Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Berjamaah, Imam di lantai dua Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Tanya:

Kepada Pengasuh Konsultasi, saya mau menanyakan sedikit hal yang mengganjal. Di perusahaan tempat saya bekerja baru dibangun masjid baru dua lantai. Akan tetapi posisi imam tidak seperti masjid 2 lantai lainnya yang berada dibawah dan dengan atap terbuka sehingga jamaah dilantai 2 bisa melihat langsung imam/jamaah lainnya yang didepan. Ditempat kami imam berada di laintai 2 dan jamaah lainnya dilantai satu. Untuk bisa mengikuti imam (karena atapnya tertutup) maka digunakan televisi. Bolehkah hal demikian mengingat kondisi berjamaah harus dapat langsung melihat imam/jamaah lain didepannya dan satu tempat?


M Syarif Hidayat - Bekasi

Jawab:

Salah satu syarat sahnya berjamaah, bagi makmum diharuskan mengetahui gerakan imam (supaya dapat mengikutinya), yaitu dengan (1) melihatnya (gerakan imam), atau (2) melihat sebagian shaf yang ada di depan atau sampingnya, atau (3) mendengarkannya suara imam, atau (4) melalui muballigh (orang yang menirukan/mengulangi seraya mengeraskan ucapan imam dengan maksud agar makmum mendengar).

Dalam kondisi yang Anda ceritakan itu, keberadaan televisi sudah mencakup dua fungsi. Karena dengan TV tersebut makmum dilantai satu bisa melihat gerakan jama'ah/imam dilantai dua di samping mendengarkan suaranya imam. Sebagai catatan penting, hal ini hanya terjadi dengan syarat mereka tetap berada dalam satu masjid. Ini boleh, sebab seandainya tanpa TV pun sudah cukup, dengan mengaktifkan seorang muballigh yang berada di belakang di lantai dua sekiranya semua makmum di lantai satu mendengar suara muballigh tsb. Namun karena TV dirasa lebih memudahkan, maka sudah (lebih dari) cukup sebagai pengganti muballigh. Jadi jamaah di masjid perusahaan Anda tsb sah-sah saja.

Selain dari itu, di masjid tsb tentu ada jalan atau tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan dua. Keberadaan tangga ini, sesuai istilah fiqih, cukup disebut "istithraaq" sebagai indikasi kesatuan bangunan masjid tersebut.

Berbeda dengan ilustrasi seperti jamaah yang berada di rumah (Indonesia atau di Asia tenggara) ingin berjamaah melalui TV dari siaran langsung jamaah dari Masjidil Haram. Seperti ini tentu tak bisa disebut berjamaah. Sebab, prasyarat penting dalam satu tempat itu tidak terpenuhi.

Red-PV
 
 

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com