Imam Kurang Fasih

Tanya:

Pengasuh tanya jawab yang saya hormati,
Langsung ke permasalahan saja pak, begini…. dimesjid tempat tinggal saya hanya ada kurang lebih tiga orang yang menurut para jemaah fasih bacaannya kalau menjadi imam, (tentu juga menurut penilaian kami bertiga) sedangkan yang lain yang mau menjadi imam bacaannya asal enak iramanya saja, yang harusnya dibaca panjang oleh beliau-beliau itu dibaca pendek dan begitu pula sebaliknya, jauh dari bacaan yang sebenarnya. Permasalahannya, kalau saya terlambat sampai dirumah kemudian langsung ke mesjid untuk shalat berjamaah, saya dapati shalat sudah dimulai dengan diimami oleh yang kurang fasih tadi, bagaimana sikap yang sebaiknya saya ambil? Niat dari rumah untuk shalat berjamaah di mesjid. Kalau saya bermakmum kepada orang yang saya tahu bacaannya kurang bagaimana? Apakah saya ikut dalam jamaah tapi niat tidak mengikuti imam atau bagaimana?

Mohon pengasuh berkenan memberi jawaban. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, semoga apa yang kita kerjakan ini diridhoi serta mendapat ganjaran.

Ridwan Sabar

Jawab:

Saudara Ridwan Sabar,
Kefasihan lisan bagi seorang imam merupakan salah satu syarat sahnya seseorang menjadi imam salat (Jamaah). Seseorang dapat dikategorikan fasih lisannya apabila ia mampu mengucapkan huruf Hija'iyyah (Arab) sesuai dengan ketentuan makhraj huruf tersebut, khususnya dalam membaca surat al-Fatihah. Dengan demikian setiap orang yang mampu membaca al-Fatihah dengan tanpa merubah atau mengurangi salah satu hurufnya maka diperbolehkan baginya menjadi imam.

Sebaliknya seseorang dikategorikan tidak fasih bila dalam bacaannya terjadi perubahan makhraj secara total. Misal mengganti/merubah "rak" menjadi "ghin", "sin" menjadi "tsak", "dzal" menjadi "zak", dll. Atau membaca "idgham" tidak pada tempatnya, seperti dalam bacaan "mustaqiim" dirubah menjadi "muttaqiim". Menurut Syafi'iyah seseorang dengan kemampuan baca seperti ini tidak sah menjadi imam bagi makmum yang bacaannya lebih fasih.

Adapun orang yang kemampuan bacanya kurang begitu fasih, misalnya membaca "mad" (panjang suatu huruf) tidak pada tempatnya, maka masih sah baginya untuk menjadi imam. Hanya saja, jika di antara makmum terdapat orang yang bacaannya lebih baik, maka hukumnya makruh. Ini berdasar riwayat Ibnu Mas'ud, Nabi bersabda "Dan hendaknya yang menjadi imam dalam satu kaum adalah yang terbaik dalam membaca al-Qur'an".

Apabila dalam suatu kaum, terdapat beberapa orang yang kemampuan bacaanya setara, maka yang diutamakan menjadi imam (sesuai nomor urut) adalah sebagai berikut :

  1. Seseorang yang lebih mengerti aturan salat.
  2. Seseorang yang lebih fasih bacaannya baik secara tajwid maupun qira'atnya.
  3. Seseorang yang lebih hati-hati dalam masalah agama, yaitu seseorang yang menjauhkan diri dari perkara syubhat dan haram.
  4. Seseorang yang lebih dewasa/tua secara umur.
  5. Seseorang yang lebih mulia akhlaqnya dalam hubungan sesama manusia.
  6. Seseorang yang lebih banyak bertahajjud.
  7. Seseorang yang lebih mulia nasabnya.
  8. Seseorang yang lebih bersih dan rapi pakaiannya.

Selanjutnya apabila dari semua sifat-sifat tersebut juga dimiliki oleh semua imam yang ada, maka dianjurkan untuk mengundi atau melalui kesepakatan jamaah. Namun klasifikasi ini hanya afdhaliyyah (keutamaan) semata dan bukan merupakan syarat sahnya jama'ah.

Wallahu A'lam.

M. Faridu Ashrih