Dosa Besar dan Ampunan Allah bila Bertaubat

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr. wb.

Ijinkan saya bercerita terlebih dahulu tentang masa lalu. Saya dibesarkan di lingkungan yang cukup menjunjung nilai-nilai Islam, mempelajari kitab-kitab kuning dan 'nyantri' di pesantren. Setelah bekerja di Jakarta, rupanya saya terbawa arus kehidupan metropolis, sehingga apa yang diharamkan oleh agama sudah pernah saya lakukan seperti: minum khamar, narkoba, ke diskotik, sampai-sampai mengunjungi tempat prostitusi (berkedok diskotik) hingga suatu kali saya terjerumus untuk melakukannya (berzina) dalam keadaan setengah sadar. Saya tentu menyesal yang teramat dalam telah terjerumus oleh ajakan syetan. Hingga saat ini, saya merahasiakan perbuatan ini kepada orang tua dan kerabat.

Sekarang saya telah berkeluarga dan hanya kepada dia (istri) saya ceritakan masa lalu yang busuk itu. Karena masa lalu seperti itu saya malu untuk bergaul/aktif di lingkungan keagamaan sehingga cenderung menutup diri.

Yang ingin saya tanyakan:

  1. Ridhakah Allah swt dengan penyesalan dan taubat saya sebelum dilaksanakan hukum rajam karena telah berzina.
  2. Selain lingkungan, pergaulan, kestabilan iman dan kekhilafan, faktor apakah yang mungkin menyebabkan saya sampai bisa terjerumus ke ladang maksiat seperti itu.
  3. Perlukah menceritakan masa lalu saya ini kepada orang tua (ibu) dan pantaskah saya menutup diri.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Santri Virtual

Jawaban:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Santri yang kami cintai,

Pintu taubat selalu terbuka kapan pun sebelum ajal tiba, bahkan untuk dosa sebesar apa pun. Dalam al-Qur'an Allah bersabda, "Sesungguhnya Allah menyukai orang yang banyak bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri" (al-Baqarah).

Saudara bisa bertaubat dengan kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan perbuatan maksiat itu serta berniat untuk tidak kembali melakukannya.

Hukum rajam baru akan ditegakkan kalau permasalahan telah diangkat ke pengadilan. Itu pun kalau terbukti dan telah ada pengakuan yang kuat serta ada pengadilan yang melaksanakannya. Bila tidak ada seperti di Indonesia, anda cukup bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya.

Saudara juga tidak sebaiknya menceritakan kepada orang tua, karena yang melarang perbuatan zina dan maksiat lainnya bukanlah orang tua anda, namun Allah swt. Anda juga tidak patut lagi untuk berpanjang-panjang menutup diri. Tiada orang yang mulia di sisi Allah, kecuali ketakwaan dan keimanannya. Dan tiada orang yang bersih di sisi Allah bila belum bertaubat. Ceritakanlah kepada Allah yang telah melarangnya dengan tulus dan akui perbuatan itu dan berjanjilah untuk tidak melakukan kembali, insya Allah dengan kesungguh-sungguhan dan niat yang tulus, taubat anda akan diterima. Lebih khusus di bulan Maghfirah, Ramadhan yang penuh pengampunan ini. Di dalamnya, tiap detik, menit dan jam, tumpahkan diri Anda dalam lautan kesungguh-sungguhan untuk selalu berserah dan meminta kepada Allah atas segala kesalahan di masa lampau, apa pun bentuk dan besar. Insya Allah, seperti yang telah dijanjikan-Nya, kita dapat terlahir suci bila memang kita bersungguh-sungguh. Amin.

Wassalam

Muhammad Niam