Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Menunda Haid demi Puasa Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Kasihan kaum perempuan yang rajin beribadah, ingin senantiasa bersama Tuhannya, lantas kedatangan rutinitas haid (daurah syahriyah). Puasanya terputus, tidak bisa beri'tikaf, tidak pula tadarrus (membaca al-Qur'an). Dengan terpaksa tanpa salat malam, tidak pula tadarrus, ia melakukan munajat ke hadirat Tuhannya melalui dzikir-dzikirnya.
Sebenarnya kaum perempuan juga tak perlu bersedih saatnya datang bulan. Bukankah menerima apa adanya, ikhlas, dia tidak berpuasa, tidak melakukan salat itu juga menuruti syari'at? Dengan begitu, sebenarnya juga ia beribadah? Pahala baginya?

Iya, tapi kan kurang puas.

Nah, bagaimana seandainya ia menggunakan obat penunda haid, dengan harapan bila ia suci dari haid maka bisa sepuasnya menikmati ibadah dalam Ramadhan yang penuh berkah ini, bolehkah?
Selama obat itu tidak menimbulkan efek yang membahayakan kesehatannya, ya boleh saja. Ibnu Qudâmah al-Hanbaliy (meninggal tahun 620 H, sekitar awal abad 13 M) dalam kitabnya Al-Mughni (juga Al-Hathaab al-Mâlikiy dalam kitabnya Mawâhib al-Jalîl, dan Al-Ramliy al-Syâfi'iy dalam Al-Nihâyah-nya) telah membahas hal yang sama. Mereka tak mempermasalahkan seorang perempuan yang meminum obat-obatan penunda haid.

Hal yang sama juga berlaku dalam ibadah haji. Seorang perempuan yang khawatir terganggu ibadah hajinya gara-gara haid, silahkan saja meminum obat penunda haid.

Tapi, sekali lagi, saya lebih memilih sesuatu yang natural, yang alami. Bila saatnya datang bulan, ya sudah tak apa-apa, lakukan saja dengan ikhlas.

=======================
Editor: Arif Hidayat
 
 
Surah:. An Nuur (24)
Ayat: 22
 Listen to this ayat (verse)  وَلَا يَأْتَلِ أُوْلُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
24.22. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [1033], [1033] Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar r.a. bahwa dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri 'Aisyah. Maka turunlah ayat ini melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema'afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.
[ An Nuur : 22 ]

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com