Bepergian di Bulan Ramadhan

——- Tanya ——-

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustadz yth, Orang-orang yang dalam perjalanan jauh dan memberatkan diperbolehkan berbuka (tidak berpuasa) dan menggantikannya di bulan lain (secepatnya setelah usai Ramadhan). Pertanyaan saya : Apabila perjalanan jauh itu bertujuan untuk merayakan Idul Fitri (Lebaran) di kampung halaman, atau perjalanan Umrah ke tanah Suci, mana yang paling baik dalam pandangan Syariat, meneruskan berpuasa atau mebatalkan puasa? Terima kasih dan Wassalamu'alaikum wr wb Ade JD (021-5236085)

——— Jawab ———

Assalamu'alaikum wr. wb. Orang yang bepergian di bulan Ramadhan mendapatkan keringanan boleh tidak puasa, seperti dijelaska al-Qur'an surah al-Baqarah:185 ""Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka boleh ia mengganti puasa di hari-hari lain" Rasulullah s.a.w. suatu hari bepergian bersama para sahabatnya pada waktu penaklukan kota Makkah. Mereka berpuasa hingga sampai wilayah Kurra' Ghamim, lalu seorang sahabat mengadu kepada beliau, bahwa sebagian sahabat sangat menderita dengan berpuasa, namun mereka masih menunggu perintah beliau, lalu Rasulullah memerintahkan agar didatangkan air dan beliau meminumnya selepas Asar. Para sahabat melihat apa yang beliau lakukan, sebagian ikut minum dan sebagian tetap berpuasa. Ketika berita itu sampai kepada beliau, beliau mencela mereka yang tetap berpuasa bahwa mereka telah durhaka" (H.R. Muslim dll). Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda "Puasa dalam perjalanan tidak mendapatkan pahala" (H.R. Bukhari Muslim).

Para ulama berbeda pendapat mana yang lebih utama antara puasa atau tidak dalam perjalanan? Hanafi dan Syafi'i mengatakan puasa lebih utama dengan berpegang pada ayat di atas. Hanbali mengatakan sunnah tidak puasa dan makruh berpuasa dengan berpegang kepada kedua hadist di atas. Maliki mengatakan mubah, sama hukumnya antara meninggalkan atau berpuasa. Ketentuan perjalanan yang memperbolehkan meninggalkan puasa :

1. Perjalanan yang diperbolehkan jama' dan qashar shaat, yaitu sekitar 89 km.

2. Tidak bagi orang yang hidupnya dalam perjalanan, misalnya sopir atau pilot dan nakoda kapal. Mereka tidak diperbolehkan meninggalkan puasa sebab perjalanan sudah menjadi kehidupannya, terkecuali bila dalam keadaan terpaksa.

3. Perjalanan yang halal, atau sunnah. Perjalanan yang dilarang agama, misalnya untuk mendatangi kemaksiatan, tidak dibolehkan meninggalkan puasa. Madzhab Hanafi tidak memasukkan persyaratan ini. Mereka yang meninggalkan puasa karena bepergian wajib meng-qadla puasa yang ditinggalkannya di hari lain di luar bulan Ramadhan. Perjalanan Umrah atau pulang mudik sama-sama halal, maka boleh tidak berpuasa asalkan sesuai ketentuan di atas.

Wassalam

Muhammad Niam