Hukum Peragaan Busana

——-
Tanya
——-
Pak ustadz/Ustadzah
Bagaimana pandangan Islam mengenai acara peragaan busana, atau 'fashion show'. Bolehkah muhajabah mengikuti fashion show, sekiranya dia mengenakan busana Muslim — didefinisikan di sini sebagai pakaian wanita yang menutupi semua aurat? Di dalam Islam, apakah boleh mengadakan acara peragaan busana Muslim? Bagaimana implikasi pertanyaan di atas ke acara seperti 'Miss Universe': apakah acara Miss Universe itu dilarang oleh Islam karena memamerkan aurat melalui pakaian bikini; atau karena memamerkan wanita dari secara keseluruhan (ketrampilan, kecerdasan beropini, dll)? Bagaimana pandangan Islam mengenai acara peragaan busana Pria. Apakah acara tersebut hanya boleh di hadiri oleh pria saja — dengan catatan kriteria yang lain, seperti memperagakan pakaian yang islami, terpenuhi?
Atau, apakah wanita juga boleh menghadiri? Hanya sekedar konfirmasi — Bagaimana dengan acara 'Talent Show', seperti muhajabah berdiri bebas di atas panggung untuk mengikuti lomba pidato (atau ketrampilan lain yang di perbolehkan agama)– di mana tetap di perlukan gerakan-gerakan badan walaupun cuman sedikit. Acara tersebut tentunya tidak memamerkan aurat. Bolehkah itu di adakan bila di hadiri juga oleh kaum pria? Tolong penjelasannya dan Terima Kasih banyak.
Sandy USA

 ———–
Jawab
———–
Assalamualikum Wr. Wb
Saudara Sandy yang baik , Menanggapi pertanyaan saudara tentang hukum peragaan busana atau Fashion Show dalam Islam ada beberapa hal yang perlu diperhatikan . Pertama, pakaian yang diperbolehkan perempuan adalah yang menutup aurat dengan batasan warna yang tidak mencolok dan tidak membentuk lekuk tubuh, tidak transparan dan tidak menyerupai pakaian laki-laki dan pakaian non muslim. Hal ini sejalan dengan ayat 59 surat al Ahzab yang artinya"Hai nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak permpuanmu dan istri-istri oran gmu'min, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka tidak diganggu. Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" .

Dari sini, pelaksanaan peragaan busana dan mengikuti tren mode tentu diperbolehkan dengan catatan peragaan tersebut dilakukan untuk dakwah Islam dan syiar busana Islami. Lebih lanjut adalah, bahwa acara tersebut hanya dihadiri oleh kaum perempuan saja tidak lebih. Sehingga tidak ada acara dimana perempuan berlenggak-lenggok di depan pria meski ia memamerkan busana muslimah yang muhajabah. Kedua, seperti jawaban di atas bahwa acara peragaan busana tentu diperbolehkan dalam Islam dengan syarat acara itu bukan bersifat pemborosan, memeragakan pakaian Islami atau yang sopan dan acara tersebut hanya dikhususkan bagi perempuan.

Dengan demikian jika peragaan busana tersebut bukan memperagakan busana yang sesuai dengna ketentuan busana dalam Islam dan di hadiri oleh kaum laki-laki maka Islam mengharamkan hal ini. Ketiga, sebagai implikasi dari jawaban di atas pula bahwa acara kontes keputrian dan ratu sejagat atau "Miss Universe " dengan memamerkan aurat dan berpakaian bikini meski yang diujikan di sana adalah ketrampilan, kecerdasan, kepiawaian perempuan dalam berbagai bidang, namun asal hukum untuk bisa diperbolehkan tetap tidak terpenuhi yaitu membuka aurat di depan publik dan berpakaian yang jelas tidak sesuai dengan Islam hal ini tentu diharamkan Islam dengan tidak ada pertentangan di dalamnya meski far'u (cabang ) dari acara tersebut mengasah kemampuan perempuan. Keempat, setiap sesuatu tindakan di muka bumi ini ada dua ekses yang akan dihasilkan, apakah hal itu membawa manfaat atau mudlarat (bahaya ).

Begitu pula dengan peragaan busana pria, jika kegiatan tersebut membawa manfaat yang lebih besar dari pada sisi negatif yang akan dihasilkan maka diperbolehkan, dengan catatan pula misalnya peragaan tersebut untuk menawarkan bentuk pakaian yang disyariatkan Islam atau untuk kegiatan syi’ar agama Islam, menggalang dana dan lain sebagainya. Akan halnya kegiatan tersebut dihadiri oleh wanita, selama tidak terjadi atau tidak mengacu terjadinya hal-hal yang dilarang agama diperbolehkan.

Namun tentu dalam hal yang demikian ada kehati-hatian, karena kegiatan yang bersifat "fun" banyak terjadi kerancuan hukum tanpa disengaja. Maka kembali seperti hal di atas, bila aktifitas tersebut membawa mudlorat yang tidak sedikit pada wanita tentu hal itu tidak diperbolehkan agama. Kelima, sedangkan "Talent Show" seperti lomba berpidato, tilawatil qur’an, atau kompetisi yang bersifat positif dan dalam keadaan mutahajibah bagi wanita terdapat dua pendapat:

Pertama, para ulama yang tidak memperbolehkan kegiatan tersebut dihadiri secara umum oleh pria dan wanita dengna alasan bahwa gerak gerik perempuan sangat berpotensi membawa syahwat bagi pria, dan suara perempuan adalah aurat, dan memungkinakan timbulnya fitnah.

Kedua, pendapat ulama yang memperbolehkan perempuan untuk tampil di depan publik dengan catatan untuk kegiatan yang bersifat da’wah, syiar Islam, mengasah kemmapuan tanpa berusaha untuk menarik perhatian lawan jenis dengan berbagai gerakan atau pakaian yang tidak diperbolehkan agama. Tentu hal ini bisa berlaku pada beberapa jenis kompetisi yang biasa digelar.

Dengan ketentuan tersebut pria bisa saja hadir dalam majlis tersebut. Demikianlah dua jawaban pertanyaaan yang saudara ajukan dengan menimbang kembali bahwa hal-hal yang tidak diatur secara detail dalam Alqur’an dan hadist terdapat hukum-hukum fiqhiah yang menyentuh pada permasalahan tersebut. Seperti kemaslahatan dari berbagai aktifitas yang dilakukan apakah akan menimbulkan manfaat atau justru memacu munculnya madlarat atau ekses negatif dari hal tersebut. Selain hal itu, apakah kegiatan tersebut perlu dihindari atau dilaksanakan atau lebih mengedepankan prenventation, pencegahan pada hal-hal yang berbahaya sehingga bisa terhindar dari hal negatif yang akan dihasilkan. Akhirnya, semoga kita semua selalu dikarunia Yang Maha Kuasa kemampuan untuk terus menjaga seluruh aktifitas kita dari hal-hal yang tidak diperbolehkan agama, amiin .

Wassalamualaikum.

Kuni Khoirun Nisaa'