Dahulukan Orang Lain (al-Itsâr)

Salah satu sifat yang sangat dianjurkan oleh Islam adalah mendahulukan orang lain dari pada diri sendiri. Sifat ini dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan al-Itsâr yang berarti; bahwa seseorang mendermakan sesuatu yang sangat berharga kepada orang lain sedangkan ia juga membutuhkan sesuatu tersebut, seperti orang yang memberikan makanan yang dimiliki satu-satunya kepada orang lain sementara ia pun sesungguhnya lapar.
 
Rasulullah Saw adalah teladan yang terbaik dalam hal al-Itsâr ini, sebagaimana yang pernah dituturkan oleh Aisyah RA, bahwa Rasulullah Saw tidak pernah merasakan kenyang selama tiga hari berturut-turut sampai beliau wafat, padahal jika beliau mau, niscaya bisa saja ia selalu kenyang. Akan tetapi beliau lebih sering mendahulukan orang lain dari pada dirinya. Lebih-lebih sifat baik ini beliau tampakkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana digambarkan dalam hadits, bahwa kebaikan Rasulullah Saw pada bulan puasa melebihi kebaikan angin yang bertiup (HR. Bukhari Muslim).
 
Jiwa memberi dan ingin berbagi kepada orang lain itu begitu tertanam dalam diri Rasulullah Saw, sekalipun sesungguhnya sudah tidak ada lagi sesuatu yang dapat beliau berikan. Berbagai cara akan beliau lakukan untuk sekedar dapat menutupi kebutuhan orang lain tersebut.
 
Terdapat satu kisah yang menceritakan tentang seseorang datang bertamu kepada Rasulullah Saw dalam keadaan yang perlu dibantu. Rasulullah berkeinginan sekali untuk menjamunya sebagai tamu. Lalu beliau bertanya kepada istrinya, akan adakah makanan yang dapat dihidangkan kepada tamunya tersebut. Ternyata di rumah Rasulullah Saw sudah tidak ada lagi makanan yang dapat disuguhkan. Melihat kenyataan tersebut, Rasulullah Saw lalu menawarkan kepada para sahabatnya, akankah ada gerangan yang mau menerimanya sebagai tamu satu malam saja. Lalu salah seorang sahabat dari kaum Anshar menyanggupi. Dan ketika sang tamu sudah berada di rumah sahabat, sang istri menyampaikan kepada sang sahabat, bahwa yang mereka miliki saat itu hanyalah makanan terakhir untuk bayi mereka. Lalu karena hati sang sahabat ingin sekali menjamu tamu Rasulullah tersebut, maka beliau merencanakan bersama istrinya agar pada saat makan malam, mereka menyuruh anak bayinya untuk lebih dahulu tidur, lampu-lampu dimatikan, dan di meja makan telah mereka sediakan tiga piring untuk mereka bertiga. Karena gelapnya rumah, mereka berlaku seolah-olah tengah menyantap makanan bersama. Padahal yang mereka sediakan adalah makanan bayi yang hanya cukup untuk tamu tersebut. Lalu tamu itu tidur dengan nyenyak, sementara sang sahabat dan istrinya tidur dengan penuh kebanggaan, sekalipun mereka masih dalam keadaan lapar.
 
Keesokan harinya, sang sahabat itu menemui Rasulullah Saw, namun Rasulullah Saw atas wahyu dari Malaikat Jibril menyampaikan kepada sang sahabat, bahwa sesungguhnya Allah Swt sangat takjub dengan apa yang mereka lakukan semalam dengan tamunya. Sungguh sikap yang ditampakkan oleh sahabat Nabi tersebut begitu menakjubkan, sehingga Allah Swt pun memujinya sebagai sebuah sikap yang maha luhur. Itulah sikap al-Itsâr yang diteladankan oleh umat Islam terdahulu yang barangkali saat ini sudah hampir terkikis.
 
Bahkan diriwayatkan bahwa Nabi Musa AS pernah iri kepada derajat yang dimiliki oleh umat Muhammad Saw, sampai-sampai Nabi Musa pun meminta kepada Allah Swt, agar ditampakkan apa rahasia dibalik ketinggian derajat yang tidak mampu diraih oleh para pengikutnya dan orang-orang sebelumnya. Lalu Allah Swt membuka tabir langit kepada Nabi Musa AS, di sana terdapat cahaya yang begitu terang dan begitu dekat dengan Allah Swt, sehingga Musa AS pun tidak sanggup untuk mendekatinya. Lalu Nabi Musa bertanya, apakah gerangan yang dapat menghantarkan umat Muhammad Saw untuk sampai pada derajat seperti ini. Allah Swt berkata, bahwa ada satu sifat yang aku khususkan bersemayam diantara umat Muhammad yang tidak dimiliki oleh umat-umat lainnya, yaitu al-Itsâr. Sehingga sekali saja mereka mengamalkan sifat tersebut di dunia, aku merasa malu untuk menghisab amal-amalnya, maka Aku persilakan saja mereka masuk ke syurga-Ku dari pintu yang mereka mau.
 
Demikianlah dahsyatnya sifat mendahulukan orang lain tersebut dalam Islam, betapa orang lain adalah diri kita sendiri yang juga harus kita penuhi kebutuhannya. Bukankah puasa memiliki pesan yang sama, yaitu agar kita dapat merasakan apa yang orang lain rasakan, khususnya kepada mereka yang kurang beruntung secara ekonomi. Memberikan sesuatu yang sudah tidak kita perlukan kepada orang lain, atau sesuatu yang masih banyak kita miliki adalah baik. Namun memberikan orang lain satu-satunya milik kita sedangkan diri kita juga membutuhkannya adalah puncak daripada kebaikan tersebut, dan inilah yang disebut dengan al-Itsâr. Nilai puasa seharusnya dapat menggembleng kita menjadi pribadi-pribadi yang memiliki sifat al-Itsâr tersebut. Amin yâ rabbal âlamin.
Ustadz Muladi Mughni