Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Membagi Harta Warisan(2) Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Tanya:

Pak Ustadz yth,
Sehubungan dengan tanya jawab no. 86, saya mohon pencerahan lebih lanjut mengenai pembagian warisan ini. Di dalam agama Islam, apakah keponakan laki-laki dan saudara laki-laki kandung dari ayah saya juga berhak atas harta warisan ayah saya? Sebab, kebetulan status saya adalah anak tertua dari 3 bersaudara yang kesemuanya adalah perempuan dan 2 adik saya telah almarhumah (meninggal). Sehingga secara pertalian keluarga batih, hanyalah tinggal ibu saya dan saya sendiri.

Saya mohon dengan sangat pencerahannya mengingat sekarang saja di mana ayah saya masih segar bugar, sering mereka menteror kami dengan perkataan yang tidak sedap didengar. Misalnya "kami adalah yang mempunyai hak, karena A (ayah saya) tidak mempunyai anak laki-laki". Atas bantuan dan pertolongannya, saya haturkan banyak terima kasih.

Shintalya - Palembang


Jawab:

Begini Mbak Shinta, perlu diketahui sebelumnya, Islam tidak mengenal sistem keluarga batih (anggota keluarga yang tinggal serumah, dan menjadi tanggungan seorang kepala keluarga). Tapi yang dipakai adalah sistim nasab, yaitu pertalian darah. Selama antara si mayit dan orang yang ditinggal mempunyai hubungan nasab, walaupun tidak tinggal satu rumah (nafkahnya tidak menjadi tanggung jawab si mayit) maka ia mempunyai hak mendapat warisan selama memenuhi syarat.

Seperti saudara laki-laki ayah Anda tsb, dia masih termasuk ahli waris. Walaupun dia secara ekonomis tidak menjadi tanggungjawab ayah Anda, dia akan mendapat warisan dengan syarat tidak ada orang yang menghalang-halangi bagiannya. Penghalangan dari memperoleh warisan itu ada dua macam. Ada yg sekedar mengurangi (hajbun nuqshaan), ada yang menghalangi total (hajbul hirmaan). Yang pertama, seperti suami yg ditinggal mati istrinya: jika ia tidak mempunyai anak (baik laki-laki atau perempuan) bagiannya sebesar setengah peninggalan istrinya, tapi jika mempunyai anak bagiannya berkurang menjadi seperempat. Jadi, anaknya telah menghalanginya dari memperoleh setengah. Demikian juga istri, ia mendapat seperempat dari peninggalan suaminya jika tidak mempunyai anak, dan memperoleh seperdelapan jika mempunyai anak.

Adapun "Hajbul hirmaan" contohnya spt saudara laki-laki, yg tidak memperoleh bagian apa-apa (dari peninggalan saudaranya yg meninggal) jika masih ada bapak. Keberadaan bapak (nya mayit) menghalang-halanginya dari memperoleh warisan. Selain bapak, yang bisa menghalang-halangi dia adalah anak laki-laki, dan cucu laki-laki dari anak laki-laki.

Saudara kandung akan mendapat bagian, selama tak ada orang yang menghalanginya. Misalnya, mayit meninggalkan istri, 1 anak perempuan, dan 2 saudara laki-laki kandung. Maka si istri mendapat seperdelapan, anak perempuan setengah, dan sisanya untuk 2 saudara laki-laki.

Jadi, paman Anda itu mendapat bagian jika kakek (bapaknya bapak) Anda telah meninggal dan, tak ada saudara laki-laki. Kendati begitu, Anda tetap mendapat bagian terbanyak, yaitu setengah dari peninggalan bapak Anda. Seperdelapan untuk ibu Anda, dan sisanya untuk paman Anda. Sedangkan keponakannya bapak Anda tidak mendapat bagian, karena terhalang oleh saudara (nya bapak).

Demikian dulu.


Arif Hidayat

Lihat juga: Tanya Jawab(89): Membagi Harta Warisan

 
 

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com