Etika Bertetangga

Tanya:

Saya ingin menanyakan tentang etika bertetangga di dalam Islam.

  1. Sejauh mana semestinya kita berbuat baik kepada tetangga kita? Sebab, kadang kala perbedaan "baik" dan "bodoh" sangat tipis sekali.
  2. Dalam Islam kita dilarang "su'udzon" (berprasangka buruk) terhadap sesuatu. Bagaimana menerapkan hal ini dalam kehidupan keseharian dengan pengertian yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain

Terima kasih sebelumnya

Desi

Jawab:

Saudari Desi yang baik,
Menanggapi pertanyaan pertama, ada sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah yang artinya, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia mengatakan hanya hal yang baik atau diam. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia menghormati tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia menghormati tamunya" (H.R. Muslim).

Dari hadis di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa menghormati tetangga adalah bukti iman seorang muslim kepada Allah dan hari akhir. Karena tetangga adalah orang terdekat yang berada di sekitar kita, maka ketika kita mempunyai kelebihan rezeki, hendaknya kelebihan tersebut diberikan kepada tetangga kita. Atau, bila ada kebutuhan mendesak pada tetangga maka kitalah yang pertama kali wajib menolong dan meringankan beban tersebut.

Dalam bertetangga memang ada etika dan batasan, di mana semua pihak tidak boleh berlebihan dan tetap berpegang pada ajaran agama dan norma-norma yang ada dan dianut. Artinya, jika seorang tetangga berbuat sesuatu yang kurang baik maka kita wajib mengingatkannya. Firman Allah, "Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling berwasiat (saling menasehati) dengan kebenaran dan kesabaran" (Al-'Ashr 1-3). Ayat ini memerintahkan seorang muslim untuk saling menasehati. Karena itu, saling menasehati dan tolong menolong adalah salah satu prinsip bertetangga dalam Islam. Jika ada kesalahan atau hal-hal yang merugikan atau kurang berkenan bagi salah satu pihak, wajib hukumnya menegur atau memberitahu langkah yang benar.

Prinsip dan pengertian yang sama berlaku pada konsep baik dan buruk. Keduanya harus mengacu para prinsip amar makruf nahi mungkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran).

Kedua, tentang perintah Allah untuk berbaik sangka (husnuddzon) dan larangan berburuk sangka (su'uddzon) terhadap sesama muslim. Perintah berbaik sangka bukan berarti menghilangkan kewaspadaan dan sikap hati-hati terhadap sesuatu. Dalam bersikap, kita tetap diperintahkan untuk berdoa dan berupaya melihat hal-hal realistis yang akan merugikan atau menguntungkan kita. Dengan demikian kita tetap bisa berbaik sangka kepada seseorang tanpa harus merugi karena sikap tersebut. Bukankah sikap pasrah atau tawakal kita pada Allah seusai dengan doa dan upaya yang kita lakukan? Maka dari itu, sikap su'uddzon tak perlu digali, cukup berpikir positif disertai kemampuan melihat realita dan hati-hati dalam bertindak.

Semoga bermanfaat. Wallahu A'lam.

Kuni Khoirun Nisa'