Anak Sebagai Permata Hati Orang Tua

Saat ditinggal mati putra harapan yang lahir dari Mariah al-Qibtiyah, Ibrahim, Rasulullah (saw) tidak menampakkan kesedihan. Beliau berujar di hadapan para sahabat,�Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, semoga anak yang masih kecil ini akan membantu orang tuanya untuk memasuki surga.� Nabi tidak terlalu bersedih, karena beliau tahu bahwa dengan meninggalnya anak kecil yang belum berdosa, ia terbebas dari hisab (perhitungan) dan langsung masuk surga. Dengan begitu ia bisa menolong kedua orang tuanya ikut bersama menikmati kebahagian akhirat. Anak dalam keluarga adalah permata hati, labuhan jiwa dan harapan masa depan. Pada diri orang tua, anak adalah muara kecintaannya. Sebuah perasaan yang fitrah dari orang tua terhadap anak-anaknya, datang sebagai naluri. Allah tidak melarang adanya kecintaan pada anak, karena cinta kepada mereka adalah wajar, asal tidak berlebihan. Sedang, cinta yang berlebihan hanya akan melahirkan kekecewaan dan kesedihan. Saat ditinggal mati putra harapan yang lahir dari Mariah al-Qibtiyah, Ibrahim, Rasulullah (saw) tidak menampakkan kesedihan. Beliau berujar di hadapan para sahabat,�Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, semoga anak yang masih kecil ini akan membantu orang tuanya untuk memasuki surga.� Nabi tidak terlalu bersedih, karena beliau tahu bahwa dengan meninggalnya anak kecil yang belum berdosa, ia terbebas dari hisab (perhitungan) dan langsung masuk surga. Dengan begitu ia bisa menolong kedua orang tuanya ikut bersama menikmati kebahagian akhirat. Pada sisi lain, Allah (swt) memberi nasehat bahwa anak-anak kita bukanlah inti kehidupan dan kebahagian. Mereka hanyalah penghias dalam rentang hidup yang membuat serasa hidup lebih nikmat dan indah. Sehingga, diharapkan manusia tidak lupa akan kesejatian hidup dan hakekat kebahagiaan, dengan begitu, tidak berlebihan dalam mencintai anak-anaknya. Firman-Nya,� Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, …�(Q.S. Ali Imran : 14) Anak dan Istri adalah tanggung jawab, titipan Allah. Mereka adalah amanah yang harus dijaga : dipelihara kehidupan mereka di dunia dan nasibnya kelak di akhirat. Kata Allah (swt),�Hai orang-orang beriman, jagalah diri kamu dan keluargamu dari sentuhan api neraka…�(Q.S. al-Tahrim : 6). Dari itu, peran orang tua sangat vital dalam mendorong anak-anaknya menjadi orang-orang saleh. Sabda Rasulullah dari riwayat Imam Hakim,�Tiada satu pun pemberian (berharga) yang dihadiahkan orang tua terhadap anaknya yang paling utama kecuali tata krama yang baik.� Jiwa anak terbentuk oleh peran-peran orang-orang disekitarnya. Pada masa-masa remaja, lingkungan dan teman pergaulan lebih menentukan, sedang pada masa-masa dini pengaruh orang tua adalah perkara awal dalam melukis jiwa anak. Orang tua merupakan orang pertama yang dikenal oleh anak-anak. Nabi (saw) menegaskan, “Tiap-tiap anak yang dilahirkan pasti dalam keadaan suci, sampai sampai lisannya mampu mengungkapkan keadaannya sendiri. Maka kedua orang tuanya sendiri yang menjadikan apakah sebagai orang yahudi, Kristen atau Majusi.� (H.R. Imam al-Aswad ibnu Surai’) Pada kesempatan lain, Rasulullah (saw) mengingatkan, �Kewajiban seorang ayah terhadap anaknya ialah (1) sebaiknya memberikan nama yang baik, (2) mendidik dengan baik, (3) mengajari menulis, (4) mengajari berenang, (5) mengajari memanah. Dan hendaknya tidak memberikan nafkah kecuali dari rezki yang halal. Dan hendaknya menikahkan dia bilamana usianya sudah mencukupi.� Mengajari memanah dan berenang pada hadits ini, berkenaan dengan situasi dan kondisi Mekkah pada masa itu, dianggap sebagai sebuah simbol keutamaan yang penting. Bagimanapun anak adalah generasi penerus, pembawa estafet silsilah gen kita dan pelanjut kesejarahan spesis manusia di muka bumi. Pembentukan jiwa anak yang kuat dengan muatan keimanan dan keagamaan yang kokoh, berarti telah mempersiapkan sebuah generasi yang siap bertarung dengan kehidupan dunia yang sangat keras, kadang-kadang kejam dan seringkali menuntut pengorbanan. Tak ada falsafah dan ajaran yang lebih sesuai dengan kondisi ini selain ajaran Muhammad (saw) yang mengajarkan setiap Muslim untuk selalu berpartisipasi aktif dalam setiap pergolakan kesejarahan manusia yang telah dibekali ajaran Islam yang lebih manusiawi. Tugas ini Nabi (saw) tegaskan, “Tiap-tiap kamu adalah seorang pemimpin, dan tiap kamu akan dimintai pertanggung-jawaban atas apa yang dipimpinnya.� (H.R. Bukhari & Muslim) Disamping sebagai kebanggaan, anak adalah tanggung jawab, amanah yang harus dijunjung tinggi. Dan kelak dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah. Wallahu a’lam. Rizqon Khamami