Ibadah Qurban di Tempat Lain

Pak Ustadz, ada 2 pertanyaan yang ingin saya sampaikan:
1. Bolehkah orang yang sedang melaksanakan haji ke Baitullah kemudian melaksanakan qurbannya di tempat lain (misalkan di kampung halamannya di Indonesia).
2. Bagaimana "nilainya" bagi kita yang melaksanakan "qurban" dengan cara urunan, misalnya 1 kambing hasil urunan 5 orang.

 

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr. wb.

Langsung saja..

Pak Ustadz, ada 2 pertanyaan yang ingin saya sampaikan:

1. Bolehkah orang yang sedang melaksanakan haji ke Baitullah kemudian melaksanakan qurbannya di tempat lain (misalkan di kampung halamannya di Indonesia).

2. Bagaimana "nilainya" bagi kita yang melaksanakan "qurban" dengan cara urunan, misalnya 1 kambing hasil urunan 5 orang.

Terimakasih atas perhatian dan penjelasannya.

Wassalamualiikum Wr. Wb.

Yayan Mulyana

Jawaban:

Assalamu’alaikum wr. wb.

Tidak ada larangan bagi orang yang berhaji melasakanakan ibadah qurban di kampung halamannya. Ibadah qurban tidak dibatasi dengan ketentuan tempat, namun waktunya yang dibatasi yaitu pada hari raya Iedul Adha dan tiga hari Tasyriq.

Terkadang berkurban di tempat yang lebih banyak orang miskin akan lebih bermanfaat, karena di situ lebih banyak yang membutuhkannya, meskipun beribadah di tanah haram/Makkah juga mempunyai keutamaanya tersendiri bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah haji.

Ketentuan hewan qurban adalah kambing untuk satu orang, sedangkan sapi mencukupi orang tujuh, seperti dalam riwayat Jabir "Kami menyembelih bersama Rasulullah di Hudaibiyah seekor onta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang" (H.R. Muslim).

Ulama Hanbali mengatakan sah menyembelih seekor kambing, onta, atau sapi untuk satu keluarga sesuai denagn hadist Aisyah "Bahwa Rasulullah s.a.w. berqurban seekor kambing untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, dan ber-qurban dengan dua ekor doma gemuk, satu unutk Muhammad dan satu lagi untuk umatnya" (H.R. Muslim). Dalam riwayat Abu Ayub "Pada zaman Rasulullah seorang lelaki ber-qurban dengan seekor domba, untuk dirinya dan keluargnya, lalu mereka memakannya bersama-sama dan menyedekahkannya" (H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi (sahih).

Wallahu A’lam

Wassalam

Muhammad Niam