"I.s.l.??.m", Sebuah Refleksi

Keberhasilan manusia membangun peradaban bukanlah melalui jalan sim-salabim, seperti dongeng-dongeng kuno dari negeri Baghdad. Ia memerlukan proses yang sangat panjang dan melelahkan. Demikian pula kehancuran suatu peradaban, tidak langsung saja terjadi begitu seluruh manusia, misalnya, menyalurkan kepuasan seksualnya secara liar dan tanpa aturan. Detik ini manusia melakukan itu semua, kerusakan jelas tidak akan terjadi pada detik ini pula. Maka, itu semua “hanyaâ€? menjadi “tabungan kecilâ€? menuju kerusakan global. BEBERAPA hal yang saya sampaikan dalam tulisan seputar syariat pernikahan bisa dijadikan sebagai â€کnuqthatul-inthilأ¢q’, titik tolak [starting point], untuk lebih jauh merefleksikan makna-makna Islam. Persoalan seperti pemahaman (syariat) pernikahan dalam Islam seharusnya tak dianggap sebelah mata. Ia memang bagian â€کkecil’ dari konstruksi syariat Islam, namun demikian ia tidak bisa dianggap remeh, bahkan saya sangat yakin bahwa syariat “yang remehâ€? tersebut jika dilikuidasi sesuai dengan selera menyalurkan kepuasan seksual di era modern, maka ia bisa menjadi petaka bagi sebuah peradaban manusia. Dalam hal ini, marilah kita bersama-sama menaruh, memikiran dan merenungkan sebuah pertanyaan simpel : benarkah kerusakan sistem dan aturan syariat pernikahan dapat mengakibatkan kehancuran sebuah peradaban? Pertanyaan ini silahkan dijawab melalui perenungannya masing-masing. Seperti yang saya sebutkan di atas, bahwasanya (syariat) pernikahan adalah bagian â€کkecil’, namun keberhasilan syariat ini menjadi sumber kesuksesan kelanggengan suatu peradaban, dan demikian pula kegagalan metode ini menjadi â€کtabungan kecil’ bagi kehancuran suatu peradaban. Keberhasilan manusia membangun peradaban bukanlah melalui jalan sim-salabim, seperti dongeng-dongeng kuno dari negeri Baghdad. Ia memerlukan proses yang sangat panjang dan melelahkan. Demikian pula kehancuran suatu peradaban, tidak langsung saja terjadi begitu seluruh manusia, misalnya, menyalurkan kepuasan seksualnya secara liar dan tanpa aturan. Detik ini manusia melakukan itu semua, kerusakan jelas tidak akan terjadi pada detik ini pula. Maka, itu semua “hanyaâ€? menjadi “tabungan kecilâ€? menuju kerusakan global. *** Saya ingin mengajak masing-masing diri kita menelaah ayat berikut : “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah swt; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)â€? (Ali Imran). Ayat tersebut memang berbicara soal dusta terhadap risalah kenabian seorang nabi, dan secara khusus lagi sebagai peringatan kepada masyarakat jaman Nabi Muhammad saw. Tetapi, menurut saya, ayat tersebut memiliki nilai yang luar biasa besarnya bagi kelanggengan suatu kehidupan peradaban manusia. Karena ia merupakan perintah untuk selalu meneliti dan mengingat mengapa dan bagaimana masyarakat sebelum kita menemui kehancuran. Kalau kita datang ke negeri Luksor, sekitar 800 km selatan Cairo, maka kita akan menemukan secara kasat mata bagaimana majunya peradaban Fir’aun ribuan tahun yang lalu. Di sana, termasuk sebagian besar daerah-daerah di Mesir, menjadi bukti otentik yang sangat memberikan keyakinan kepada saya bahwa kemampuan apapun yang dimiliki manusia, ternyata akan ambruk juga. Adalah janji Allah swt kepada