Batas antara Ikhlas dan Tidak Ikhlas

Assalamualaikum Wr wb, Pak Ustadz yth, Saya hanya ingin menanyakan kapankah sesuatu ucapan. tindakan dikatakann ikhlas dan kapan tidak.Misal seperti contoh-2 dibawah ini Seorang pemborong yang memberikan segepok uang kepada seorang pejabat pemerintah yang ada hubunganya dengan pembangunan daerahnya walaupun mulutnya mengatakan pemberian tersebut adalah ikhlas seikhlasnya tetapi tetap saja uang tersebut dianggap sebagai suap bukan pemberian atau hibah). Nah sekarang kalau pihak sekolah mengumpulkan orang tua murid dan lalu disampaikan rencana pembangunan sekolah tersebut yang akan menelan sekian juta maka diminta keikhlasan para orang tua murid untuk menyumbang. Apakah pemberian / sumbangan ini juga iklhlas? Dan terakir ini yang sedang saya alami sendiri. Pada saat orang ini sudah uzur ( susah asakit-sakitan dan sudajh tidak puasa lagi) saya menjawab 'ya ', kepada permintaan maafnya. Dan diapun tidak menyebut secara spesifik tindakan mana yang dimintakan maaf sedangkan saya sendiri menjawab 'ya' lebih karena alasan etiket saja.( karena dikemukakan dimuka beberapa orang lain). Padahal dalam hati saya masih mendongkol oleh karena tindakan-tindakan nya dimasa lampau. Bahkan ketika ziarah kemakamnya awal puasa beberapa hari yll, dalam hati saya mengatakan bahwa saya ziarah ini hanya karena kewajiban sebagai manusia tertapi saya masih belum bisa memaafkan tindakannya dimasa lampau yang akibatnya buruknya masih saya dan anak saya rasakan sampai sekarang. Mohon petunjuk apakah tindakan saya tadi dapat dikatakan kejam atau kurang adab ataukah sah sah saja. Terimakasih. salam, Harnadi Hidajat – Bandung ——- Jawab ——- Pak Harnadi, Ikhlas itu ada dua macam. Pertama, mengerjakan suatu amal hanya karena Allah, dg arti ingin mendapat ganjaran dari Allah. Kedua, mengerjakan suatu amal hanya karena Allah, dg arti semata-mata karena itu perintah Allah. Terserah Allah mau mengganjar atau tidak, yg penting dia mengerjakan amal itu berdasar perintahNYA. Ikhlas yg terakhir ini adalah ikhlas yg lebih tinggi levelnya. Apakah seseorang itu melakukan suatu amal/pekerjaan dengan ikhlas atau tidak, secara hakikat, yg tahu hanya dia dan Allah saja. Orang lain hanya mengetahui indikasi-indikasinya saja. Nah, karena ikhlas atau tulus itu sesuatu yg baik, dg sendirinya watak ini akan kontra dg amal/perbuatan yg tidak baik. Spt kasus yg Bapak sebut pertama, itu jelas perbuatan yg tidak baik. Pemberian itu sangat patut dituduh sbg suap. Terlepas apakah si pemborong itu menyatakan ikhlas atau tidak, kita harus memprotes tindakan itu. Apalagi proyek yg akan dijalankan seorang pemborong itu berhubungan dg kemaslahatan banyak orang. Dengan demikian tak ada perbuatan jelek yg bisa dianggap ikhlas. Berbeda dg kasus yg kedua, jelas yg ada di situ adalah unsur kebaikan. Dan apakah ikhlas atau tidak, hanya si penyumbang dan Allah sajalah yg tahu. Kita tidak bisa menuduh sumbangan si A kurang atau tidak ikhlas. Dalam hal ini, kita harus melihat lahirnya saja. Dia mau menyumbang dg baik-baik, yg kita terima dg baik. Wong sekolah itu juga utk kemaslahatan anak-anak mereka. Lalu mengenai kasus Bapak sendiri, menurut saya, memang itu kurang baik. Tidak kejam, karena tidak ada kaitannya dg fisik. Rasulullah mengajarkan agar kita jangan memaki orang yg sudah meninggal. Sejelek-jeleknya orang tsb, sebaiknya kita memintakan ampunan pada Allah. Dalam hal ini kita diajarkan untuk memaafkan orang lain, khususnya orang yg sudah meninggal, yg semua tindakan baik-buruknya sudah berhenti, dan segera menghadapi persidangan di alam kubur. Hendaknya kita membantu dia dg mendoakannya, memaafkannya dan jangan malah memaki. Sifat pemaaf itu sangat dianjurkan oleh agama. Apalagi dia sempat meminta maaf pada Bapak. Dan lagi, sudah pasti tak adak ruginya kita memaafkan kesalahan orang lain. Justru kita sendiri yg rugi, jika tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain. Karena hati kita merasakan gundah dan resah. Arif Hidayat