Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Tidur Siang di Bulan Ramadhan Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Saya agak terkejut mendengar keterangan bahwa tidur siang merupakan suatu hal yang dianjurkan hanya berdasarkan keterangan bahwa syaiton tidak pernah tidur siang, Dan juga keterangan tidak masalahnya orang tidur dimasjid, karena tidak ada dasar untuk pelarangan atau perintah, mengenai hal ini sebaiknya hal ini tidak usah disinggung dengan cenderung membolehkan. Tanya Jawab (437) : Tidur Siang di Bulan Ramadhan Assalamu'alaikum war. wab. Saya agak terkejut mendengar keterangan bahwa tidur siang merupakan suatu hal yang dianjurkan hanya berdasarkan keterangan bahwa syaiton tidak pernah tidur siang, Dan juga keterangan tidak masalahnya orang tidur dimasjid, karena tidak ada dasar untuk pelarangan atau perintah, mengenai hal ini sebaiknya hal ini tidak usah disinggung dengan cenderung membolehkan. Takutnya orang jadi ramai2 ke masjid untuk tidur bukan untuk sholat atau untuk sholat terus tidur :-) Dilarang aja masih tidur apalagi dianjurkan.. Keterangan ini berawal dari pertanyaan seeorang mengenai kebenaran hadist yang menerangkan bahwa tidurnya orang puasa adalah ibadah. Untuk itu jika ada yang lebih tahu mengenai kebenaran dari masalah ini mohon bisa dijelaskan. Terimakasih, wassalam. Tejo H Jawab : Assalamu'alaikum wr. wb. Tidur siang adalah kebiasaan masyarakat Arab dan beberapa orang sholeh dan ulama terdahulu. Mereka menyebutnya Qailulah yang artinya tidur sebentar waktu siang. Mereka melakukannya tidak hanya pada bulan Ramadhan tapi pada hari-hari biasa juga, khususnya pada waktu musim panas. Para Ulama Sholeh terdahulu menjadikan tujuan dari qailulah ini agar pada malam harinya bisa bangun untuk mendirikan sholat tahajud. Dalam sebuah riwayat, Imam Abu Hanifah selama 40 tahun tidak pernah tidur malam, karena malam harinya untuk sholat, beliau tidur hanya pada siang hari, yaitu qailulah. Qaqilulah ini waktunya setelah sholat dhuhur hingga Ashar. Jadi tidur siang atau qailulah ini hanya kebiasaan orang-orang terdahulu. Kalau memang tujuannya agar bisa bangun malam untuk sholat tahajjud, tentu ini merupakan sunnah karena Rasulullah s.a.w. juga melakukannya. Tapi kalau tidur siangnya hanya untuk bermalas-malasan, apalagi malam harinya juga tidak sholat tahajud maka apa nilai sunnah dari tidur siang ini? Umar bin Khattab pernah suatu hari melakukan inspeksi ke Iskandariah, dimana Muawiyah bin Khudaij menjabat gubernur di kota itu. Umar datang ke kota itu waktu siang saat kebanyakan orang melakukan qailulah. Umar menemukan Muawiyah tidak melakukan tidur siang, lalu beliau berkomentar "Saya fikir kalian sedang tidur pada siang ini, kalau kalian tidur siang hari maka akan menelantarkan hak rakyat, kalau kalian tidur malam, kalian menelantarkan hak Allah, bagaimana kalian mengatur tidur antara dua hak ini wahai Mua'wiyah". Umar r.a. seperti mengingatkan bahwa manfaat waktu itu lebih penting daripada sekedar tidur siang. Intinya, harus proporsional dalam menggunakan waktu meskipun pada bulan Ramadhan. Hadist yang menyebutkan bahwa "Tidurnya orang puasa adalah ibadah", seperti penjelasan Iraqi dalam Takhrij Hadist-Hadist Ihya, bahwa hadist ini diriwayatkan dari Abdullah bin Amr dan Abdullah bin Abi Aufa, namun semua sanadnya antara dla'if (lemah) dan maudlu' (palsu). Lepas dari kekuatan hadist tersebut, pengertian hadist tersebut harus dimaknai bahwa tidurnya orang puasa adalah terjaganya diri orang yang puasa dari setiap perbuatan maksiat dan munkar, dari situlah terwujud makna ibadah itu. Kalau tidur hanya untuk bermalas-malasan dan meninggalkan kewajiban serta menelantarkan tugas, tentu itu sangat bertentangan dengan makna ibadah puasa itu sendiri. Para Sahabat Rasulullah s.a.w. menjalani puasa Ramadhan dengan tugas-tugas yang cukup berat, seperti perang Badar dan penaklukan Makkah. Ini semua petunjuk bahwa puasa bukan untuk menjadikan kita malas, tapi puasa adalah spirit agar kita bisa memberikan yang lebih baik meskipun dengan keterbatasan diri kita. Wallahu A'lam Bissowab Muhammad Ni'am
 
 
Surah:. Al Israa' (17)
Ayat: 55
 Listen to this ayat (verse)  وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً
17.55. Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.
[ Al Israa' : 55 ]

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com