Bulan Keimanan dan Ketakwaan

Allah SWT berfriman : ” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa “. (QS:2:183) Pelajaran yang sangat menarik dari ayat ini adalah : Pertama, bahwa yang dipanggil oleh Allah untuk melaksanakan ibadah puasa adalah orang-orang yang mempunyai kwalitas keimanan. Mengapa? Allah SWT berfriman : ” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa “. (QS:2:183) Pelajaran yang sangat menarik dari ayat ini adalah : Pertama, bahwa yang dipanggil oleh Allah untuk melaksanakan ibadah puasa adalah orang-orang yang mempunyai kwalitas keimanan. Mengapa? (i) Karena tanpa iman segala perbuatan apapun akan menjadi sia-sia di sisi Allah SWT. Kita simak bagaimana Allah mengumpamakan perbuatan orang-orang kafir dengan fatamorgana :” Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana, di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapakan susutau apapun ” (QS:24:39). Di sini nampak bahwa sebuah perbuatan tanpa iman akan menjadi semata bayang-bayang, yang nampak seakan menjanjikan apa yang diharapkan, tetapi pada hakekatnya ia tiada ada artinya di sisi Allah SWT. (ii) Bahwa sebuah tugas akan berjalan jika manusianya secara psikologis menerima tugas tersebut dengan lapang dada. Dan puasa adalah tugas yang menuntut hadirnya keimanan, sehingga ia menjadi ibadah yang benar-benar mencerminkan makna ketaatan kepada yang menugasinya. Karena itulah Allah SWT memanggil – dalam ayat tersebut – dengan ungkapan ” Hai orang-orang yang beriman “. (iii) Sebab hanya Allah-lah yang akan memberikan pahala terhadap perbuatan baik sang hamba termasuk puasa. Dan untuk itu diperlukan kartu keimanan. Karena dari kartu itulah puasa sesorang menjadi sah dan berhak mendapatkan balasan yang setimpal. Lain halnya dengan puasa orang kafir, yang tujuannya tidak kepada Allah. Maka bagaimana mungkin Allah akan memberikan pahala kepadanya. Karenanya yang Allah panggil bukan orang kafir melainkan orang-orang yang beriman. Kedua: Makna puasa yang diwajibkan kepada orang-orang yang beriman adalah menahan diri dari lapar, dari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Nampak dari segi menahan laparnya saja sangat mudah, tetapi ketika sikap puasa tersebut dikaitkan dengan keimanan, ia akan menjadi sangat bermakna. Rasulullah SAW bersabda : ” Barang siapa yang berpuasa ( pada bulan Ramdlan ) dengan penuh keimanan dan pengharapan atasa ridla Allah, ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat ” (HR. Bukhari-Muslim). Karenanya kamudian orang-orang yang berpuasa bagi Allah sangat mendapatkan keistimewaan : (i) Allah akan memberikan pahala khusus bagi mereka yang berpuasa. Rasulullah bersabda dalam hadits Qudsi, Allah berfriman : ” Semua amalan anak adam milknya, kecuali puasa, ia adalah milikKu, dan Akulah yang akan memberikan pahala terhadap puasa tersebut ” (HR. Bukhari Muslim). (ii) Puasa ini akan menjadi pelindung dari api neraka. Dalam sebuah Rasulullah bersabda : ” al shiyaamu junnatun ” puasa itu merupakan penghalang dari api neraka (HR. Bukhari-Muslim). (iii) Allah SWT – sebagaimana dalam sebuah hadith – akan mengkarunia dua kebagaiaan bagi yang berupasa: Kebahagiaan ketika berbuka puasa, dan kebahagaain ketika bertemu Allah dengan puasanya (HR. Bukhari-Muslim). (iv) Allah menydiakan pintu khusus di surga bagi mereka yang berpuasa. Namanya pintu al Rayyan. Tidak ada yang bisa masuk pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa (HR. Bukhari-Muslim). Ketiga: Ayat di atas menyebutkan bahwa puasa itu juga diwajibkan kepada umat-umat terdahulu. Dari persaksian ini ada beberap hal yang bisa diungkap : (i) Agungnya ajaran puasa, di mana setiap umat yang Allah utus kepada mereka para nabi, diwajibkan berpuasa. (ii) Adanya keterkaitan antara ajaran Rasulullah SAW dengan jaran para nabi sebelumnya, yang menunjukkan bahwa sumbernya adalah satu yaitu Allah SWT. (iii) Konsekwensi dari hal tersebut adalah kaharusan mengakui krasulan Muhammad SAW. Dengan tidak membedakan antara utusan Allah yang satu dengan para utusan yang lain. Keempat : Puasa adalah realisasi ketakwaan. Dalam memehami hakikat ketakwaan di sini ada beberapa hal yang harus digarisbawahi: (i) Ketakwaan berarti keimanan yang jujur kepada Allah. Sehingga ia benar-benar mengamalkan ajaran Allah di manapun berada. Dalam keramaian maupun dalam kesendirian. (ii) Sikap ekstra hati-hati dari hal-hal yang dilarang Allah. Ibarat sedang berjalan di atas jalan setapak yang penuh duri. Ia melangkah pelan-pelan supaya selamat dari tusukan duri. Demikian juga takwa, ia adalah sikap hati-hati dalam sekecil apapun langkahnya, takut kalau nanti langkahnya itu melanggar ajaran Allah. (iii) Bahwa ketika ia berusaha dengan jujur menjaga puasanya, dari hal-hal yang merusaknya, padahal ia bisa membatalkannya dengan tanpa seorang pun tahu, itu adalah bukti ketakwaan kepada Allah. Dalam hal ini Rasulullah mengjarakan : jika ada seorang mengejek atau mengajak bertengkar – sementara anda sedang puasa – katakan kepadanya : “Maaf saya sedang puasa” (HR. Bukhari Muslim) (iv) Ketika ia berusaha menjaga hatinya supaya senantiasa berdzikir kepada Allah, itu adalah takwa. (v) Ketakwaan yang demikian murni ini kemudian tercermin dalam segala dimensi hidupnya, apapun profesinya : sebagai negarawan, menteri, pedagang, pejabat, pelajar dan lain sebaginya. Sehingga seluruh prilakuknya tidak lain adalah persaksian ketaatan kepada Allah SWT. Bila setiap orang dari penduduk sebuah negeri benar-benar mengamalkan makna ketakwaan tersebut secara hakiki, niscaya Allah akan buka jalan-jalan rejeki dan akan Allah permudah jalan keluar dari berbagai krisis yang selama ini membelenggunya. Sebuah langkah alternatif yang selama ini terabaikan.