kita untuk menampakkan benda-benda kejayaan (material) mereka, “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu [Fir'aun] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kamiâ€?. (Yunus 92). Piramida yang menjadi salah satu 7 keajaiban dunia, sebenarnya bagi masyarakat lampau bukanlah suatu hal yang ajaib, karena ia tidak lain adalah kuburan bagi raja-raja Mesir kuno. Jika kuburannya saja seperti itu, mari kita bayangkan bersama, bagaimana para raja Mesir kuno membangun istananya? Ya, peradaban Mesir memang luar biasa, Abu Simbel, dan sebagainya, membuatku tertegun duduk di depannya, Peninggalannya membelalakkan mata, Jikalau hanya untuk membuat bangunan sekelas Candi Borobudur, maka orang Mesir hanya cukup menggunakan tangan kiri saja! *** Apakah “sunnah-sunnah Allahâ€? (Sunnatullah) itu, sebagaimana yang disinyalir oleh ayat surat Ali Imran di atas? Yaitu sebuah rumusan atau teori kehidupan yang dirumuskan oleh Sang Pencipta. Ia menjadi semacam â€کhukum Tuhan’, atau pada dasarnya memang hukum Tuhan, yang mewakili eksistensi Tuhan. Karena ia yang mewakili, maka ia-lah yang berlaku kepada kita dan semesta alam. Contoh sederhana adanya hukum Tuhan adalah : siapapun yang memanaskan air hingga 100 derajat celcius, maka air itu akan mendidih, tidak peduli yang memanaskan tadi orang atheis atau muslim. Hanya saja, karena manusia memang benar-benar “lupaâ€?, maka semua itu dianggap sebagai “penemuan ilmiahâ€? yang membuktikan tidak adanya Tuhan. Dan hal itu hanya contoh yang sangat amat kecil dari sunnah-sunnah Allah yang, kalau kita bayangkan, di setiap sisi kita ada sunnah-sunnah tertentu. Hanya manusia yang senantiasa dalam proses untuk melakukan â€کkajian ilmiah’ sehingga bisa â€کmenemukan hal-hal ilmiah’. Orang yang, misalnya, menemukan teori listrik, sebenarnya, ia tidak menemukan teori itu dari “tidak adaâ€? menjadi “adaâ€?, melainkan menemukannya dari “tersembunyiâ€? menjadi “nyata dan terbuktiâ€?. Teori itu, percaya atau tidak, sebelumnya sudah dikonstruk oleh Tuhan dengan rumusan-rumusan tertentu. Jauh sebelum para ilmuwan mendapatkan suatu keyakinan dan teori ilmiah bahwa di jagat raya ini ada banyak planet, dan bahwa bumi adalah salah satunya, yang berputar mengelilinginya; jauh sebelum manusia mengetahui itu semua, maka hal-hal yang dianggap penemuan itu sudah lama berlalu, berlangsung dan terjadi. Demikian juga dengan berbagai teori ilmu pengetahuan lainnya. *** Itu semua adalah sunnatullah yang berhubungan dengan alam semesta. Sangat banyak, dan untuk menyatakan adanya hal itu, jelas, al-Qur’an tidak cukup memuatnya. Sebelum kita berasumsi tentang ketidakcukupan al-Qur’an untuk memuatnya, al-Qur’an telah dulu menyatakannya; “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)â€?. (Al-Kahfi) Pada ayat lain, Dia swt mengingatkan juga; “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksanaâ€?. (Luqmأ¢n) Pada kedua ayat di atas, Dia swt menyatakannya dengan istilah “kalimat-kalimatâ€?, yaitu Ilmu-Nya dan Hikmat-Nya, yang dalam hal ini tidak lain adalah sunnah-sunnah-Nya. Di sini, kita bisa menyebut al-Qur’an sebagai kitab “Tadwأ®nأ®â€? –sesuatu yang bersifat pembukuan—, dan alam semesta sebagai kitab “Takwأ®nأ®â€? –sesuatu yang bersifat penciptaan. Pada dikotomi ini, kritik Mahathir