Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Penciptaan Alam Seisinya Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Assalamu'alaikum wr. wb.
Saya punya pertanyaan yang selalu mengendap di hati saya sejak lama, yaitu tentang penciptaan langit dan bumi beserta seluruh isinya.

Untuk apakah Allah menciptakan itu semua, padahal Allah itu tidak membutuhkan apapun dari hasil penciptaannya itu. Termasuk penciptaan manusia, untuk apa kita diciptakan (ada yang bilang untuk "ibadah" masuk surga) tapi itu dari perspektif manusianya. Pertanyaan inilah yang bikin bingung saya selama ini.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Identitas pengirim ada pada PV

Jawab:


Pernyataan Anda mengndung dua permasalahan, yaitu:
  1. Untuk apa Allah menciptakan alam semesta sedangkan Allah swt. tidak membutuhkan hasil ciptaanNya?.
  2. Untuk apa kita diciptakan?
A. Aspek Kajian Tafsir

Kami jawab dari permasalahan kedua agar dapat berkait dengan permasalahan pertama.

  1. Untuk apa kita diciptakan:

    Berangkat dari firman Allah swt.: "Tidak Aku ciptakan bangsa jin dan manusia kecuali untuk beribadah" (QS. Adz Dzariyat (51): 56) bisa dikatakan adalah prespekif kebutuhan makhluk Allah swt. yang bernama jin dan manusia. Namun sebelum menyimpulkan penafsiran ayat tersebut prespektif manusia (atau jin) ada baiknya kita mengkaji beberapa pendapat mengenai makna dari ayat penciptaan manusia dan jin.

    Ada perselisihan pendapat dari ahli takwil mengenai makna dari ayat tersebut:

    Pendapat kesatu mengartikan: "Tidak Aku ciptakan bangsa jin dan manusia yang bahagia (atas penciptaanNya) kecuali beribadah kepadaKu, bagi yang sengsara kecuali untuk maksiat kepadaKu", karena ada hadits yang berpangkal pada periwayatan Zaid bin Aslam, yang mengatakan: "Allah tidak membentuk watak kebahagiaan dan kesengsaraan kepada mereka" begitu juga hadits yang diriwayatkan dari Sofiyan". Sebagian dari suatu ciptaan memang untuk tugas peribadatan (entah menyeleweng atau tidak)".

    Adapun pendapat kedua mengartikan: "Tidak Aku ciptakan bangsa jin dan manusia kecuali tunduk beribadah kepadaKu". karena ada hadits ibnu Abbas: "...kecuali menetapkan pada mereka untuk beribadah baik secara sukarela maupun dengan keterpaksaan".

    Dalam mengentaskan dua pendapat tersebut, seorang mufassir besar Imam Thabary dalam bukunya "Jami' al Bayan" mengenai pentakawilan al Qur'an, Jilid XIII (Daar al Fikr, Beirut, 1995) lebih mendukung pada penafsirannya Ibn Abbas, dengan membeberkan sebuah arti: " Tidak Aku ciptakan bangsa jin dan manusia kecuali untuk peribadatan kepadaKu dan tunduk pada perintahKu".

    Namun dalam prespektif manusia: Kenapa ada manusia yang tidak beribadah dan kafir , padahal Allah menciptakan manusia (dan jin) untuk beribadah dan tunduk kepadaNya?. Hal ini menurut Imam Thabary, kita kembalikan kapada ketetapan Allah bahwa Allah Maha kuasa terhadap jin dan manusia untuk tunduk terhadap ketetapanNya (qadla-Nya), baik tunduk terhadap ketetapan sebagai Kafir maupun Muslim. Dari sinilah, ketetapan tersebut akan bisa dirubah atas usaha jin dan manusia untuk tetap selalu ibadah kepadaNya, seperti dalam ayat yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah swt. tidak merubah suatu kaum kecuali atas usahanya sendiri.

  2. Untuk apa Allah menciptakan alam semesta sedangkan Allah swt. tidak membutuhkan hasil ciptaanNya?.

    Berkaitan masalah penciptaan Allah terhadap jin dan manusia, ada perselisihan antara Ahli sunnah dan Mu'tazilah seperti yang diungkapkan pada aspek satrawinya oleh Prof. Muhyiddin ad Darwisy dalam bukunya: "I'rab al Qur'an al Karim", bahwa Allah swt tidak membutuhkan segala sesuatu dari hambaNya, baik berupa rejeki atau makanan.

    Akan tetapi meninjau secara esensial tidak ada perselisihan antara dua golongan ulama tersebut sebab kedua perselisihan itu sama-sama bermuara pada keMahaKuasaan Allah terhadap segala makhluknya. Adapun peribadatan yang Dia sebutkan dalam kalamNya, adalah peribadatan secara kebutuhan makhluk an-sich (saja).

