Ingin Bangun Untuk Shalat Tapi Telat Terus

Tanya:
Saya bekerja pada pada pabrik yang bekerja dari jam 8 malam sampai jam 8 pagi. Sehabis bekerja saya pulang ke rumah dan tidur, kadang sampai jam 16:00. Setelah itu saya shalat Dzuhur dan Ashar dalam waktu Ashar. Sebenarnya saya sudah berusaha bangun sebelum masuk waktu Ashar, tetapi selalu kelewatan. Diperbolehkan-kah apa yang saya lakukan? Kalau memang boleh bagaimana cara dan niatnya? Bisakah untuk shalat-shalat yang lain (secara tidak sengaja)?

Demikian, kami tunggu jawabannya.

M. Aswan Hendrik
ASWAN@m...


Jawab:
Kami tidak bisa membayangkan betapa rasa capai Saudara dengan bekerja semalaman penuh tanpa istirahat. Tetapi memang harus dipahami, bahwa bekerja (mencari rizki) merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan kita memang harus menyesuaikan diri dengan irama bekerja di tempat kita bekerja, termasuk jam kerja dan aturan-aturannya.

Tentang praktek shalat seperti yang Saudara lakukan, kalau memang hal tersebut di luar kemampuan Saudara: semisal sudah memasang weker namun tetap tidak bisa bangun, dalam keadaan tersebut (tertidur), kewajiban shalat Anda telah gugur. Perlu diingat, ada beberapa hal yang menggugurkan kewajiban agama (syara'), diantaranya: lupa, tidur, gila dan mabuk. Tetapi gugurnya kewajiban saat itu bukan berarti Saudara terlepas dari tanggungan shalat sampai melaksanakannya (menggantikannya), yaitu dengan cara mengqadla shalat.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.: Bahwasanya Rasulullah SAW ketika kembali dari peperangan Khaibar, berjalan pada malam hari bersama para sahabat, dan ketika beliau merasakan kantuk, memerintahkan para sahabat untuk berhenti dan beristirahat dan berkata pada Bilal "Berjaga-jagalah malam ini", kemudian Bilal shalat beberapa rekaat dan berjaga-jaga. Rasulullah SAW tertidur bersama para sahabat, dan ketika mendekati waktu fajar, Bilal bersandar pada kuda tunggangannya sambil menghadap pada arah fajar, Bilal merasakan kantuk dan akhirnya tertidur, tak satupun dari para sahabat terbangun hingga panas matahari mengenai mereka, yang pertama kali bangun adalah Rasulullah SAW, terkejut dan berkata pada Bilal, "Hai Bilal", kemudian Bilal menjawab "telah menimpa padaku seperti yang menimpa padamu ya Rasul"(kantuk). Kemudian Rasulullah SAW berkata pada para sahabat "Tambatkan tunggangan kalian", kemudian para sahabat melakukannya. Rasulullah SAW berwudlu dan memerintahkan pada Bilal untuk beriqomat, kemudian Rasulullah bersama para sahabat shalat (qadla) berjamaah dan ketika selesai shalat Rasulullah SAW bersabda "Barangsiapa lupa mengerjakan shalat, maka kerjakanlah shalat ketika Ia mengingatnya, dan sesungguhnya Allah SWT telah berfirman "Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku".

Adapun cara dan niatnya seperti Saudara melakukan shalat tersebut tepat pada waktunya dengan niat dalam hati mengqadla' shalat (tidak wajib melafadzkannya), dan ini juga berlaku pada semua shalat wajib yang tidak sengaja terlewatkan. Tidak wajib terburu-buru melaksanakannya, karena Nabi SAW pada hadits di atas masih memerintahkan para sahabat untuk menambatkan tunggangan mereka sebelum melaksanakan qadla' shalat, akan tetapi para ulama melarang menunda melaksanakan qadla' shalat sampai datang waktu shalat berikutnya atau melaksanakannya pada waktunya di hari kemudian, karena kita tidak tahu apakah besok masih akan melihat matahari atau malah sebaliknya.

Kewajiban shalat bagi setiap muslim adalah mutlak, berbeda dengan ibadah lain seperti puasa, zakat dam haji. Kalau dalam bulan Ramadhan kita wajib puasa, sedang pada masa itu kita sakit, atau menemui kendala lain, maka kita bisa tidak berpuasa dan menggantikannya di hari lain. Lain halnya dengan shalat yang dalam Al Qur'an datangnya perintah tersebut tanpa syarat tertentu, artinya perintah Allah SWT untuk mengerjakan shalat itu, dalam keadaan apapun juga, dan tidak ada alasan untuk tidak melakukannya, (walaupun dengan hanya menggerak-gerakkan anggota badan bagi yang sakit keras). Pesan kepada kita semua, kalau memang susah bangun untuk shalat, gunakan akal agar bisa bangun tepat pada waktunya: semisal membunyikan weker, pesan kepada teman dan saudara yang biasanya bisa bangun lebih awal, atau dengan cara lain. Mudah-mudahan kita bisa selalu dekat dengan Allah, karena jalan itulah yang membuat hati kita tenteram. Amien.

Mutamakin Billa, Lc
Dewan Asaatidz Pesantren Virtual