Bermakmum pada orang yang berbeda madzhab

Tanya:

Ada yang ingin saya tanyakan pada Ustadz.
Teman (putri) saya penganut madzab Imam Syafi'i, insyaallah akan nikah dengan laki-laki muslim yang bermadzabkan Imam Maliky. Dia bertanya pada saya, nanti kalau jemaah salat berdua gimana? Sedangkan sebagian ulama Syafi'iah berpendapat berjamaah dengan imam yang tidak bermadzab imam syafii, tidak sah.

Nah, pendapat Ustadz ttg masalah ini bagaimana. (Saya tidak bermaksud menyalahkan Imam Madzab tertentu karena itu sangat tidak pantas, mengingat sangat minimnya ilmu fiqh saya dibanding beliau-beliau para Imam Madzab. Oleh karena itu saya sangat menghargai bila Ustadz menjelaskannya beserta dalil-dalil, quran,haidst, ataupun ijtihad ulama tersebut sendiri, sebagai referensi dan pembanding yang jelas).

Terima kasih.

Achmad Murman – Surabaya

Jawab:

Dalam kasus seperti ini, sebenarnya yang menjadi masalah adalah bukan "apakah antara imam dan makmum itu berbeda madzhab atau tidak", tapi "apakah dalam pandangan makmum si imam telah melakukan sesuatu yang membatalkan wudhu/salatnya atau tidak".

Contoh:

  1. Kita tidak boleh bermakmum pada imam yang-kita ketahui bahwa dia-berwudhu' memakai air yang bagi kita tidak bisa menyucikan hadas, walau menurutnya air itu menyucikan.
  2. Seseorang (sesuai madzhab Syafi'iyah) yang berpendapat bahwa bersentuhan dengan perempuan yang tidak mahram itu membatalkan wudhu, maka ia tak boleh bermakmum pada orang yang diketahuinya telah menyentuh perempuan (yang tidak mahram, walaupun tanpa syahwat), kendati menurutnya hal itu tidak membatalkan wudhu' (sesuai madzhab Hanafiyah, Malikiyah dan Hanbaliyah).

Kasus pertama bisa terjadi antara makmum dan imam yang sama madzhabnya. Kasus kedua itu hanya terjadi karena madzhab yang berbeda.

Jadi pada dasarnya, kita boleh saja bermakmum pada orang yang berbeda madzhab, selama kita tidak mengetahui bahwa dia telah melakukan hal-hal yang membatalkan wudhunya/salatnya. Kita tidak perlu meneliti apakah dia (imam) wudhunya batal atau tidak, tapi cukup kita pengetahuan sekilas bahwa dia belum batal wudhunya.

***
Namun perlu diketahui juga, pandangan di atas (bahwa salatnya imam harus sah sesuai pendapat-pendapat madzhabnya makmum) itu berdasar madzhab Syafi'iyah dan Hanafiyah. Sedangkan Malikiyah dan Hanbaliyah memberikan perincian sbb:

  • Bila perbedaan itu menyangkut sesuatu yang menjadi syarat-sahnya salat, maka yang menjadi pegangan adalah madzhabnya imam. Contohnya: seorang Syafi'iyah bermakmum pada orang yang bermadzhab Malikiyah yang diketahuinya telah bersentuhan dengan orang perempuan (yang tidak mahramnya). Bersentuhan dengan orang perempuan (ghair mahram) itu membatalkan wudhu menurut madzhab Syafi'iyah, sedang menurut Malikiyah tidak selama tidak diiringi dengan syahwat. Dalam kondisi seperti ini, salatnya makmum dianggap sah karena persoalan suci dari hadas itu termasuk syarat-sahnya salat.
  • Bila perbedaan itu menyangkut sahnya bermakmum, maka yang menjadi pegangan adalah madzhabnya makmum. Misal: seorang Malikiyah atau Hanbaliyah tidak boleh bermakmum pada orang Syafi'iyah yang sedang salat sunat. Karena menurut Malikiyah dan Hanbaliyah, salah satu syarat sahnya salat berjama'ah adalah bahwa antara imam dan makmum salatnya harus sama jenisnya. Bila seseorang bermakmum pada orang yang sedang melakukan salat sunat maka salatnya makmum bata.

Demikian wallaahua'lam.

Arif Hidayat