    Hal ini diterangkan Allah pada ayat selanjutnya: "Aku tak membutuhkan dari mereka (jin dan manusia) secuil rejeki pun, dan Aku tak meminta mereka untuk memberi makanan " (QS. Adz Dzariyat(51): 57), arti menurut Ibn Abbas: "memberi makanan untuk diri mereka sendiri". Peribadatan sebagai kebutuhan makhluk an-sich tersebut ditekankan dalam ayat ini sebagai argumentasi bahwa justru Allah lah yang memberi rejeki dan memberi makanan kepada mereka, bahkan pada ayat selanjutnya Allah malah menyebutkan dengan asmaNya sendiri: "Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezeki lagi Maha mempunyai kekuatan yang dahsyat" (QS. Adz Dzariyat (51): 58).

    Adapun bila dikaitkan dengan kenapa Allah menciptakan alam semesta, ada baiknya kita kaji kembali nila-nilai yang terkandung dalam firman Allah swt.: " Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta peredaran malam dan siang merupakan tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulil Albab)" (QS. Ali Imran (3);190)

    Dalam tafsir al Manar, karangan ulama besar M. Rasyid Ridha pada juz IV, disebutkan mengenai sebab turunya ayat tersebut dari periwayatan Ibnu Abbas, bahwa kaum Quraisy datang pada orang Yahudi dan bertanya: "Dengan apa Musa datang kepada kalian menyerukan firman-firman Allah?", dijawabnya: "Dengan tongkat saktinya dan tangan yang putih memancarkan sinar", kemudian mereka (kaum Quraisy) datang kepada orang Nasrani: "Dengan apa Isa datang pada kalian?" ,dijawabnya: "Dengan menyembuhkan orang buta bawaan dan sakit lepra, serta menghidupkan orang mati. Lalu mereka (kaum Quraisy) datang kepada Nabi saw. dengan pertanyaan yang serupa maka turunlah ayat tersebut.

    Disitu M. Rasyid Ridha menerangkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi begitu pula sirkulasi siang dan malam sebagai sarana berfikir bagi ibaad (para hambanya) agar tidak terjebak pada jenis mirracle (atau keajaiban) hingga mereka bisa lebih leluasa untuk beribadah kepada Allah semata dengan menggunakan pikirannya. Dan ulul albab di atas diterangkan orang yang mepunyai "al lub singularnya al bab" yang artinya poros kehidupan, adapun "akal" bernama "al lub" karena mempunyai proses induktif, memandang, mengambil manfaat dan mendapat petunjuk.

    Begitulah penafsiran para Ulama, yang menetapkan sebuah peribadatan sebagai kebutuhan manusia dan Allah swt. tidakmembutuhkan segala sesuatu dari ciptaanNya. Wa Allahu A'lam.

Eva Fachrunnisa Amrullah


B. Aspek Kajian Filsafat

Untuk mendukung dari kajian Tafsir yang dilontarkan oleh Ustadzah Eva Fachrunnisa di atas. Di sini saya akan sedikit membeberkan aspek kajian filsafat bila kita bicara: "Mengapa? atau Untuk Apa?" kita harus beribadah kepada Tuhan.

Secara sejarah filsafat agama, hal ini pernah dilontarkan Imanuel Kant, bahwa evolosi agama (masuk di dalamnya adalah proses peribadatan) yang paling awal terjadi pemikiran dan keyakinan politeisme, kemudian terjadi penyempurnaan sehingga pemikiran dan keyakinan tersebut mengerucut menjadi monoteisme (tauhid).

Walaupun pernyataan Imanuel Kant ini banyak sekali ditentang oleh kaum agamawan, karena evolusi tersebut terlalu berpihak pada prespektif manusia sehingga mengaburkan teks-teks dalam kitab suci sebagai kalam Ilahi yang penuh dengan kebenaran. Namun di sini kita ambil secara eksplisit bahwa prespektif manusia untuk membuat aktifitas ritual peribadatan merupakan kebutuhan sangat manusiawi.

Dalam hal peribadatan memang tak lepas dari pecarian manusia terhadap Sang Pencipta. Dan kita juga pernah mendapatkan cerita Al Qur'an mengenai agama Hanif, bahwa proses pencarian ketuhanan Nabi Ibrahim berawal dari memandang bulan, kemudian matahari hingga akhirnya sampailah pada kongklusi logika metafisis, bahwa dibalik fisis matahari dan bulan tesebut ada Sang Pencipta bulan dan matahari yaitu Tuhan.

Didik L. Hariri
 
 

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com