Imam Lupa Mandi Junub

—– Tanya —– Assalamu'alaikum wr.wb Kami telah mengerjakan shalat tahajjud, fajr, Qabla Subuh, dan Fardhu Subuh. Setelah siang hari sekitar jam 06:00, Imam kami (yang menjadi imam dalam shalat fardhu) kaget dan ingat bahwa beliau tadi malam telah mimpi yang mengakibatkan keluar sperma, dan belum mandi junub (karena lupa), maka apakah shalat kami batal? Bagaimana pula dengan makmum yang bermakmum dengan imam yang berjunub (makmum yang lain tidak tahu/sudah pulang)? Apakah yang harus kami lakukan, apakah kami harus mengulang shalt fardhu tersebut. Wassalamu'alaikum Aly Muhammad ——— Jawab: ——— Wa'alaikumussalam Wr. Wb. Ada riwayat dalam Naylul Awthar [As-Syawkany], dari Abu Bakrah: "Sesungguhnya Nabi SAW. memulai salat, kemudian membaca takbiratul ihram. Lalu Nabi memberi isyarat kepada para jamaah: "Diamlah di tempat kalian!". Kemudian Nabi SAW masuk rumah, lalu keluar kembali dalam keadaan rambutnya basah menetes. Kemudian Nabi salat kembali bersama jamaah. Beliau mengatakan: "Sesungguhnya saya seorang manusia seperti kalian. Tadi saya junub". Dalam Kasyful Qinأ¢', dari Al-Barra [dan juga dari 'Umar, 'Utsman, 'Aly dan Ibn 'Umar], bahwa Nabi SAW mengatakan: "Apabila seorang yang junub melaksanakan salat bersama jamaah, maka ia harus mengulangi salatnya, sementara salat telah sempurna bagi jamaah lainnya". Menurut Hanafiyah, salatnya imam dan makmun batal kesemuanya. Mereka lebih melihat kaidah yang mereka dirikan daripada mempercayai kesahihan dua hadits ini. Kaidah tsb adalah bahwa imam menanggung salatnya makmum, jika salatnya sah maka salat makmum ikut sah, dan bila batal maka salatnya juga ikut batal. Menurut Malikiyah: Dalam dua hadits tsb. imam tidak sengaja melaksanakan salat dalam keadaan junub. Ia melaksanakan salat disebabkan ia lupa akan jinabatnya, bukan dengan sengaja melakukan itu. Artinya, selama imam, dalam kasus saudara, tidak sengaja salat dalam keadaan junub, maka salatnya makmum sah. Menurut Syafiiyah: Apabila salatnya imam batal karena sesuatu yang samar, yang sulit diketahui oleh orang lain, maka salat makmum tetap sah. Dan jika batal karena sesuatu yang tampak [dzahir], maka salatnya makmum ikut batal. Contoh batin: imam tidak berwudhu, atau dalam keadaan hadats, atau pakaiannya najis yang susah dilihat. Dalam dua hadits di atas, karena janabat termasuk "keadaan" yang hanya diketahui oleh imam, dus sulit diketahui oleh makmum, maka salat makmum tetap sah. Jadi menurut Madzhab Syafiiyah, salat makmum, dalam kasus Saudara, tetap sah. Menurut Hanbaliyah: seperti pendapat Syafiiyah, ditambah imam tidak bermain-main dengan salatnya. Walaupun sesuatu yang membatalkan salat adalah sesuatu yang samar, akan tetapi jika imam mengetahuinya dan tetap melaksanakan salat dengan niat main-main, maka salat makmum tetap batal. Setelah melihat perbedaan ulama dalam cara menafsiri dua hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa mayoritas ulama [jumhur] memandang salat makmum dalam kasus Saudara tetap sah, dan tak perlu mengulangi. Demikian, semoga membantu. Abdul Ghofur Maimoen