Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Salat Witir, Mandi Junub & Wudhu Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saya ingin menanyakan masalah sholat tahajud, bolehkan kita melakukan sholat tahajud setelah sebelumnya kita melaksanakan sholat witir. Apakah perlu kita sholat 1 rokaat utk membatalkan witir tsb sebelum melaksanakan tahajud dan kemudian setelah tahajud ditutup lagi dgn sholat witir ?

Yang kedua apakah kita perlu wudlu lagi apabila kita telah melaksanakan mandi besar/junub, sedangkan mandi itu sendiri sudah mengangkat hadats kecil dan besar. Demikian pertanyaan dari saya mohon jawabannya. Sekian terima kasih.

Wassalam,

Budi
Tuban Jatim


Jawab:

Yang saudara pertanyakan persis dengan apa yang terkandung dalam sebuah riwayat: bahwasanya Ibnu Umar ditanya mengenai salat witir, beliau menjawab demikian: "Jika saya sudah melaksanakan salat witir sebelum tidur, kemudian hendak melakukan salat malam (ketika bangun), maka saya melakukan (menggenapkan dengan menambah) satu rakaat dari witir yang telah saya lakukan sebelum tidur. Lalu saya salat dua rakaat-dua rakaat. Setelah selesai salat, saya akhiri dengan salat witir satu rakaat. Karena Rasulullah saw. menyuruh kita untuk mengakhiriri salat malam dengan witir." [HR. Ahmad]

Jadi, tujuan melakukan satu rekaat lagi setelah bangun (sebelum melakukan salat tahajud) adalah untuk menggenapkan (untuk membatalkan) satu rekaat yang telah dilakukan sebelum tidur.

Namun ada juga pendapat lain, yang mengatakan bahwa barang siapa yang telah melakukan witir, lantas ingin melakukan salat sunat setelah itu, maka ia tak perlu lagi membatalkan salat witir yang telah dilakukannya. Karena Nabi sendiri suatu kali pernah melakukan witir lantas melakukan salat sunat setelahnya, tanpa mengerjakan witir sekali lagi. "Laa witraani fii lailatin", kata Nabi. Bahkan Sayidah 'Aisyah pernah menjawab pertanyaan "bagaimana mengenai orang yang membatalkan witirnya yang pertama karena ia ingin mengerjakan salat sunat lagi", demikian: "Itulah orang yang mempermainkan witirnya".

Yang terakhir ini yang lebih kuat menurut saya.

***
Mengenai mandi junub, apakah ia secara otomatis juga menghilangkan hadas kecil sehingga kita tak perlu berwudhu'. Memang ada pendapat yang mengatakan demikian (Malikiyah dan Syafi'iyah). Selama tidak ada sesuatu yang membatalkan wudhu' mandinya sudah mencukupi dari wudhu'. Baik saat niat mandi itu dibarengi dengan niat wudhu atau tidak. Lain lagi dengan madzhab Hanbaliyah, yang berpendapat bahwa mandi junub bisa juga menggantikan kedudukan wudhu', jika memang bersamaan dengan niat mandi ia juga berniat wudhu'.***

Arif Hidayat
 
 

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com