Risalah ke empat puluh lima Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani
Dimuat Rabu, 3 Mei 2000
Ia bertutur:
Ketahuilah bahwa ada dua macam manusia. Yang pertama ialah manusia yang
dikaruniai kebaikan-kebaikan duniawi. Yang kesua ialah manusia yang diuji
dengan ketentuan-Nya. Manusia yang mendapatkan kebaikan duniawi, tak bebas
dari noda dosa dan kegelapan dalam menikmati yang mereka dapatkan itu.
Manusia semacam itu bermewah-mewah dengan karunia duniawi ini. Bila
ketentuan Allah datang, yang menggelapi sekitarnya melalui aneka musibah
yangberupa penyakit, penderitaan, kesulitan hidup, sehingga ia hidup
sengsara, dan tampak seolah-olah ia tak pernah menikmati sesuatu pun. Ia
lupa akan kesenangan dan kelezatannya. Dan jika kecerahan menimpanya, maka
seolah-olah ia tak pernah mengalami musibah. Sedang jika ia mengalami
musibah, maka seolah-olah tiada kebahagiaan. Semua ini disebabkan oleh
pengabdian terhadap Tuhannya.
Nah, jika ia telah tahu bahwa Tuhannya sepenuhnya bebas bertindak
sekehendak-Nya, mengubah, memaniskan, memahitkan, memuliakan, menghinakan,
menghidupkan, mematikan, memajukan dan memundurkan - jika ia telah tahu
semua ini, maka ia tak merasa bahagia di tengah-tengah kebahagiaan duniawi
dan tak merasa bahagia di tengah-tengah kebahagiaan duniawi dan tak merasa
bangga karenanya, juga tak berputus asa akan kebahagiaan di kala duka.
Perilaku salahnya ini disebabkan juga oleh ketaktahuannya akan dunia ini,
yang sebenarnya tempat ujian, kepahitan, kejahilan, kepedihan dan kegelapan.
Jadi kehidupan duniawi itu bak pohon gaharu, yang rasa pertamanya pahit,
sedang rasa akhirnya manis seperti madu, dan tiada seorang pun dapat
merasakan manisnya, sebelum ia merasakan pahitnya. Tak seorang pun dapat
mengecap madunya, sebelum ia tabah atas kepahitannya. Maka, barangsiapa
tabah atas cobaan-cobaan duniawi, maka ia berhak mengecap rahmat-Nya.
Tentu, seorang pekerja mesti diberi upah setelah keningnya berkeringat,
tubuh dan jiwanya letih. Maka, bila orang telah mereguk semua kepahitan
ini, maka datang kepadanya makanan dan minuman lezat, busana yang bagus dan
kesenangan meski sedikit. Jadi, dunia adalah sesuatu, yang bagian
pertamanya ialah kepahitan, bagai pucuk madu di sebuah bejana yang berbaur
dengan kepahitan, sehingga si pemakan tak mungkin mencapai dasar bejana, dan
yang dimakannya hanyalah madu murninya sampai ia mengecap pucuknya.
Nah, bila hamba Allah telah berupaya keras menunaikan perintah Allah, Yang
Mahakuasa lagi Mahaagung, menjauh dari larangan-Nya, dan pasrah kepada-Nya,
maka bila ia telah mereguk kepahitannya, menahan bebannya, berupaya melawan
kehendaknya sendiri dan mencampakkan maksud-maksud pribadinya, maka Allah
mengaruniainya, sebagai hasil dari ini, kehidupan yang baik, kesenangan,
kasih-sayang dan kemuliaan. Maka menjadilah Ia walinya dan menyuapinya
persis seperti seorang bayi yang disuapi, yang tak berdaya, yang tak
berupaya keras di dunia ini dan di akhirat, yang juga seperti pemakan pucuk
pahit madu yang mengecap dengan lahapnya bagian bawah isi bejana.
Nah, patutlah bagi sang hamba yang telah dikaruniai oleh Allah, untuk tak
merasa aman dari cobaan-Nya, untuk tak merasa yakin akan kekekalannya, agar
tak lupa bersyukur atasnya. Nabi Suci saw. berkata:
"Kebahagiaan duniawi merupakan sesuatu yang ganas; maka jinakkanlah ia
dengan kebersyukuran."
