Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Niat puasa, Qadha dan Fidyah Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Assalamualaikum Wr.Wb.

P'Ustad, saya mau tanya :
  1. Bolehkah niat puasa untuk satu bulan saja, toch kita memang akan berpuasa selama 30 hari. Atau niat itu kita cadangkan kalau-kalau kita kelupaan niat puasa yang dilakukan per hari (terlewat sahur).
  2. Bagaimanakah menggantikan puasa tahun kemarin yang pembayarannya terlupa pada tahun ini, apakah bisa diakumulasi dengan pembayaran puasa tahun berikutnya? Atau harus bayar fidyah? Dengan membayar fidyah apakah kita tetap wajib membayar puasanya atau dianggap sudah terganti?
Terima kasih.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Dj

Jawab:

Pertanyaan pertama:

Jumhur (mayoritas) Ulama berpendapat bahwa melakukan niat tiap hari dalam puasa wajib (apasaja jenisnya) adalah syarat sahnya puasa, karena masing-masing hari adalah ibadah tersendiri, tidak berkaitan satu hari dengan hari berikutnya.

Berbeda jumhur, mazhab Malikiah mencukupkan melakukan niat sekali untuk satu bulan penuh, berdasarkan firman Allah swt. "Barang siapa yang hadir dan menyaksikannya (bulan Ramadlan), maka berpuasalah". (QS. Al-Baqarah 185). Adapun apabila di tengah bulan ia menemui 'udzur (haid, sakit, bepergian, dan lainnya) maka harus berniat lagi. Yang demikian ini mencakup semua puasa yang sifatnya terus-menerus dan berkaitan dengan waktu seperti puasa kafarat (dua bulan berturut-turut karena bersetubuh di siang hari Rmadhan atau karena pembunuhan yang disengaja), dll.

Pertanyaan kedua:

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan mengqadha' puasa dan pembayaran fidyah, sbb:
  1. Jika belum mengqadha' sampai memasuki/menjelang Ramadhan berikutnya, hendaknya segera mengqadla' pada hari-hari yang tersisa (dari bulan Sya'ban) dan melanjutkan sisanya seusai Ramadhan.
  2. Apabila penundaan qadha' karena adanya 'udzur/halangan seperti sakit, haid, atau perjalanan yang berkepanjangan sampai datang bulan puasa berikutnya, para ulama sepakat bahwa qadla' bisa dilakukan seusai Ramadhan berikutnya dan tidak diwajibkan membayar fidyah. Namun bila penundaan itu terjadi tanpa ada 'udzur maka diwajibkan membayar fidyah dan mengqadha'.
(Lihat pula Tanya Jawab(29): Fidyah dan Qadha' Ramadhan)


Mutamakkin Billa
 
 
Surah:. Huud (11)
Ayat: 71
 Listen to this ayat (verse)  وَامْرَأَتُهُ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِن وَرَاء إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ
11.71. Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub.
[ Huud : 71 ]

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com