Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Sabar Setengah dari Iman Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Tanya:

Kehadapan Pak Kyai,
Saya ada pertanyaan, yang sering kita sebut iaitu "sabar adalah separuh daripada iman" apakah separuhnya lagi, agar bisa mencukupi iman itu?
Sekian pertanyaan dari saya yang jahil.

Sulaiman Mohd. Yusoff - Singapura


Jawab:

Saudara Sulaiman,
Sebelumnya perlu diketahui apa itu iman, dan apa itu sabar. Iman itu merupakan gabungan pembenaran (akan perkara-perkara yang harus diimani: Allah, para malaikat, para Nabi, dll) dan amal saleh. Dua hal, pembenaran dan amal saleh ini tak bisa dipisahkan. Karena amal saleh merupakan konsekuensi-logis (dampak yang pasti) adanya iman. Seseorang tak bisa dianggap beriman hanya dengan membenarkan adanya Allah, tapi faktanya ia sering berbuat maksiat. Demikian pula, sebaliknya, tak bisa disebut beriman hanya dengan melakukan perbuatan baik, tapi hatinya tak pernah membenarkan adanya Allah.

Itulah rahasianya mengapa terulang banyak kali dalam al-Qur'an "yaa ayyuhal ladziina aamanuu wa 'amiluushshaalihaat..." [Wahai orang-orang yang beriman dan beramal saleh..."]. Karena kalau seseorang mengaku beriman konsekuensinya ia harus beramal saleh.

Lalu apa itu sabar? Sabar adalah keteguhan hati/jiwa untuk menghindari nafsu (yang cenderung menyeret ke kemaksiatan).

Adapun ungkapan "sabar separuh dari iman" (yang merupakan makna penuh sebuah hadis: "al-shabru nishful iimaan"), penjelasannya begini:
Karena iman adalah gabungan dari pembenaran dan amal baik, maka ia membutuhkan dua syarat: keyakinan dan kesabaran. Yang pertama, keyakinan, maksudnya adalah pengetahuan dan keyakinan kita akan adanya Tuhan, para malaikat, para nabi, dan perkara-perkara lain yang harus diyakini (sesuai pengetahuan kita dari ayat-ayat dan sunnah Nabi). Dan kedua, kesabaran, maksudnya adalah amal perbuatan yang harus kita laksanakan dengan penuh keteguhan hati sesuai kerangka keyakinan kita. Karena keyakinan/pengetahuanlah yang bisa menunjukkan kita mana perbuatan baik (taat) dan mana yang jelek (maksiat).

Setelah kita tahu/yakin mana yang baik dan mana yang jelek, sebagai orang beriman, kita harus melakukan yang baik dan meninggalkan/menjauhi yang jelek. Singkat kata kita harus bertakwa: melaksanakan kebaikan dan meninggalkan/menjauhi kejelekan. Dan ketahuilah, takwa itu tak akan tegak tanpa adanya kesabaran.

Bukankah seseorang yang melakukan kejelekan itu karena ia dijerumuskan oleh nafsu? Orang yang menumpuk kekayaan sampai lupa saudaranya yang membutuhkan karena ia terseret oleh nafsu keserakahannya; orang yang membenci orang lain itu karena dirinya dikuasai amarah atau merasa benar sendiri dan itu tiada lain adalah nafsu; orang mencuri karena nafsu; dll. Untuk melawan semua itu tiada lain jalannya adalah dengan kesabaran/keteguhan hati. Bukankah sebenarnya semua orang sudah tahu dan sadar bahwa mencuri itu jelek; membenci orang lain itu tak baik; menumpuk kekayaan itu juga tak baik; hanya saja ia tak memiliki keteguhan hati utk melawan nafsunya hingga akhirnya ia terjerumus.

Jadi, jelaslah bahwa iman itu tak sempurna hanya dengan pembenaran. Tapi harus diikuti dengan tindakan nyata yang membutuhkan keteguhan hati.

Demikian semoga cukup jelas.

Arif Hidayat

 
 
Surah:. Al Infithaar (82)
Ayat: 11
 Listen to this ayat (verse)  كِرَاماً كَاتِبِينَ
82.11. yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),
[ Al Infithaar : 11 ]

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com