Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Haram Menikahi Saudara Ipar? Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Tanya:

Bagaimana Hukumnya perkawinan yang dilakukan oleh seorang suami terhadap adik iparnya sendiri. Padahal istrinya sendiri masih hidup atau belum bercerai. Bagaimana menurut Pandangan syariat Islam tentang perkawinan semacam ini?

Terima kasih

Burhanuddin - Sumbawa, NTB


Jawab:

Saudara Burhanuddin,
Dalam Islam ada dua larangan bagi pria untuk menikah dengan perempuan. Larangan itu adalah:
  1. Larangan mutlak dan berlaku selamanya
  2. Larangan temporer atau sementara

Nah, yang Anda pertanyakan mengenai menikah dengan adik ipar itu masuk kategori kedua. Adik ipar haram kita nikahi selama kita belum menceraikan kakaknya. Larangan ini sementara, tidak berlaku lagi setelah kita (1) menceraikan kakaknya sampai habis masa iddahnya istri tersebut, atau (2) kakanya meninggal.

Larangan (temporer) ini berlaku tdak saja pada pernikahan (yang mengumpulkan antara) kakak dan adik, tapi, pada dasarnya, berlaku antara dua wanita yang mempunyai hubungan darah. Seperti ibu-anak, keponakan-bibi, dll.

Allah berfirman dalam al Qur'an mengenai masalah itu. "Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan; saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isteri kamu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:23)

Dan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
"Janganlah menikahi perempuan dan menikahi bibinya, kakak ibunya, dan anak saudara laki-laki dan perempuannya. Jika melakukan perbuatan tersebut maka berarti memutuskan tali persaudaraan."

Sebagai makna ayat di atas pula bahwa larangan itu juga berlaku untuk hubungan perempuan dengan bibi dan kakak ibunya yang sederajat dengan posisi ibunya. Hikmah dalam larangan tersebut sangat jelas, karena bisa memutus hubungan silaturahmi antara dua bersaudara.

Demikian jawaban dari kami.


Kuni Khairunnisa

 
 

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com