menjadi darah haid, kecuali terpenuhinya 3 syarat berikut: (1) perempuan itu bisa membedakan mana darah haid mana darah istihadhah; (2) berubahnya sifat darah istihadhah ke darah haid; dan (3) melewati masa 15 hari.

***
Perempuan yang istihadhah dihukumi sebagaimana orang yang suci, sebagaimana yang pernah dikatakan Nabi kepada Fatimah Binti Abi Hubaisy –yang ketika itu dia sedang istihadhah– "Jika darah yang keluar adalah hitam, seperti yang sudah dikenal, darah itu adalah darah haid, maka janganlah kamu melakukan salat. Jika tidak seperti itu (artinya warna darah tidak hitam) maka itu adalah darah istihadhah. Maka berwudhulah dan lakukanlah salat."

Kesimpulannya, begitu Ibu merasa yakin darah haid telah berhenti (di saat masih keluar darah, namun sudah berubah menajdi darah istihadhah) segeralah Ibu mandi (basah). Cukup sekali itu saja, sebagai syarat bersuci dari haid, untuk melakukan semua ibadah yang diwajibkan. Setelah itu, Ibu harus wudhu' dalam setiap waktu salat. Maksudnya, tidak boleh sekali wudhu' utntuk 2 waktu (Dhuhur dan Ashar, misalnya). Atau boleh saja Ibu menjama' salat (Dhuhur dan Ashar, atau Maghrib dan Isyak) dengan sekali wudhu'. Wudhu' satu kali boleh untuk beberapa kali salat, baik wajib (seperti salat nadzar) atau sunat, dengan syarat dalam satu waktu. Karena wudhu'nya perempuan yang istihadhah itu menjadi batal karena keluarnya waktu (misalnya, dia wudhu dalam waktu Dhuhur, maka setelah masuk Ashar, jika ingin salat lagi harus wudhu' lagi).

Kalaupun saat salat terasa ada darah yang keluar, itu tak apa-apa. Tidak membatalkan salat. Tentu itu jika keluarnya membasahi pembalut (softex), sehingga tidak menajisi pakaian.

Muhammad Rofiq Mu'allimin Ahmadi