Diupdate terakhir: 25 September 1999
   Pesantren Virtual -> Fikih Keseharian -> Do'a Mengusir Penyakit Was-was

Do'a Mengusir Penyakit Was-was
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
Seri ke-18, Rabu, 8 September 1999


Tanya:
Saya mempunyai krenteg (keinginan) menulis surat ini setelah membaca uraian-uraian Bapak tentang salat, di mana Bapak menyinggung soal niat yang harus mantap.

Soalnya kami mempunyai ayah menderita penyakit "was-was" pada saat melaksanakan ibadah (wudu, salat, bersuci, membaca Al-Quran, dan lain-lain).

Untuk melaksanakan ibadah semacam itu, beliau memerlukan waktu yang kadang-kadang cukup lama ( 1 jam) dan hal ini membuat kami sekeluarga terganggu dan prihatin.

Keadaan ayah kami yang demikian itu sudah berjalan sejak lama sekali. Berbagai ikhtiar untuk menyembuhkan was-was beliau itu sudah ditempuh. Mulai dari konsultasi dengan alim ulama, ustadz, orang-orang yang pernah was-was, sampai ke psikiater. Namun sejauh ini beluma ada yang berhasil menyembuhkannya.

Harapan kami kepada Bapak yang lebih berpengalaman dapatlah mengikhtiarkan baik secara lahir atau mungkin kontak batin, agar ayah kami terbebas dari "penyakit" was-wasnya itu.

Putra Pertama
Semarang


Jawab:
Pertama-tama saya ikut bersimpati atas "penderitaan" yang dialami ayah Anda. "Was-was" memang cukup merepotkan dan mengganggu.

Saya sendiri, ketika di pesantren dulu, mempunyaii kawan yang menderita "was-was". Apabila berwudlu atau bersuci, wah, menghabiskan air. Selalu saja dia merasa belum sempurna membasuh anggota wudlu atau merasa belum bersih bersuci. Bila salat, takbiratul ihramnya berulang-ulang entah berapa kali; sehingga seringkali imam sudah rukuk, dia masih saja "belum berhasil" takbiratul ihram.

Dan memang, rupanya hal itu bermula dari sikap hati-hati yang berlebih-lebihan. Menurut pengakuan kawan saya itu, dia selalu merasa khawatir jangan-jangan wudlunya, misalnya tidak diterima Allah, karena ada syarat rukun-rukunnya yang kurang atau bagian anggota wudlunya yang tak terbasuh. Demikian pula bila akan salat.

Namun bisa jadi hal itu kemudian --kalau tidak justru sejak mula-- merupakan ulah setan yang memang suka menggoda manusia. Nabi sendiri kan disuruh Allah untuk memohon perlindungan dari jahatnya reridu (godaan) setan. Seperti dalam Al-Quran surah 23. Al-Mukminun: 97:


"Dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan'. "

Maka untuk Ayah Anda, saya hanya bisa menyarankan agar dalam beribadah pun mengikuti cara Nabi, yaitu tidak melebih-lebihkan, tidak njerok-njerokke. Yang wajar sajalah. Tuhan bukanlah majikan yang kejam dan nyinyir. Nabi sendiri pernah mengingatkan jika kita memperberat-berat agama, maka kita sendiri yang pasti kuwalahan ()

Untuk "ikhtiar batin"-nya, baiklah saya nukilkan dua hadis dari kumpulan "Shahih al-Kalim ath-Thayyib"-nya Syekh Islam Ibnu Taimiyyah. Ini:
  1. Nabi Saw. bersabda:


    "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari godaannya, dari tipuannya, dan bisikannya."

    Sebab Allah telah berfirman:

    "Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka berlindunglah kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS 41. Fushshilat: 36)

  2. Utsman bin Abi al-'Ash pernah mengadukan kepada Rasulullah Saw. tentang setan yang menggoda-halanginya ketika salat, dan Rasulullah Saw. pun bersabda:


  3. "Itulah setan yang bernama Khanzab; jika engkau merasakannya, mohonlah perlindungan Allah daripadanya (A'udzu billaahi minasysyaithaanir rajiim) dan meniuplah ke arah kirimu tiga kali. "Aku lalu mengamalkannya;" kata Utsman, "dan Allah pun menghilangkannya dariku." (HR Muslim)
Demikianlah mudah-mudahan ada manfaatnya.


Wallaahu A'lam.

[]
Ikuti juga risalah-risalah ini melalui email anda, tanpa susah-susah lagi membuka web site ini. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda:
  Halaman Yang Berhubungan
Fikih Keseharian Terbaru
Fikih Keseharian Selanjutnya(19)
Fikih Keseharian Sebelumnya(17)
Biografi KH.A. Mustofa Bisri