Kekuatan Hijrah

Makna Hijrah akan selalu hidup dalam diri kita. Hidup karena kita menteranformasikan maknanya ke dalam moral. Sehingga peristiwa yang pernah dilakukan Rasulullah itu, tidak semata kejadian biasa, melainkan menjadi sebuah manhaj, yang harus senantiasa direnungkan maknanya dan diamalkan ibrahnya. Lebih-lebih kini Umat Islam sedang berada di titik ujian yang sangat berat. Ujian dari dalam maupun dari luar. Maka masing-masing dari umat Islam – agar bisa lulus dari ujian ini - sangat tertuntut untuk belajar dari masa lalu yang pernah dicapai Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Dan pada kesempatan memulai tahun baru hijriah ini yang paling tepat adalah belajar mengamalkan makna hijrah dan implikasinya dalam kehidupan berukhuwah secara mendalam antara sesama muslim. Karena dari ukhuwah inilah kekuatan baru umat Islam akan terbangun sebagaimana dulu Rasulullah telah membangun kekuatan yang mengagumkan di atas fondasi ukhuwah.

Tahun baru Hijriah telah tiba. Bulan di langit menunjukkan hari tanggal satu Muharram 1425H. Umat Islam dimanapun berada kini dihentakkan oleh getaran sejarah masa lalu. Sejarah di saat Rasululah SAW berhijrah meninggalkan kota Makkah (tempat yang sangat Allah sucikan ) menuju kota Madinah.

Di hari itu tergambar dengan jelas titik perjuangan dan pengorbanan Rasulullah berserta sahabat-sahabatnya untuk mempertahankan risalahnya. Tak terbayang bagaimanan penderitaan yang harus ditanggung ketika di siang hari yang sangat panas atau di malam yang sangat gelap, mereka berjalan kaki, turun naik gunung yang berbatu-batu, melewati padang sahara yang gersang, dengan perbekalan seadanya. Padahal di Makkah mereka bisa hidup nyaman. Namun semua itu dilakukan demi tegaknya agama ini. Hijrah adalah langkah strategis untuk membangun basis kekuatan baru. Tidak hanya kekuatan fisik, melainkan juga kekuatan psikologis.

Dari Hijrah Rasulullah SAW, bisa membangun masyarakat baru di kota Madinah. Masyarakat yang terformulasikan dalam bentuk persaudaraan "ukhuwah" yang sangat kental antara orang-orang yang berhijrah dari Makkah " Muhajirin " dan penduduk kota Madinah yang membantu mereka " al anshar ".

Kekentalan ukhuwah ini bisa dilihat dari sebuah ilustrasi ketika Abdurrrahman bin Auf r.a dari kelompok Muhajarin dipersaudarakan sengan Sa'ad bin al Rabi' dari Anshar. Seketika Sa'ad r.a. dengan penuh kejujuran dan keikhlasan menawarkan kepada Abdurrahman untuk mengambil separuh dari kekayaanya dan salah seorang dari kedua istrinya. Namun apa yang segera terlihat dari peristiwa ini adalah dua hal :

Pertama, bahwa hijrah telah melahirkan suasana baru yang sangat memungkinan terbangunnya ukuwah Islamiyah, di mana kwalitas ukhuwah ini benar-benar melebihi tingkat ukhuwah yang semata tegak di atas hubungan nasab dan darah.

Kedua, bahwa dari bentuk ukhuwah seperti inilah kelak kemudian muncul kekuatan umat Islam yang bisa menaklukkan kekuatan Yahudi di Khaibar, dan bisa mematahkan kekuatan kaum kafir Quraish dalam beberabagai peperangan, yang puncaknya adalah terbukanya kota Makkah " Fathu Makkah ".

Lalu, apa yang harus kita lakukan sebagai umat Islam, dengan hentakan sejarah ini, yang senantiasa berulang di saat-saat kita memasuki tahu baru Hijriah? Apakah cukup dengan hanya mengirimkan ucapan selamat tahun baru, melalui SMS atau email? Di sini ada beberapa langkah penting :

(a) Pasanglah semangat baru untuk memulai tahun baru ini dengan nilai-nilai mulai yang memancar dari relung keimanan kita yang sangat dalam. Yaitu keimanan terhadap kebenaran yang dibawa Rasulullah SAW. tanpa sedikitpun keraguan di dalamnya.

(b) Ikutilah jejak perjuangan dan pengorbanan Rasulullah beserta sahabat-sahabatnya, dimana dari cerminan hijrah yang mereka lakukan, sungguh terlihat betapa mereka tidak lagi mendahulukan dunia dalam langkah hidupnya, melainkan malah mengorbankan dunia untuk kepentingan akhirat.

(c) Bawalah spirit hijrah ini ke segala lapangan kehidupan, dalam arti pindah dari masa lalu yang kurang baik, penuh maksiat ke hari esok yang penuh dengan ketaatan kepada Allah. Tidak hanya dalam segi ibadah melainkan dalam segala lapangan kehidupan. Termasuk berhijrah dari kebiasaan bertindak zalim kepada kebiasaan bertindak adil dalam bermasyarakat, berbisnis dan bernegara.

Dengan demikian makna Hijrah akan selalu hidup dalam diri kita. Hidup karena kita menteranformasikan maknanya ke dalam moral. Sehingga peristiwa yang pernah dilakukan Rasulullah itu, tidak semata kejadian biasa, melainkan menjadi sebuah manhaj, yang harus senantiasa direnungkan maknanya dan diamalkan ibrahnya. Lebih-lebih kini Umat Islam sedang berada di titik ujian yang sangat berat. Ujian dari dalam maupun dari luar.

Maka masing-masing dari umat Islam – agar bisa lulus dari ujian ini - sangat tertuntut untuk belajar dari masa lalu yang pernah dicapai Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Dan pada kesempatan memulai tahun baru hijriah ini yang paling tepat adalah belajar mengamalkan makna hijrah dan implikasinya dalam kehidupan berukhuwah secara mendalam antara sesama muslim. Karena dari ukhuwah inilah kekuatan baru umat Islam akan terbangun sebagaimana dulu Rasulullah telah membangun kekuatan yang mengagumkan di atas fondasi ukhuwah.

Wallahu a'lam bisshawab.

Dr. Amir Faishol Fath