Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Terjadi Cerai atau Tidak? Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Tanya:

Mohon maaf Pak Ustadz, saya Asiyono, mau menbantu teman saya karena dia nggak punya email. Saya sudah pernah bertanya sama pak ustadz dan saya adalah anggota mailing list Pesantern Virtual. Berikut ini pertanyaan teman saya.

Pak Ustadz,
Saya sudah berumah tangga Kira kira 2 tahun dan sudah mempunyai satu anak Umurnya baru satu setengah bulan saya punya masalah dalam rumah tangga kami sebagai suami saya mau istri saya tinggal bersama saya di jakarta, tetapi istri saya lebih suka tinggal dirumah orang tuanya di batang (pada saat itu sedang hamil) akhirnya saya setuju tetapi saya minta untuk tinggal dirumah orang tua saya atau gantian. Perlu bapak ketahui Kalau dirumah ibu mertua saya istri saya sering dipengaruhi macam-macam, bahkan ibu mertua saya pernah bilang pada istri saya kalau kamu nggak bahagia sama suamimu lebih baik cerai (padahal pada saat itu sedang hamil 7 bulan).

Akhirnya saat menjelang lahir istri saya nyusul ke Jakarta dan tinggal bersama saya , Sampai saat anak kami lahir semuanya lancar tidak ada masalah, setelah anak kami sudah umur 35 hari , kami adakan selamatan dan ibu mertua saya datang ke Jakarta, dan kembali ada masalah lagi kerena pengaruh ibu mertua saya. Karene saya kesal, maka saya marah dan keluarlah kata-kata kasar, saya bilang sama istri (pada saat itu ada ibu mertua saya) kalau masih cinta sama saya, saya minta tinggal sama saya di Jakarta dan ikut kata kata saya, kalau masih dengerin omongan (yang nggak baik) dari ibu mertua saya lebih baik bubar saja.

Pertanyaan saya:
  1. apakah kata-kata saya itu sudah termasuk Talak?
  2. apakah saya berhubungan badan dg istri saya termasuk zina?
  3. apakah saya harus rujuk lagi?
  4. apakah saya berdosa tinggal serumah, karena masih punya anak kecil?
  5. bagaimana sikap saya terhadap mertua saya itu?


Asiyono - Tangerang

Jawab:

Talak adalah mengakhiri ikatan perkawinan dengan kata-kata cerai, atau yang bermakna cerai. Kata-kata Saudara "kalau masih dengerin omongan (yang nggak baik) dari ibu mertua saya lebih baik bubar saja", bisa berarti talak dan bisa berarti tidak. Para ulama melihat bahwa talak yang seperti ini harus disertai dengan niat: ada niat untuk talak maka jatuhlah talak sekali, bila tidak maka tidak dianggap talak.

Kemudian, kalaupun perkataan Saudara tadi disertai niat talak, di situ Saudara menggantungkan talak kepada suatu kondisi di mana istri Saudara tidak patuh kepada Saudara dan tetap mendengarkan kata-kata (yang tidak baik) dari ibunya. Dengan begitu talak akan jatuh pada saat isteri anda melakukan tindakan yang demikian, tetapi kalau isteri anda ternyata masih patuh dengan Saudara dan mau menetap dengan Saudara berarti talak tidak jadi.

Seandainya talak memang terjadi (karena istri Saudara lebih menuruti kata-kata ibunya), maka Saudara masih mempunyai hak rujuk. Rujuk adalah kembali kepada ikatan pernikahan setelah terjadinya talak. Suami mempunyai hak rujuk sebanyak dua kali. Jadi bila seorang suami menalak isterinya kemudian rujuk, lalu dia menalak lagi, untuk kedua kalinya dia masih berhak merujuk istrinya. Namun apabila setelah itu dia menalak lagi (talak yang ketiga) maka sang suami hanya bisa rujuk setelah mantan isterinya menikah dengan orang lain dan telah diceraikan oleh suami kedua tersebut.

Dan andaikan memang telah terjadi talak, tindakan Saudara tinggal serumah dengan isteri Saudara itu juga bisa disebut rujuk. Karena rujuk itu tidak memerlukan akad nikah yang baru, juga tak harus mengadakan upacara ritual tertentu, namun cukup dengan perbuatan yang mengisyaratkan keinginan suami untuk melanjutkan kembali ikatan pernikahan.

Dengan demikian jika Saudara berhubungan badan dengan isteri, maka itu tidak termasuk zina, karena dia masih isteri Saudara. Hubungan badan tersebut telah menunjukkan rujuk yang sebenarnya.

Adapun sikap Saudara terhadap mertua, tentu sebaiknya mencari jalan keluar yang terbaik dengan dialog secara kekeluargaan, dan akhirnya saling memaafkan. Selain itu Saudara juga sebaiknya bisa menerangkan kepada isteri Saudara bahwa bila seorang wanita telah dinikahi, maka segala urusan rumah tangga menjadi tanggungjawab berdua, tanpa mengikutsertakan campurtangan orang tua. Kewajiban taat pada orang tua jangan sampai dibenturkan dengan urusan rumah tangga, demikian pula kewajiban taat pada suami mempunyai tempat tersendiri. Mengupayakan suasana rumah tangga agar selalu harmoni adalah otonomi suami-istri.

Lihat juga "Tanya Jawab(150) Bercanda dengan Cerai".

Demikian semoga membantu. Wallahu A'lam.


Muhammad Niam
 
 
Surah:. Al An'am (6)
Ayat: 65
 Listen to this ayat (verse)  قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ
6.65. Katakanlah: " Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu [482] atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti [483] agar mereka memahami(nya)". [482] Azab yang datang dari atas seperti hujan batu, petir dan lain lain. Yang datang dari bawah seperti gempa bumi, banjir dan sebagainya. [483] Maksudnya: Allah s.w.t. mendatangkan tanda-tanda kebesaranNya dalam berbagai rupa dengan cara yang berganti-ganti. Adapula para mufassirin yang mengartikan ayat di sini dengan ayat-ayat Al-Quraan yang berarti bahwa ayat Al-Quraan itu diturunkan ada yang berupa berita gembira, ada yang berupa peringatan, cerita-cerita, hukum-hukum dan lain-lain.
[ Al An'am : 65 ]

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com