Bekerja Dengan Makhluk Lain (Jin)

ama saya Syaiful Bahri dari Salatiga. Apa hukumnya bekerja sama dengan makhluk lain di luar manusia (jin/iblis). Seperti halnya ilmu kesaktian. yang kebetulan banyak terdapat di daerah saya. Mohon penjelasan penjelasannya.

Tanya:
Nama saya Syaiful Bahri dari Salatiga. Apa hukumnya bekerja sama dengan makhluk lain di luar manusia (jin/iblis). Seperti halnya ilmu kesaktian. yang kebetulan banyak terdapat di daerah saya. Mohon penjelasan penjelasannya.

Terimakasih sebelumnya.

Syaiful
Salatiga

Jawab:
Saudara Syaiful Bahri yang baik, mengenai jin dan iblis (syetan), jenis yang kedua ini sudah dimaklumi bersama bahwa al-Qur’an dan hadis sarat dengan pengutukan terhadap makhluk syetan atau iblis ini. Iblis dan syetan adalah musuh bebuyutan umat manusia sejak sebelum penciptaan manusia itu sendiri. Itu sesuai ikrar iblis sendiri, untuk selalu menghalang-halangi umat manusia dari jalan yang lurus. Lihat misalnya dialog Tuhan dengan iblis pada QS. 7. al-A’raf ayat 11-27. Ayat-ayat itu tiada lain hanya menandaskan tertutupnya peluang kerjasama dalam bentuk apa saja dan bidang apa saja dengan makhluk iblis atau syetan.

Adapun mengenai jin, saudara perlu merujuk QS 72. al-Jin ayat 1-19. Pada ayat-ayat itu terdapat keterangan lebih lengkap mengenai apa yang saudara tanyakan. Mulai dari bahwa jin itu adalah makluk yang memeluk islam sebagai agama seperti umat manusia. Diantara mereka ada yang saleh, komitmen dengan ajaran Islam ada juga yang sesat dan kafir. Mengenai kemungkinan mengadakan kerja sama dengan mkhluk jin, saudara sebaiknya merujuk pada QS 5. al-Maidah ayat 2 yang menyebutkan secara eksplisit perlunya tolong menolong dalam hal-hal kebaikan dan tidak saling menolong dalam hal kejahatan. Ayat 2 surah al-Maidah tadi tentu suatu aturan yang berlaku pada umat islam yang mencakup jin dan manusia. Kendati demikian -seperti yang tadi kami singgung makhluk jin ada yang saleh dan komitmen dengan ajaran Islam ada juga kafir seperti halnya umat manusia. Kalau sekiranya kita sudah meyakini bahwa jin yang kita ajak kerjasama adalah jin yang patuh pada ajaran maka perlu lagi melihat bentuk dan fisik bantuan itu. Katakanlah misalnya ilmu kesaktian. Maksud kami apakah kesaktian itu betul-betul bersumber dari ajaran Islam murni. Sebagai contoh, jin itu mengajarkan kesaktian dengan bacaan-bacaan al-Qur’an maka itu suatu kebolehan seperti halnya Nabi menganjurkan untuk selalu membaca al-Qur’an agar terhindar dari segala bentuk cobaan. Islam sendiri menghimbau agar selalu membaca surah al-Falaq dan surah al-Nas ketika mau tidur.

Wallahu a’lam bissawab.

Abd Rauf Amin
Dewan Asaatidz Pesantren Virtual