FIQHUZ ZIROAH, FIKIH PERTANIAN

Annan Nabiyya Shollallohu Alaihi Wasallam suila ayyul kasbi athyabu ? qola; amalur rajuli biyadihi wa kullu baiin mabrurin (HR. Bazzar) Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW ditanya, mana profesi yang paling bagus ? beliau menjawab, pekerjaan laki-laki yang mengandalkan tangannya dan semua transaksi jual beli yang baik (HR. Bazzar) Ma akala ahadun tho’aman qottu khoiran min anya’kula min amali yadihi, wa inna nabiyyalloha Dawuda kana ya’kulu min amali yadihi (HR. Bukhari) Oleh : Jamal Mamur Asmani* Annan Nabiyya Shollallohu Alaihi Wasallam suila ayyul kasbi athyabu ? qola; amalur rajuli biyadihi wa kullu baiin mabrurin (HR. Bazzar) Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW ditanya, mana profesi yang paling bagus ? beliau menjawab, pekerjaan laki-laki yang mengandalkan tangannya dan semua transaksi jual beli yang baik (HR. Bazzar) Ma akala ahadun tho’aman qottu khoiran min anya’kula min amali yadihi, wa inna nabiyyalloha Dawuda kana ya’kulu min amali yadihi (HR. Bukhari) Seseorang tidak makan makanan yang lebih baik dari makan hasil pekerjaan tangannya, sesungguhnya Nabi Allah Dawud makan dari (hasil) pekerjaan tangannya (HR. Bukhari) Pertanian adalah sektor paling riil bangsa Indonesia. Mayoritas penduduk negeri ini berprofesi menjadi petani. Maka wajar kalau bangsa ini dijuluki agraris-tradisional. Ia menjadi sektor yang sangat menentukan nasib jutaan penduduk. Kalau kondisi pertanian mengalami kemajuan dan perkembangan, maka tingkat kesejahteraan penduduk akan naik, namun jika sebaliknya, maka mereka akan terus dalam kemiskinan dan keterbelakangan, selalu menjadi obyek eksploitatif pihak-pihak tertertu. Yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah. Pemerintah harus memproteksi segala hal yang mengarah pada revitalisasi pertanian menuju progresifitas, sesuai kaidah “tashorruful imam ala al-roiyyati manuthun bil maslahahâ€? kebijakan penguasa kepada rakyatnya harus diarahkan untuk kemaslahatan (kemajuan dan pengembangan)â€?. Sinyalemen selama ini, kebijakan pemerintah selalu pro-dunia insdustri dengan memarginalisasi sektor pertanian yang menjadi tumpuan hidup jutaan rakyat. Bagaimana agama, khususnya fiqh merespons masalah ini ? Argumen teologis Petani adalah profesi yang sangat mulia. Dua hadits diatas menunjukkan dengan jelas hal ini. Rizki hasil pertanian bisa dibilang paling halal dan suci dibanding profesi lainnya, walaupun semua dikembalikan kepada pelaku masing-masing. Coba bayangkan, pekerjaan seorang petani adalah menanam, memelihara, dan menuai. Jadi, sangat sederhana. Bandingkan dengan profesi lainnya, seperti politisi, pengusaha, pengajar, birokrat, komisaris, dll yang seringkali terjangkiti KKN. Dus, pertanian bila dilihat dari sisi moral agama menempati strata tertinggi. Ia sangat stiril dari kontestasi negatif. Imam Nawawi berkata, “sesunguhnya profesi yang paling bagus adalah apa yang dikerjakan dengan tangannya, dan kalau itu adalah pertanian, maka ia adalah sebaik-baiknya pekerjaan karena mengandung kerja tangan, penyerahan diri kepada Allah (tawakkal), dan manfaatnya umum untuk manusia, hewan, dan burungâ€? (Subul al-Salam, Juz 2:5). Produksi pertanian, utamanya beras adalah kebutuhan primer umat manusia dari semua kalangan. Sebab itulah, pertanian mempunyai multimanfaat, sesuai dengan hadits “khoirun nasi anfauhum lin nashâ€?, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Dalam khazanah fiqh, literatur pertanian masih sangat kurang, sekilas bisa dilihat pada bab ihyaul mawat, menghidupkan lahan mati (tidak ada pemiliknya yang sah). Disana diterangkan bagaimana teknis-operasional menggarap lahan (sawah), distribusi air yang adil, dan lain-lain (baca Kifayatul Akhyar, juz1:317-318). Ketimpangan Produksi pertanian yang multifungsi tersebut tidak diimbangi dengan nasib petani sendiri. Selama ini, perekonomian mereka jalan ditempat (stagnan), sering mengalami kerugian dan kebangkrutan, serta tidak tahu kemana harus melangkah. Hasil produksi tidak seimbang dengan biaya dan tenaga yang telah dikeluarkan Masalah yang selalu muncul adalah; Pertama, lemahnya akses pasar atau pemasaran dari komuditas yang dihasilkan. Dari sini petani tidak mampu mengendalikan harga. Akhirnya harga ditentukan oleh pasar (kalau barang banyak yang membutuhkan sedikit, maka harga turun, kalau barang sedikit, yang membutuhkan banyak, harga naik). Ditengah-tengah masih ada saja pihak yang memanfaatkan, yaitu para tengkulak. Kedua, ketiadaan modal. Banyak petani yang tidak mampu membiayai ongkos pengolahan lahan, sehingga harus hutang kepada orang atau instansi terkait, dan itupun tidak ada jaminan, hasil pertaniannya mampu melunasi hutang tersebut, justru yang sering adalah kerugian. Ketiga, ketergantungan pada bahan-bahan kimia semasal pupuk, obat-obatan, dll. Kempat, ketiadaan lahan. Hampir 60 % lahan pertanian dikuasai kehutanan, 30 % untuk perkebunan, dan hanya 10 % untuk rakyat. Kelima, kuatnya sikap qona’ah (menerima kenyataan), tanpa adanya rekayasa maksimal dengan usaha dan kerja sungguh-sungguh. Keenam, lemahnya organisasi petani. Di negara ini belum ada organisasi tani yang betul-betul mampu menjadi mediator, fasilitator, dan dinamisator sektor pertanian (Menjawab Kegelisahan NU, editor : Kholilul Rahman Ahmad, 2004:18-20) Dakwah partisipatif Ditengah ketimpangan ini, umat Islam harus meningkatkan dakwah sosial sebagai manifestasi solidaritas sosial khususnya pada kaum dlu’afa’ (miskin, lemah-tertindas). Dakwah sebagaimana diterangkan Syekh Ali Mahfudz dalam kitab Hidayatu al-Mustarsyidin adalah “mendorong (memotivasi) untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk (Allah), menyuruh orang mengerjakan kebaikan, melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia di dunia-akhiratâ€?. Definisi diatas menunjukkan, dakwah adalah usaha sadar yang disengaja untuk memberikan motivasi kepada orang atau kelompok yang mengacu ke arah tercapainya tujuan (KH. Sahal Mahfudz, Nuansa Fiqh Sosial, LKiS;1994:101). Untuk efektifitas dakwah dibutuhkan sinergi aktif antara motivator dan kelompok sasaran, tidak saling mendekte, tapi berproses bersama menuju kematangan, kebersamaan, dan kemajuan. Disinilah dakwah partisipatif sangat urgent. Melihat kompleksitas problem petani, usaha kontinu yang harus segera dilakukan adalah : Pertama, rekonstruksi teologis. Terminologi qona’ah harus direinterpretasi secara kontekstual. Qona’ah diartikan sebagai menerima (secara kritis) hasil yang diterima sebagai bahan koreksi dan evaluasi menuju yang lebih baik. Ada hadits yang sangat baik, kada al-faqru an yakuna kufran, kefakiran itu lebih dekat kepada kekafiran. Artinya orang miskin, apalagi di era globalisasi sekarang ini, sangat rentan terhadap eksploitasi ekonomi, politik, dan paling ironis iman. Dalam bahasa yusuf Qordlowi, islam menentang anggapan bahwa kemiskinan adalah sarana penyucian diri, yang karenanya mesti dipelihara, bahwa ia adalah keadaan yang mesti diterima apa adanya dengan sebab takdir Ilahi yang merupakan harga mati (Abdul Mun’im Saleh, Pesantren P3M, No. 2/Vol.III/1986 hl. 80). Dari sini diharapkan etos kerja petani meningkat. Kedua, memberikan modal dan ketrampilan (skill). Petani dicetak menjadi seorang entrepreneur yang handal, mampu membaca peluang dan memanfaatkannya secara maksimal. Ketiga, memberikan akses pasar sehingga mampu mengendalikan harga. Keempat, meningkatkan sumber daya manusia dengan sering mengadakan pelatihan dan pendidikan sehingga para petani tahu hak-haknya yang selama ini dikebiri oleh pemerintah dan para pebisnis kelas kakap. Dari sini akan muncul kesadaran advokasi menuntut hak demi keadilan bersama. Kelima, menghidupkan organisasi petani yang bertugas mengorganisir potensi petani, artikulasi aspirasi pada pihak-pihak yang berkepentingan, dan menjadi mediator, fasilitator, dan dinamisator bagi pemecahan problem petani dari semua aspek. Disinilah diperlukan pejuang-pejuang tangguh yang tidak kenal lelah yang selalu mendampingi dan memberdayakan pertani dengan penuh keikhlasan, bukan sebaliknya, menjadikan petani sebagai proyek yang manfaatnya untuk memperkaya diri dan kelompok, naudzubillah min zalik. *Peneliti Isfi, institut studi fiqh progresif, staf pengajar Matholi’ul Falah KAjen Pati, alumnus PP. Al-Aqobah Kwaron Diwek Jombang, Pati, 08155256279.