Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Menentukan Waktu Puasa di Kutub Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Assalamualaikum wr. wb.

Disini saya ingin menanyakan masalah penentuan waktu puasa, makan sahur dan berbuka puasa didaerah kutub maupun ditempat lain dibumi ini yang batas antara siang dan malamnya kurang jelas seperti kita di Indonesia, karena seperti yang saya tahu dikutub itu siang dan malamnya terbagi/berganti setiap 6 bulan sekali. Jadi bagaimanakah cara dan pelaksanaan puasa untuk daerah yang demikian itu, karena puasa kan waktunya antara terbit fajar dan menjelang malam (maghrib). Sekian dari saya. Terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jawab:

Merujuk pada fatwa Majlis Fatwa Al-Azhar Al-Syarif, menentukan waktu berpuasa Ramadhan pada daerah-daerah yang tidak teratur masa siang dan malamnya, dilakukan dengan cara menyesuaikan/menyamakan waktunya dengan daerah dimana batas waktu siang dan malam setiap tahunnya tidak jauh berbeda (teratur). Sebagai contoh jika menyamakan dengan masyarakat mekkah yang berpuasa dari fajar sampai maghrib selama tiga belas jam perhari, maka mereka juga harus berpuasa selama itu.

Adapun untuk daerah yang samasekali tidak diketahui waktu fajar dan maghribnya, seperti daerah kutub (utara dan selatan), karena pergantian malam dan siang terjadi enam bulan sekali, maka waktu sahur dan berbuka juga menyesuaikan dengan daerah lain seperti diatas. Jika di Mekkah terbit fajar pada jam 04.30 dan maghrib pada jam 18.00, maka mereka juga harus memperhatikan waktu itu dalam memulai puasa atau ibadah wajib lainnya.

Fatwa ini didasarkan pada Hadis Nabi SAW menanggapi pertanyaan Sahabat tentang kewajiban shalat di daerah yang satu harinya menyamai seminggu atau sebulan atau bahkan setahun. "Wahai Rasul, bagaimana dengan daerah yang satu harinya (sehari-semalam) sama dengan satu tahun, apakah cukup dengan sekali shalat saja". Rasul menjawab "tidak... tapi perkirakanlah sebagaimana kadarnya (pada hari-hari biasa)". [HR. Muslim] Dan demikianlah halnya kewajban -kewajiaban yang lain seperti puasa, zakat dan haji.


Mutamakkin Billa

(Diambil dari buku Majma' Buhus Al-Islamiyah Fi Qadhaya Mu'ashirah, karya Grand Syeikh Azhar Gad el-Haq Ali Gad el-Haq, hal 509 s/d 522 jilid pertama)
 
 

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com