Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Mengubur Ari-ari Bayi Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak Ustad, saya ingin bertanya mengenai ari-ari setelah bayi lahir, apakah ari-ari tersebut harus kita kubur sendiri (jika dikubur sendiri apakah harus dihalaman rumah kita sendiri) atau setelah bayi lahir apakah ari-ari tersebut boleh diurus oleh Rumah Sakit yang bersangkutan?

Mohon penjelasan dari Pak Ustad dan atas bantuannya saya ucapkan terima kasih


Wassalamu'alaikum wr. wb.

Santri Virtual


Jawaban:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Qurthubi dalam tafsirnya (2/102) menukil pernyataan Tirmidzi dalam kitab "Nawadirul Usul" bahwa Rasulullah s.a.w. mengatakan "Bersihkan kuku kalian, pendamlah potongan kuku kalian, bersihkan sela-sela tangan, bersihkan gusi dan gosoklah gigi, jangan kalian datang kepadaku dengan gigi yang kuning dan bau".

Mengapa kita disuruh memendam/mengubur potongan kuku? Ini menunjukkan bahwa jasad bani adam mempunyai kemuliaan, meskipun ia telah terpotong atau terlepas, kemuliaan tersebut masih tetap ada, maka selayaknya ia dikubur seperti pada saat bani adam meninggal dunia.

Dalam riwayat Aisyah lain, Rasulullah s.a.w. memerintahkan agar mengubur bekas darah "ihtijam" (pengobatan tradisional dengan mengambil darah kotor dari tubuh) supaya tidak dimangsa anjing.

Riwayat Aisyah lain mengatakan Rasulullah s.a.w. memerintahkan mengubur tujuh jenis anggota tubuh manusia, yaitu rambut, kuku, darah, bekas darah haid, gigi yang terlepas, potongan khitan dan ari-ari. Qurthubi tidak memberikan keterangan tentang kekuatan riwayat ini.

Dalam kitab "Ghadaa'ul Albab" karangan Safarini (1/382) disebutkan bahwa binti Bashrah mengatakan "Aku melihat ayahku memotong kuku lalu memendam potongannya, lalu ia berkata 'Aku melihat Rasulullah melakukannya'".

Ahmad bin Hanbal pernah ditanyai tentang rambut dan kuku, apakah menguburnya atau membuangnya? Ia menjawab "agar menguburnya. Ibnu Umar melakukan demikian".

Mengubur anggota yang terpotong atau terlepas dari tubuh manusia merupakan salah satu cara memuliakan bani Adam.

Ibnu Hajar mengatakan bahwa ini hanya sunnah dan tidak wajib, barangsiapa melakukannya tentu merupakan tindakan terpuji.

Memanfaatkan Ari-ari

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, ari-ari bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan medis tertentu. Bila di sana terdapat manfaat dan maslahah, memanfaatkan ari-ari untuk tujuan tersebut tidak ada salahnya dari tinjauan agama, karena dalam tinjuan syariah mewujudkan manfaat lebih utama dari menyia-nyiakannya.

Fatawa Azhariyah, Mei 1997, Syeh Athiyah Muhammad Shaqr.

Melihat keterangan di atas, sebenarnya yang dianjurkan dalam masalah ari-ari adalah menguburnya. Dimana dikuburkan dan bagaimana? Tidak ada ketentuan khusus yang diberikan agama tentang ini. Dalam tradisi masyarakat kita terkadang kita temukan beberapa kepercayaan tentang masalah penguburan ari-ari, namun hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan ajaran agama kita.

Wallahu a'lam


Wassalamu'alaikum wr. wb.

Muhammad Niam
 
 
Surah:. Faathir (35)
Ayat: 19
 Listen to this ayat (verse)  وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ
35.19. Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.
[ Faathir : 19 ]

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com