Arti “Istitho’ah” dalam Haji

Apakah yang dimaksud dalam ‘syarat’ mampu (istitho’ah) dalam ayat tersebut adalah secara harfiah, yakni mampu secara batin dan zhohir. Dimana mampu batin adalah niat dan keinginan. Dan mampu zhohir adalah mampu materi, dalam arti memang mempunyai uang dari hasil usaha sendiri. Lalu bagaimana hukumnya untuk orang yang berhaji atas biaya yang diberikan oleh pihak lain?

Tanya Jawab [439]

Arti "Istitho’ah" dalam Haji

Assalamu’alaikum wr. wb.

Dewan pengasuh yang baik,

 Dalam surat Ali ‘Imron: 97 disebutkan bahwa ‘…..dan untuk Allah-lah atas manusia, untuk berhaji bagi siapa yang mampu mengadakan perjalanan (ke Baitullah)’.

1. Apakah yang dimaksud dalam ‘syarat’ mampu (istitho’ah) dalam ayat tersebut adalah secara harfiah, yakni mampu secara batin dan zhohir. Dimana mampu batin adalah niat dan keinginan. Dan mampu zhohir adalah mampu materi, dalam arti memang mempunyai uang dari hasil usaha sendiri. Lalu bagaimana hukumnya untuk orang yang berhaji atas biaya yang diberikan oleh pihak lain?

2. Bagaimana jika kasusnya adalah seperti ini: Saya sebagai seorang pegawai ditugaskan untuk melakukan dinas ke tanah Mekah di Bulan Haji. Program itu memang sengaja dibuat agar berdekatan dengan musim haji, dengan harapan saya bisa melakukan haji sambil melakukan tugas kantor.

Apakah saya masuk kategori mampu tersebut, dan bagaiman hukumnya merekaya program tersebut hingga saya akhirnya bisa berhaji nanti? Mohon penjelasan dan keterangan.

WasSalaam

Oki –

——–

Jawab

 ———

Assalamu’alaikum War Wab

Ayat 97 surah Ali Imran menjelaskan :"mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah" Syarat wajib haji adalah mampu "istitha’ah" (mampu ), baik secara financial, fisik maupun memenuhi keperluan perjalanan. Mampu secara finansial, artinya mampu membayar biaya perjalanan dan biaya keluarga yang ditinggalkan. Mampu secara fisik artinya tidak sakit parah dan mampu duduk di kendaraan untuk melewati perjalanan jauh.

Kemampuan perjalanan artinya mampu untuk memenuhi persyaratan perjalanan haji, seperti keperluan transportasi dan imigrasi serta kondisi perjalanan yang aman. Mampu secara financial artinya memiliki biaya tersebut dari dirinya sendiri.

Orang yang belum memiliki harta tersebut dari dirinya sendiri belum diwajibkan haji. Bahkan kalau ada orang yang memberinya uang agar berangkat haji dia tidak wajib menerimanya karena itu bukan kemampuan dari dirinya sendiri. Namun orang yang memaksakan dirinya agar bisa berangkat haji, padahal ia belum wajib dengan tanpa menimbulkan madlarat atau kerugian kepada dirinya atau orang lain, sah hajinya dan mendapatkan pahala. Ini mencerminkan kemauannya yang keras dalam memenuhi perintah Allah. Seseorang yang bisa mendapatkan pinjaman untuk membayar biaya haji, termasuk orang yang mampu, namun kemampuannya tidak sempurna. Ia belum wajib haji namun bila ia berangkat haji dengan uang pinjaman tersebut, sah hajinya dan menggugurkan kewajibannya.

Menambah ONH dengan uang pinjaman yang halal, tidak mengandung unsur riba, tidak ada larangan dalam agama dan sah saja dan tidak harus melunasi hutang tersebut sebelum berangkat haji. Bila bisa dilunasinya sebelum berangkat haji tentu lebih baik, karena dengan begitu sempurnalah istitho’ah-nya.

****

Jadi meskipun menerima biaya haji yang diberikan pihak lain tidak wajib, namun bila kesempatan tersebut ada, tentu sangat dianjurkan untuk mengambilnya, apalagi bila bantuan tersebut sifatnya tidak mengikat. Haji Saudara dengan cara tersebut hukumnya sah dan menggugurkan kewajiban meskipun biayanya tidak dari diri sendiri. Semoga bermanfaat.

Wassalam

Muhammad Niam