Muhammad atas umat Islam adalah : umat Islam hanya mempelajari kitab “Tadwأ®nأ®â€? dan sering lupa dengan kitab “Takwأ®nأ®â€?. Dengan kesadaran baru, marilah kita kembangkan ilmu-ilmu “Tadwأ®nأ®â€? pada kaum muslimin. Dalam hal perkembangan fisik manusia, misalnya, al-Qur’an tidak banyak bicara selain hal-hal global. Istilah-istilah al-Qur’an hanya memuat kata-kata seperti Turأ¢b, Thأ®n, Thأ®n Lأ¢zib, Hama’ Masnأ»n, Shalshأ¢l, Fakhkhأ¢r, baru kemudian ditiupkan Rأ»h. Atau Nuthfah, â€کAlaqah, Mudhghah, â€کIdzأ¢m dan Lahman kemudian Khalqan أ‚khar, dan itu sebenarnya tidak bertentangan dengan teori-teori ilmiah yang ada pada ilmu Biologi. Istilah-istilah seperti sperma, ovum, janin, dan sebagainya, adalah –diakui atau tidak— hasil pengembangan otak manusia untuk mencapai pada teori dalam ilmu-ilmu Takwأ®nأ® yang disediakan oleh Tuhan. Umat Islam sudah waktunya untuk menyadari hal ini, bahwa ilmu-ilmu Takwأ®nأ® bukanlah ilmu â€کsekuler’ yang menjauhkan diri kita kepada Tuhan. Sebaliknya, seperti yang diterangkan dalam buku The Evidence of God in an Expanding Universe (Putnam's Sons Publishing, New York), semua itu akan memberikan inspirasi kepada peminatnya untuk mengetahui lebih jauh mengenai kebesaran Tuhan yang Maha Kuasa. *** Dalam hal syariat Islam pun juga sunnah-sunnah Tuhan yang rumusnya telah dipasang. Para intelektual muslim sedang dan selalu berjibaku untuk menguak rahasia-rahasia di balik syariat-syariat. Tidak perlu orang Islam merasa memiliki syariat (yang dianggap) menghalangi kebebasan manusia untuk melakukan apa yang disukainya. Dulu, manusia tidak pernah tahu bahwa menggunduli hutan bisa mengakibatkan banjir dan tanah longsor yang dapat mengorbankan manusia lainnya. Rumusan itu telah ditemukan, dan tentang hal ini manusia menyadari dan interospeksi diri. Dulu, manusia tidak pernah menduga bahwa melalui teknologi hand-phone, benda seukuran telapak tangan, manusia bisa melakukan pembicaraan jarak jauh. Andaikan pembicaraan gaya HP itu dilakukan oleh manusia 1000 tahun lalu, maka hal itu akan menjadi mukjizat, jelas terasa aneh karena ia mendahului “penemuan ilmiahâ€?. Di sinilah rasionalisasi dari sebuah mukjizat; bahwa mukjizat adalah bagian dari teori Tuhan yang sebenarnya tidak bertentangan dengan akal manusia. Hanya manusia saja yang belum bisa menemukan rasionalitasnya. Bagi orang awam teknologi seperti saya, mencari rasionalitas teknologi terasa sulit, bagaimana sebuah suara ditransfer sedemikian cepat melalui udara. Dan berkenaan dengan perkembangan manusia dari waktu ke waktu dalam menemukan “penemuan-penemuan ilmiahâ€?, Nabi Muhammad saw pernah menyatakan, yang artinya; “Nanti akan datang suatu zaman di mana manusia bisa menaiki kendaraan secepat awan….â€?. Dari sini juga, sebenarnya, bisa dikatakan bahwa upaya-upaya para kaum intelektual muslim untuk menguak rahasia-rahasia di balik syariat adalah sebuah usaha untuk merasionalisasikannya. Tulisan saya tentang syariat pernikahan memang sederhana. Namun, ada harapan yang lebih besar dari kesederhanaan tulisan itu, yakni kesadaran bahwa syariat itu mampu memberikan inspirasi buat kita untuk memahami maksud-maksud dan rahasia Tuhan di baliknya. Ya Allah, tunjukkan kepada kami Sunnah-sunnah-Mu, yang dengannya kami semakin beriman kepada-Mu, Amin.