Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Hubungan Suami Istri Tidak Serasi Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Tanya:

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya seorang suami (45 th) dari seorang istri (47 th). Kami telah menikah selama 15 tahun dan berputra satu (10 th). Kami termasuk keluarga yang rajin beribadah. Telah setahun kami tidak melakukan hubungan suami istri, berhubung istri selalu menolak. Alasannya letih atau mau melakukan sholat dan berdo'a pada malam hari. Bahkan untuk bercumbu (ciuman, pelukan... maaf) istri sering menolak, seringkali dengan kasar.

Sebetulnya saya ingin mempertahankan pernikahan ini, tapi sulit mentolerir istri yang selalu menolak. Saya pernah mengajak istri untuk berkonsultasi ke BP4, tapi Ia menolak. Mohon nasihat apa yang sebaiknya dilakukan?

Wassalamualaikum Wr. Wb.


Jawab:

Di sini saya mencoba membahas permasalahan Anda dengan dua aspek:

Pertama, aspek hukum:

Dalam hukum Islam, istri yang menolak ajakan suami untuk bersebadan dikategorikan dengan perbuatan Nusuz yaitu maksiat (durhaka) kepada suami di dalam melaksakan kewajiban rumah-tangga (pernikahan).

Sebab dasar tinjauan hukum adanya pernikahan adalah penghalalan hubungan sebadan seperti hadis Nabi: "Hubungan sebadan menjadi halal atas dasar kalimat Allah", bahkan banyak firman Allah memberikan dorongan positif terhadap hal tersebut seperti dalam firmanNya : "Wanita-wanitamu (istrimu) adalah ladang bagimu dan datangilah ladangmu bagaimana saja yang kamu kehendaki" (QS. Al Baqarah [2]:233).

Dan dalam hukum Islam juga memberi keterangan mengenai Istri Nasizah (Yang Durhaka) banyak ulama berpendapat: "Suami sudah tidak mempunyai kewajiban untuk menafkahi istri yang mendurhakai (nasizah) suami".

Termasuk kategori nusuz pula, penolakan istri untuk berhubungan badan dengan alasan sedang mengerjakan puasa sunat dan salat sunat. Dan termasuk perbuatan nusuz juga, menurut empat madzhab [Maliki, Hanafi, Syafi'i, Hanbali], Istri yang berpergian tanpa ridho suami, meski pergi dalam rangka mengerjakan haji, seperti dalam QS. Al Ahzab [33]:33 & At Thalaq [65]: 1 & 6.

Bahkan keengganan sang istri untuk seranjang bersama dalam rangka berdialog termasuk kategori istri yang meninggalkan kewajiban taat dan saling menghormati (al-Mu'asyarah bi al-Ma'ruf) seperti dalam al-Qur'an al-Baqarah [2]: 228, "Bagi mereka (para istri) mempunyai hak dan kewajiban yang seimbang dengan cara yang ma'ruf" dan di sisi lain kewajiban istri ditekankan dalam hadis Nabi saw: "Apabila suami memanggil istri ke ranjangnya, namun istri menolak datang sehingga membuat suami marah, maka sang istri akan dilaknat malaikat sampai paginya" HR. Ibn Majah dan Tirmidzi.

Begitu juga hadis Nabi saw: "Tidaklah istri menyakiti suami di dunia kecuali ia bicara pada suami dengan mata yang berbinar, janganlah sakiti dia (suami), agar Allah tidak memusuhimu, jika suamimu terluka maka dia akan segera memisahkanmu kepada Kami (Allah dan Rasul)". HR. Tirmidzi dari Muadz bin Jabal.

Kedua, aspek psikologis:

Keengganan istri untuk bersenggama barangkali ada beberapa faktor psikologis dan biologis yang mengganjal dalam diri masing-masing, hingga buntunya sebuah dialog.

Hal yang sering terjadi adalah karena tidak adanya keterbukaan istri untuk menerima kekurangan sang suami dan ketidakmengertian sang suami dalam memahami istri hingga mengendap dalam waktu yang lama sampai bawah sadar. Dalam hal inilah seorang suami perlu melakukan instrokpeksi terus-menerus kemudian dengan pelan-pelan kita ajak istri untuk melakukan dialog instropektif.

Dalam melakukan dialog instropektif sebaiknya perlu adanya situasi dan kondisi yang nyaman bahkan tempat yang nyaman pula. Mungkin pada hari libur ajaklah keluarga Anda untuk menikmati liburan murah meriah di luar rumah, seperti tempat rekreasi yang menyejukkan dan indah dipandang.

Selain itu mungkin ada satu faktor perkembangan biologis istri Anda, seperti terjadi frigiditas, atau barangkali sedang menghadapi masa manoupause, dan biasanya seorang wanita yang menjelang manoupause mempunyai kejiwaan yang sedikit labil dan frigid.

Maka sebelum mencapai pada pertimbangan aspek hukumnya maka sebaiknya perlu diadakan diskusi yang baik dengan saling membuka kelemahan-kelemahan masing-masing pihak kemudian saling menerima (dan mari ajak istri Anda merenungi al-Qur'an surat Al Baqarah [2]: 187, hingga keberadaan rumah-tangga tersebut bisa dikendalikan dengan baik).

Demikian jawaban saya semoga bisa bermanfaat, dan saya berdoa agar Allah selalu memberikan jalan yang terbaik bagi Anda, tentunya dengan usaha dan doa sekaligus Anda coba berdialog dengan Tuhan lewat salat sunat istikharah untuk keputusan yang lebih baik dan diridlaiNya. Wallahua'lam bisshawaab.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Didik L. Hariri
 
 

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com