Bayangkan Anda sudah lama sekali kepingin mempunyai anak; kemudian
setelah hampir putus asa, Allah menganugerahi Anda seorang anak yang
luar biasa cantik. Anak itu kemudian tumbuh sebagai anak yang baik dan
pintar. Kemudian setelah menginjak remaja, tiba-tiba anak Anda itu
meninggal. Bagaimana kira-kira perasaan anda?
Allahu Akbar!
Nabi Ibrahim -'alaihis salaam- seperti diketahui, sudah lama ingin
mempunyai anak dan baru ketika sudah sangat tua Allah menganugerahi
seorang anak yang rupawan dan pintar, nabi Ismail -alaihis salaam. Dan
cerita selanjutnya Anda sudah tahu. Nabi Ismail a.s. tidak 'hanya'
meninggal, tapi sang ayah sendiri diminta untuk menyembelihnya. Anda
pasti tidak bisa membayangkannya. Bagaimana seorang ayah yang sudah lama
mendambakan anak, ketika dambaan itu akhirnya terwujud dan si anak sudah
ketok moto (di depan mata, red), disuruh menyembelih.
Bagi kacamata kita, terutama di zaman akhir ini, hal itu tentu sangat
musykil. Antara lain karena kita sudah terbiasa dengan sikap kemilikan,
suka memiliki. Jangankan yang milik kita sendiri, milik orang lain pun
sering kali kita ingin miliki atau kalau bisa kita rampas untuk kita
sayang-sayang. Dan adakah hak milik yang lebih berharga dan lebih kita
sayangi melebihi anak, belahan hati?
Tapi, Allahu Akbar! Nabi Ibrahim a.s. yang dijuluki KhalilulLah itu
sama sekali tidak merasa musykil. Karena bagi sang kekasih Allah itu,
gerak-gerik lahir maupun batinnya berawal dari Kekasih Agungnya, Allah
SWT. Ialah yang pertama dan paling utama (Bandingkan dengan kebanyakan
kita yang memposisikan Allah di paling belakang. Biasanya setelah
kepepet!). Maka bukan Ismail belahan hatinya, bukan kenangan pendambaan
dan kebahagiaannya bersama puteranya itu, bukan perintah menyembelihnya,
bukan bayangan kehilangan sesudahnya, dan bukan sesuatu apapun yang lain;
yang pertama-tama tersirat saat diperintah -seperti setiap saat- adalah
Sang Kekasih yang memerintah. Allahu Akbar!
Barangkali yang tersisa dari rasa sayang manusiawinya hanyalah yang
menampak dari pemberitahuannya kepada sang putera, "Ya bunayya, innie
aaraa fil manaami anni adzbahuka, fandhur madzaa taraa?!", "Wahai
anakku, sesungguhnya aku melihat dalam tidurku, aku menyembelihmu; maka
pertimbangkanlah, apa pendapatmu?" Dan, Bak Bapak Bak Anak, Kacang ora
tinggal lanjarane, jawaban Nabi Ismail a.s. pun menunjukkan kualitasnya
sebagai hamba Allah yang titik pandang dan pertimbangannya bermula
dari-Nya, "Ya abati if'al maa tu'mar, satajidunie insya Allahu
minash-shaabirien.", "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu; engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk orang-orang yang
tabah."
Allahu Akbar! Dua pengorbanan agung dari dua hamba Allah yang begitu
total kepasrahannya. Demi Tuhan mereka, yang satu mengikhlaskan miliknya
yang paling disayang: anaknya; yang lain mengikhlaskan nyawanya sendiri.
Maka adalah nyata apa yang mereka nyatakan, "Inna shalaatie wa nusukie
wa mahyaaya wa mamaati lillahi Rabbil 'aalamien. Laa syarieka lahu
wabidzaalika umirtu wa ana awwalul muslimien.", "Sesungguhnya salatku,
ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah milik Allah Tuhan semesta alam,
tak ada yang ikut memiliki bersamanya; dan dengan yang demikian itulah
aku diperintah dan akulah yang pertama-tama menyerahkan diri kepadaNya."
Allahu Akbar! Alangkah jauhnya teladan itu dari kita. Sekedar
mengorbankan sedikit saja dari apa yang kita anggap milik kita, rasanya
berat bagi kita. Apalagi menyadari bahwa semua yang ada pada kita pada
hakikatnya milik Allah semata. Kita memerlukan berbagai kiat dan
rekayasa dalam memotivasi diri kita untuk sekedar merelakan sebagian
kecil 'milik' kita. Untuk membeli seekor kambing saja, kadang-kadang
kita harus menghitung-hitung dan mempertimbangkan dari berbagai sudut,
dari segi untung-rugi, dsb. Seringkali setelah pertimbangan yang
njelimet, akhirnya kita tidak jadi membeli kambing. Kalau pun akhirnya
jadi membeli untuk kurban demi Allah, kita pun memasang harapan pahala
berlipat-ganda.
Itu tidak hanya yang berkaitan dengan harta 'milik' kita yang bersifat
materi. Di luar itu, ada yang lebih tidak tersadari oleh kebanyakan
kita. Acap kali untuk memenuhi perintah Allah, kita begitu bakhil
berkorban. Misalnya untuk memenuhi perintah persaudaraan, kita enggan
mengorbankan sedikit penghormatan kepada sikap orang lain atau sekedar
mendengarkan pendapatnya. Semua orang Islam yang naik haji, sudah pasti
mendambakan ibadah hajinya mabrur. Ironinya, karena keinginan yang
begitu besar mendapatkan haji mabrur, banyak yang enggan berkorban bagi
kepentingan mulia lain yang juga diperintahkan Allah atau bagi menjauhi
larangan-Nya. Tengoklah mereka yang bertengkar (dilarang Quran dengan
firman, "wa laa jidaala") berebut shaf salat atau tempat-tempat
mustajab. Atau yang lebih parah lagi, tengoklah mereka yang
'mati-matian' berusaha mencium Hajar Aswad itu. Tak ada satu pun di
antara mereka yang rela berkorban untuk saudaranya sesama muslim, bahkan
perilaku mereka yang menyikut kesana-kemari itu, mengesankan seolah-olah
mereka sedang melakukan 'jihad fi sabilillah' dan menganggap
saudara-saudara mereka yang lain adalah musuh-musuh mereka.
Orang yang terlalu menyintai apa yang dianggap miliknya -termasuk
dirinya, pendapat, dan pendiriannya sendiri- sangat sukar dibayangkan
dapat membuktikan cintanya kepada Allah melalui pengorbanan yang tulus.
Maka sikap yang terbaik -tentu saja- seperti yang diajarkan Pemimpin
Agung kita nabi Muhammad SAW, ialah sikap tawassuth, sederhana, sak
madiyo, tengah-tengah dalam segala hal; termasuk dalam menyintai dan
membenci. Dengan demikian kita akan dapat memurnikan pemujaan kita
kepada-Nya sendiri dan ringan berkorban untuk-Nya. Allahu Akbar! Wallahu
a'lam. (*)
Ikuti materi Pesantren Virtual melalui email anda, tanpa harus membuka web site ini tiap hari. Caranya? Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: