Calon Ibu Mertua Tak Merestui

Tanya:

Assalamualaikum Wr. Wb.

Begini Pak, Saya sedang menghadapi masalah serius. Saya sudah menjalin hubungan dengan seseorang, sebutlah namanya si B. Kami berniat untuk menikah bulan depan ini. Namun saya menjadi ragu-ragu, karena Ibunda B berkeras tidak mau merestui hubungan kami.

Masalahnya begini, setahun yang lalu kami berniat menikah, tetapi keluarga saya (kakak dan nenek yang merasa bertanggung jawab atas kehidupan saya, kedua orang tua saya sudah meninggal) tidak menyetujuinya, dengan alasan yang sangat dangkal, si B itu secara fisik "pendek". Namun dengan kesabaran dan pendekatan saya, mereka akhirnya menyetujui dan merestui kami.

Tetapi masalahnya kemudian, keluarga B sudah terlanjur sakit hati, terutama ibunya. Sepertinya, sampai saat ini, beliau tidak bisa memaafkan keluarga saya sehingga tidak bisa menerima saya sebagai menantunya.

Pak Kyai, yang ingin saya tanyakan, dosakah saya, durhaka-kah saya apabila saya dan B tetap meneruskan niat kami menikah, walau tanpa restu Ibu-B? Kalau kami menikah itu berarti kami menyakiti hati Ibu, durhaka-kah itu? Pak Kyai, tolonglah apa yang harus saya lakukan? Insya Allah niat kami baik, kami ingin membina keluarga yang sakinah, dan diridhoi Allah.

Benarkah bila suatu hubungan itu menghadapi rintangan /halangan, itu pertanda bahwa hubungan itu tidak di Ridhoi Allah?.

Saya dan B sama sekali tidak ada masalah, Tetapi Ibunda B, sangat keras menentang hubungan kami. Ibu B merupakan Tokoh utama dalam keluarganya, Bahkan Ayah B sepertinya, tidak punya pendirian, semua ter-sentral pada Ibu. Saya takut salah melangkah, semenjak menjalin hub.dengan B, apalagi ketika keluarga saya menolak B, saya merasa lebih dekat pada Allah.

Saya tak pernah bosan memohon agar jalan saya dimudahkan, Alhamdulliah, keluarga saya sekarang ini mendukung penuh. Tapi sungguh diluar dugaan saya bila Ibu B, begitu bersikeras menolak hub. kami, padahal dulu sebelum keluarga saya menolak B, sungguh Ibu B baik sekali pada saya.

Ibu B mengatakan pada B, bahwa saya telah mengguna-gunai B, sehingga B tetap ngotot untuk menikah dengan saya, padahal selama ini B adalah anak yang penurut. Demi Allah, tuduhan itu terasa mengada-ada, tetapi saya dan B sangat berhati-hati dalam menyikapi perkataan dan sikap Ibu, sehingga selama ini kami merasa lebih baik diam. B belum pernah membuat orang tuanya kecewa dengan tingkah laku-nya.

Bagaimana mendapatkan keyakinan bahwa B itu adalah jodoh saya ?, saya selalu shalat Tahajud, dan saya merasa tentram. Namun apabila terlintas pada pikiran saya bagaimana sikap ibunya, saya sering merasa ragu-ragu.

Saya sering mendengarkan ceramah Ibu Lutfiah sungkar, bahwa kita tidak boleh menyakiti hati ibu kita. keyakinan itu sangat membekas dihati saya.

Bagaimana Pak Kyai ?, Saya ingin segera menikah dengan B, mengingat usia kami sudah sama-sama tua (saya 29 dan B 36th). Tetapi saya takut disebut anak durhaka.

Pak Kyai, tolonglah saya, saya resah sekali, padahal saya harus cepat mengambil keputusan. Apapun jawaban Bapak, sangat saya hargai, dan tolonglah, lihat masalah ini dari sudut agama. Saya tidak mau melakukan sesuatu yang tidak diridhoi Allah. Atas Perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
EB – somewhere

Jawab:

Begini EB, sudah maklum seringkali batu sandungan bagi sepasang anak manusia yang mau membangun bahtera rumah tangga itu pada pihak orang tua. Sebenanarya ini hal yg wajar, bila orang tua itu mencampuri urusan anaknya dalam menentukan pasangan hidupnya.

Namun, sebenarnya kewajaran itu menjadi kelewat batas bila sampai terjadi pemaksaan. Hak orang tua untuk menyarankan sebaiknya begini sebaiknya begitu. Tapi keputusan akhir tetap di tangan si anak.

Bagi anak laki-laki para ulama tidak ada perbedaan, penentuan pendamping hidup menjadi otoritas sepenuhnya sang anak. Orang tua tidak bisa memaksa.

Untuk anak perempuan, ulama berbeda pendapat:
– Syafi'iyah berpendapat bahwa orang tua (bapak, selain bapak tidak boleh) boleh memaksa anak gadisnya.
– Sementara sebagian besar ulama tidak memperbolehkan orang tua memaksa anak gadisnya. Orang tua harus mendapat persetujuan anak gadisnya dalam menentukan pilihannya, berdasar hadis : "Tidak dinikahkan seorang gadis sampai ia menyetujui". Para sahabat bertanya: "Bagaimana bentuk persetujuannya". Jawab Nabi: "Diamnya adalah persetujuannya."

Syafi'iyah berpendapat demikian itupun dengan beberapa ketentuan, di antaranya:
(1) Si gadis belum dewasa [belum mandiri] dan
(2) Harus memilihkan calon suami yg sepadan (dengan si gadis) dalam hal fisik, ekonomi, dll. Hal ini dimaksudkan sekiranya si gadis bakal mencintai calon pendampingnya.

Jadi, dalam hal orang tua memilihkan jodoh tanpa seijin anak gadisnya, itu bila si gadis belum beranjak dewasa. Segalanya masih bergantung pada orang tua. Bila gadis sudah dewasa, orang tua tidak boleh mengawinkan anak gadisnya tanpa persetujuannya.

Ada sebuah riwayat, seorang gadis mengadu kepada Sayidah 'Aisyah: "Bapak saya mengawinkan saya dengan anak saudaranya dengan maksud menjaga wibawanya, namun saya tidak menyukainya." "Duduklah, tunggu sampai Rasulullah datang", jawab 'Aisyah. Lantas 'Aisyah mengabarkan ke Rasul perihal si gadis. Lantas Rasul mengundang bapak si gadis, dan memberikan kata akhir (utk memutuskan apakah dia akan hidup terus berdampingan dengan pilihan bapaknya atau tidak) pada si gadis. Gadis itu berkata pada Rasul: "Ya Rasulullah, engkau telah membatalkan apa yang diputuskan bapakku. Saya ingin agar orang-orang tahu bahwa sebenarnya para bapak itu tidak mempunyai hak untuk mencampuri urusan ini (jodoh anaknya)."

Demikian halnya dengan Al-Syaukani dan Ibnu Taimiyah, berpendapat bahwa orang tua harus meminta persetujuan anak gadisnya (yang sudah dewasa) dalam menentukan pendaping hidupnya.

Ini semua menunjukkan bahwa faktor cinta kasih merupakan tiang utama utk menegakkan bahtera rumah tangga. Dan cinta itu tidak bisa dipaksakan oleh siapapun, termasuk orang tua. Cinta-kasih tidak bisa dikaitkan dengan persoalan durhaka pada orang tua. Jika orang tua sakit hati semata karena tidak cocok dengan pilihan anaknya, ini bukan dosa si anak.

Sekarang, bila Anda telah benar-benar mantap dengan pilihan Anda, calon pendamping Anda juga sudah cinta betul sama Anda, pokoknya segalanya sudah siap, cobalah mencari jalan untuk mendiskusikannya kembali antara kedua pihak. Misalnya, mula-mula, kala Anda merasa tidak mampu, Anda mencari wakil yang sekiranya bisa diterima oleh kedua pihak untuk menemui ibu calon Anda itu guna mendiskusikan hal ini agar ketegangan menjadi cair kembali. Kalau perlu sampaikan minta maafnya keluarga Anda yang pernah menolak si B pada ibunya si B. Wallahua'lam bisshawaab.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Arif Hidayat