Nabi Bermuka Masam?

Tanya:

Dalam Al-Qur'an terjemahan Departemen Agama RI surat 'Abasa ayat 1, yang dimaksud DIA adalah nabi Muhammad saw. Betulkah nabi yang maksum melakukan hal yang 'tidak terpuji' (melengos & bermuka masam) seperti ini?

Ujang Furqon - Serang

Jawab:

Dalam suatu pengajian Ramadhan di Cairo, Mesir, Prof. Dr. M. Quraisy Shihab (salah satu ulama tafsir) pernah memberikan penjelasan mengenai ayat ini. Beliau mencontohkan dirinya sendiri, seandainya sedang mengadakan rapat yang penting di rumah, lalu tiba-tiba ada orang nyelonong masuk untuk menemuinya. Maka beliau tentu merasa terganggu, di samping jalannya rapat juga akan terganggu. Seperti itulah yang dialami oleh Nabi. Ketika itu, Nabi sedang rapat dengan para pemimpin kaum Quraisy, di mana Nabi sangat mengharapkan bisa mengajak mereka (menerima Islam). Sebab, kalau para pemimpin itu sudah menerima Islam, maka para penduduk Makkah-pun akan mengikuti mereka. Pada saat itulah ada seorang buta (Ibnu Ummi Maktum) nyelonong masuk. Maka wajar saja jika Nabi lantas bermuka masam karena ulah orang yang tak tahu tatakrama tersebut (tapi tidak marah dan mengusirnya). Jadi sikap Nabi seperti itu bukan karena orang tersebut miskin atau buruk rupa. Namun demikian itu dianggap kesalahan oleh Allah karena beliau adalah seorang Nabi, maka lantas Allah menegurnya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh para ahli hikmah, sesuatu yang belum termasuk kesalahan bagi manusia biasa, bisa jadi merupakan kesalahan bagi para Nabi. Dan kesalahan yang dilakukan oleh para Nabi hanyalah kesalahan yang semacam itu, bukan kesalahan maksiat seperti yang dilakukan oleh orang awam.

Contoh lain adalah kesalahan nabi Nuh, ia dianggap salah karena berdoa agar Allah menurunkan siksa kepada kaumnya yang durhaka. Kalau kita sebagai orang awam berdoa seperti itu, tentu wajar-wajar saja (bukan maksiat), karena sudah berkali-kali mereka diingatkan tapi tetap tak mau menurut bahkan mencemooh. Namun begitu, Allah menegur sikap-sikap seperti itu, karena para Nabi diharuskan mempunyai kesabaran yang tak berbatas. Juga kesalahan yang dilakukan Nabi Ibrahim, beliau dianggap salah oleh Allah karena berbohong kepada orang-orang kafir tentang siapa yang menghancurkan berhala mereka. Pada saat itu Nabi Ibrahim mengatakan bahwa berhala yang paling besar-lah yang melakukannya. Jawaban tersebut dimaksudkan untuk mendebat mereka mengenai tauhid, karena kaum kafir itu pasti akan mengatakan bahwa patung batu itu tak bisa melakukan apa-apa, sehingga Nabi Ibrahim semakin mudah menyerang argumen mereka: mengapa mereka sudi-sudinya menyembah batu yang tak bisa melakukan apa-apa?!

Demikian. Wa Allahu A'lam bi al-Shawab.


Ali Mashar