Jadi, mensyukuri rahmat berarti mengakui sang Pemberinya, Yang Mahapemurah,
yaitu Allah, senantiasa mengingatnya, tak mengklaim atas-Nya, tak
mengabaikan perintah-Nya, dan diiringi dengan penunaian kewajiban
terhadap-Nya, yakni mengeluarkan zakat, membersihkan diri, bersedekah,
berkorban sebagai nazar, meringankan beban penderitaan kaum lemah dan
membantu mereka yang membutuhkan , yang mengalami kesulitan dan yang
keadaannya berubah dari baik menjadi buruk, yaitu, yang masa-masa bahagia
dan harapannya telah berubah menjadi kedukaan. Bersyukurnya anasir tubuh
atas rahmat berupa digunakannya anasir tubuh itu untuk menunaikan
perintah-perintah Allah dan mencegah diri dari hal-hal yang haram, dari
kekejian dan dosa.
Inilah cara melestarikan rahmat, mengairi tanamannya dan memacu tubuhnya
dedahanan dan dedaunannya; mempercantik buahnya, memaniskan rasanya,
memudahkan penelanannya, mengenakkan pemetikannya dan membuat rahmatnya
mewujud di seluruh organ tubuh lewat berbagai tindak kepatuhan kepada-Nya,
seperti lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan senantiasa mengingat-Nya, yang
kemudian memasukkan sang hamba, di akhirat, ke dalam kasih-sayang-Nya, Yang
Mahakuasa lagi Mahaagung, dan menganugerahinya kehidupan abadi di
taman-taman surga bersama dengan para Nabi Suci, shiddiq, syahid dan shalih
- inilah suatu kebersamaan yang indah.
Namun, jika tak berlaku begini, mencintai keindahan lahiriah kehidupan
semacam itu, asyik menikmatinya dan puas dengan gemerlapnya fatamorgananya,
yang kesemuanya bagai embusan sepoi angin dingin di pagi musim panas, dan
bagai lembutnya kulit naga dan kalajengking; dan menjadi lupa akan bisa
mautnya dan tipuannya - kesemuanya ini akan menghancurkannya - orang seperti
itu mesti diberi kabar-kabar gembira tentang penolakan, kehancuran yang
segera, kehinaan di dunia ini dan siksaan kelak dalam api neraka nan abadi.
Cobaan atas manusia - kadang berupa hukuman atas pelanggaran terhadap hukum
dan atas dosa yang telah diperbuatnya. Kadang berupa pembersihan noda, dan
kadang pula berupa pemuliaan maqam ruhani manusia, yang baginya rahmat Tuhan
semesta terkaruniakan sebelumnya, yang melalukannya dari bencana dengan
kelembutan, sebab cobaan semacam itu tak dimaksudkan untuk menghancurkan dan
mencampakkannya ke dasar neraka, tapi, dengan begini, Allah mengujinya untuk
dipilih dan mewujudkan darinya hakikat iman, mensucikannya dan bersih dari
kesyirikan, kebanggaan diri, kemunafikan, dan membuat karunia cuma-cuma,
sebagai pahala baginya, dari berbagai pengetahuan, rahasia dan nur.
Nah, bila orang ini menjadibersih ruhani dan jasmani, dan hatinya menjadi
tersucikan, berarti Ia telah memilihnya di dunia ini dan di akhirat - di
dunia ini yakni melalui hatinya, sedang di akhirat yakni melalui jasmaninya.
Maka segala bencana menjadi pencuci noda kesyirikan dan pemutus hubungan
dengan manusia, sarana duniawi dan dambaan-dambaan, dan menjadi pelebur
kesombongan, ketamakan dan harapan akan imbalan surga atas penunaian
perintah-perintah.
Cobaan yang berupa hukuman menunjukkan adanya kekurangsabaran atas
cobaab-cobaan ini, dengan mengaduh dan mengeluh kepada orang. Cobaab yang
berupa pencucian dan penyirnaan kelemahan menunjukkan maujudnya kesabaran,
ketak-mengeluhan kepada sahabat dan tetangga, penunaian perintah-perintah,
ketakengganan dan kepatuhan. Cobaan yang berupa pemuliaan maqam
menunjukkanadanya keridhaan, kedamaian dengan kehendak Allah, Tuhan bumi dan
lelangit, dan penafian diri sepenuhnya dalam cobaan ini, hingga saatberlalunya.
[]
Ikuti juga risalah-risalah ini melalui email anda, tanpa susah-susah lagi membuka web site ini. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: