Al-Qur'an menegaskan hakikat Qurban, melalui kisah Nabi Ibrahim dan putranya
Nabi Isma'il tercinta dalam surat Al-Shafat, ayat : 102-109. Kisahnya
begini; Nabi Ibrahim berkata kapada Nabi Ismail : "Wahai anakku,
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
fikirkanlah apa pendapatmu?" Nabi Ismail menjawab seketika dengan tenang
dan penuh keyakinan : "Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan
(oleh Allah) kepadamu, kau akan mendapatkanku - insya Allah - termasuk
orang-orang yang sabar". Allah kemudian bercerita : "Tatkala keduanya
telah berserah diri (tunduk pada perintah Allah) dan Ibrahim membaringkan
anaknya (pelipsnya menimpel di atas tempat penyembelihan), Kami segera
memanggil (dari arah gunung) : wahai Ibrahim, Sudah kau benarkan (dan kau
laksanakan) apa yang kau lihat dalam mimpimu itu, sesungguhnya demikinlah
Kami memeberi balasan (kepadamu) dan juga kepada orang-orang yang berbuat
baik. Sungguh (perintah penyembelihan ini) adalah benar-benar ujian (bagi
Ibrahim, di mana dengannya terlihat dengan jelas siapa yang ikhlash dan
siapa yang tidak). Dan kami segera menebus anak (yang akan disembelih itu)
dengan seekor sembelihan yang besar. Pun Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian
yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Salam sejahtera
(dari Kami) buat Ibrahim, dan sebutan yang baik baginya (dari setiap
manusia)".
Ada beberapa hal yang sangat menarik untuk kita garis-bawahi dari kisah di
atas : Pertama, bahwa ajaran ber-qurban datangnya dari Allah SWT, sebuah
ajaran yang agung, yang membuktikan kedekatan sang hamba kepada Rab-nya,
sebuah proses pendakian yang suci menuju Allah Yang Maha Agung, Pencipta
langit dan bumi, Pemilik alam semesta dan segala isinya. Itulah mengapa
istilah yang dipakai adalah "qurban" yang maknanya bearti pendekatan.
Kedua, Apa yang biasa kita buktikan melalui kisah di atas bahwa berqurban
merupakan salah satu proses pendekatan kepada Allah SWT?
Jawabannya :
Kepribadian Nabi Ibrahim, yang demikian total menunjukkan ketaatannya
kepada Allah. Tidak terlihat dalam sikapanya sebuah keraguan, atau
keberatan. Begitu menerima perintah dari Allah untuk menyembelih anak
kesayangannya, Ismail, - anak yang ditunggu-tunggu kelahirannya sekian lama
sampai ia mencapai usia tua - Nabi Ibrahim langsung mendatangi Ismail dan
menympaikan perintah tersebut. Padahal secara psikologis Nabi Ibrahim
sungguh sangat membutuhkan seorang keuturunan. Bayangkan, di tengah
pengembaraan yang jauh, di sebuah lembah padang sahara yang kering, tanpa
pohonan dan tanaman, Nabi Ibrahim hidup. Ditambah lagi usianya yang memang
sudah sangat mebutuhkan seorang anak muda untuk menopang ketidakmampuannya.
Tapi lihatlah, totalitas penyerahan diri Nabi Ibrahim kepada Sang Pemilik
Bumi dan langit.
Kepribadian Nabi Ismail, yang benar-benar memhami keaguangan perintah
Allah. Artinya bahwa perintah itu harus segera dilaksanakan. Tidak usah
ditawar-tawar dan ditunda-tunda lagi. Seketika ia berserah diri dengan penuh
kesabaran. Sungguh ungkapan Nabi Ismail dengan panggilan "yaa abati"
mengekspresikan kecintaan nabi Ismail dan kedekatannya kepada sang ayah,
pun juga kepasrahan totalnya terhadap perintah Allah, dimana dengan ungkapan
itu tergambar dengan jelas bahwa ia tidak merasa kaget sama sekali. Melainkan
langsung menerimanya dengan lapang dada dan penuh kepasrahan.
Sikap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang tanpa banyak bicara dan diskusi
dalam menerima "isyarat" yang terlihat dalam mimpinya "ru'ya", di mana
kaduanya langsung bergerak menuju tempat penyembelihan. Nabi Ismail langsung
berbaring, meletakkan pelipisnya ke bumi. Nabi Ibrahim langsung bergerak
untuk menyembelihnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengharukan.
Dan dari peristiwa itu terlihat dengan jelas hakikat kepasrahan dan
ketaatan yang hakiki dari kedua hamba tersebut, kepada Allah, Tuhannya.
Allah seketika menyaksikan kesungguhan kedua hamba itu dalam mentaati
perintah-Nya. Allah berfirman "qad saddaqta ru'ya", kau telah membenarkan
"ru'ya" itu (wahai Ibrahim), dan kau telah melaksanakannya. Allah seketika
pula menggantikan Nabi Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. Sebab
yang paling utama dari hakikat qurban ini, adalah sejauh mana tingkat
kepasrahan sang hamba kepada Allah SWT, dan sejauh mana tingkat ketaatannya
kepada-Nya, sejauh mana tingkat ketabahannya dalam menjalani ajaran yang
telah Allah tetapkan.
Ketiga, bahwa hakikat "qurban" merupakan salah satu ujian dari Allah,
yang dengannya setiap mu'min bisa mengukur hakikat keimanannya, hakikat
ketaatannya kepada perintah Allah, hakikat kedekatannya kepada Allah.
Sungguh Allah tidak menghendaki dari apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan
Nabi Ismail, agar kita menyakiti diri kita dan melukai tubuh kita, sebagai
simbol pendakian rohani kepada Allah. Tidak, sekali-kali tidak. Melainkan
yang Allah kehendaki adalah totalitas ketaatan kita kepada-Nya, dengan penuh
keikhlasan, ketenangan, kerelaan dan keyakinan. Karenanya Allah segera menggantinya dengan seekor sembelihan.
Keempat, bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismali dengan sikapnya itu, Allah memberi
predikat sebagai seoran "muhsin" (seorang yang berbuat baik), dan siapa saja
yang mengikuti jejak nabi Ibrahim, dengan menghadiahkan seekor sembelihan
qurban, atas dorongan ketaatan kepada Allah SAW, dan keikhlasannya yang
paling dalam, ia akan termasuk kaum "muhsinin" itu.
Sungguh Allah berjanji begi mereka yang menghadiahkan kebaikan itu limpahan
pahala yang agung di sisi-Nya. Maka berbahagialah mereka yang berqurban, dan
termasuk dengan qurbannya golongan orang-orang muhsinin. ***
Ikuti materi Pesantren Virtual melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya? Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: