Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Menundukkan Pandangan Kepada Lawan Jenis Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Pertanyaan:

Assalamualaikum wr. wb.

Langsung saja..
Bagaimana penjelasan ttg menundukkan pandangan terhadap lawan jenis.
Terimakasih atas perhatian dan penjelasannya.


Wassalamualiikum Wr. Wb.

Muhammad Yusuf


Jawaban:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Firman Allah dalam surat An-Nur : 30 "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya"

Sejauh mana laki-laki harus menahan pandangannya terhadap wanita yang bukanmahrom?

Insya Allah disini kami akan menguraikan beberapa pendapat mengenai hal ini, diantaranya pendapat 4 madzhab besar, Maliki, Hanafi, Hanbali, dan Syafi'i.

MALIKI
Tidak diperbolehkan bagi laki-laki melihat aurat wanita yang bukan mahromnya walaupun tidak dengan syahwat ataupun tidak untuk tujuan kesenangan (ladzzah). Adapun melihat bagian yang tidak termasuk aurat wanita menurut jumhur ulama, yaitu wajah dan telapak tangan, diperbolehkan dengan syarat hal tersebut tidak menimbulkan fitnah dan bukan untuk memuaskan kesenangan (ladzdzah) Bila hal tersebut menimbulkan fitnah dan membangkitkan syahwat, maka melihatnya haram.

SYAFI'I
Haram melihat wanita yang bukan mahromnya begitu pula haram melihat wajah dan telapak tangan dengan alasan takut akan menjadi fitnah karena kedua bagian tersebut merupakan bagian yang bisa menimbulkan fitnah dan syahwat. Berdasarkan alasan ini Syafi'i mengharamkan melihat wanita baik yang termasuk aurat maupun yang tidak, dan bukan disebabkan keduanya (wajah dan telapak tangan) itu adalah aurat.

Pengharaman ini bisa gugur dengan adanya alasan syar'i, misalnya pengobatan dan lain sebagainya, maka melihat wajah, telapak tangan dan bahkan seluruh tubuhnya boleh.

HANAFI
Seperti halnya Maliki, Hanafi juga mengharamkan laki-laki melihat wanita yang bukan mahromnya, kecuali yang biasa nampak pada mereka dan tidak dengan syahwat. Bila melihatnya dengan syahwat maka haram hukumnya. Adapun perhiasan yang biasa nampak pada wanita dalam surat An-Nur : 31, menurut Hanafi adalah wajah, telapak tangan dan telapak kaki.

HANBALI
Pada asalnya, mereka mengharamkan seorang laki-laki melihat wanita yang bukan mahrom, kecuali dalam keadaan darurat. Tetapi sebagian dari mereka memakruhkan laki-laki melihat wajah dan telapak tangan wanita walaupun tidak dengan syahwat.

Kesimpulanya dalam masalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Melihat aurat wanita yg bukan mahrom baik dengan syahwat ataupun tidak dengan syahwat adalah haram. Dan hukum ini gugur bila dalam keadaan darurat.
  2. Diperbolehkan melihat wajah, telapak tangan dan kaki, menurut sebagian ulama, dengan syarat bisa menjaga diri dari fitnah dan syahwat, karena syahwat bisa mengantarkan kita pada hal yang haram.
  3. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik laki-laki menjaga pandangannya terhadap wanita yang bukan mahrom, karena pandangan bisa menyebabkan zina. Sesuai dengan hadits Nabi yang mengatakan bahwa setiap bani adam memiliki peluang dan tempat untuk berzina. Zina mata terdapat dalam pandangan, zina telinga terdapat dalam pendengaran, zina lisan terdapat dalam pembicaraan.
  4. Adapun seorang laki-laki yang melihat wanita dalam keadaan tertutup rapat auratnya dengan pakaian, maka boleh hukumnya, karena dalam keadaan seperti ini yang terlihat adalah bukan tubuhnya melainkan pakaiannya.

Wanita Melihat Lain Jenis:

Firman Allah dalam surat An-Nur : 31 "Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya"

Sebagaimana laki-laki, wanita pun harus menahan pandangannya terhadap lawan jenis yang bukan mahrom. Dan batasan minimum pandangannya adalah antara pusar dan lutut laki-laki, dengan syarat aman dari fitnah dan tidak dengan syahwat. Bila sudah melibatkan syahwat maka hukumnya menjadi haram. Ini adalah pendapat rojih para ulama. Dalilnya:
  1. Hadits Nabi yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud menerangkan bahwa Nabi menyuruh Ummu Salamah dan Maimunah memakai hijab ketika anak Ummu Maktum yang buta lewat di hadapan mereka sedang mereka melihatnya.
  2. Riwayat dalam Shahih Bukhari, dari Aisyah ra, bahwasannya Nabi menutupi Aisyah ra dengan pakaiannya (rida) sedangkan ia melihat laki-laki habsyah bermain di dalam masjid sampai ia merasa bosan.

Semoga bermanfaat


Wassalam

Imas Akmalia N.A.
 
 

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com