Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Terima uang selain gaji dari perusahaan? Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   

-------
Tanya
-------
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Saya seorang karyawan swasta, mau menanyakan masalah : *Bagaimana hukumnya menerima pemberian uang dari suplier ? *Teman - teman saya sering menerima uang dari sopir yang muatannya dibongkar di gudang kami,bagaimana hukumnya? Terima kasih sebelumnya. Wassalamu'alaikum WrWb.
Hari

---------
Jawab
---------
Assalamu'alaikum wr. wb.

Agama kita mengharamkan suap-menyuap atau dalam istilah fiqh disebut "risywah". Ibnu Atsir mendefinisikan risywah : pemberian yang diberikan untuk menggapai suatu tujuan tertentu. Dalam Tajul A'rus Risywah didefinisikan dengan "pemberian yang ditujukan untuk membatalkan sesuatu yang haq dan menjadikan hak suatu yang batil". Ada juga yang mendefinisikan risywah dengan apa yang diberikan untuk mendapatkan susatu yang aslinya susah menjadi mudah, susah bisa karena peraturan yang berlaku, disini orang sering memberikan sesuatu kepada perangkat hukum agar bisa melewati hukum tersebut, atau memberikan sesuatu kepada hakim agar memutuskan keputusan yang menguntungkan pemberi.

Dalil-dalil yang mengharamkan risywah:

1. Ayat al-Baqarah 188 " Dan jangan sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kami membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain dengan jalan berbuat dosa, padahal kami mengetahuinya" .

2. Hadist Ibnu Umar, Rasulullah s.a.w bersabda "Rasulullah melaknati orang yang menyuap dan menerima suap" (H.R. Abu Dawud dll). Dalam riwayat lain juga perantara antara keduanya.

3. Dalam sebuah riwayat Ibnu Lutaibah pernah menjadi satf Rasulullah yang mengurusi harta Zakat dan Sadaqah, kemudian ia mendapatkan pemberian dan hadiah dari orang-orang yang dilayaninya. Ketika Rasulullah mendengar hal tersebut, beliau marah lalu berkhotbah "Saya telah mengangkat salah satu dari kalian untuk menjalankan pekerjaan (mengumpulkan zakat), kemudian dia datang kepada saya dan berkata "Ini untukmu dan ini dihadiahkan kepadaku". Kenapa dia tidak duduk di rumah ayah atau ibunya (maksudnya tidak usah bekerja), apakah hadiah itu bisa datang kepadanya bila ia benar?. Demi Allah janganlah kalian mengambil apa yang tidak menjadi hak kalian, kecuali kalian akan datang di hari kiamat menghadap Allah dengan membawa apa yang diambilnya...(Bukhari Muslim).

4. Umar bin Khattab mengatakan "Suap yang diberikan kepada hakim termasuk "sukht"(diharamkan agama). Dalam hadist lain dikatakan "Setiap daging yang tumbuh dari "suht" maka api neraka yang layak untuknya" kemudian beliau ditanyai apa itu "Suht", Rasulullah menjawab "Risywah (menyuap) dalam memberikan hukum" diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Umar. (Jami' Shaghir Suyuthi tanpa memberi hukum kekuatan hadist ini).

Para ulama mengatakan bahwa hadiah yang ditujukan untuk mendapatkan kekuasaan termasuk risywah yang diharamkan agama. Imam Ghazali dalam Ihya Ulumumuddin membuat lima kategori pemberian :

1) Pemberian yang tujuannya pahala di akhirat, seperti memberi orang faqir atau pencari ilmu yang kekurangan biaya. Pemberian ini boleh dan penerima boleh menerimanya bila tujuannya memang demikian.

2) Pemberian yang di belakangnya ada tujuan tertentu duniawi, seperti pemberian seorang faqir kepada orang yang kaya karena berharap harta atau pertolongannyanya di kemudian hari. ini hukumnya jelas, boleh menerima kalau memang mau memberi imbalan yang diharapkan oleh orang faqir tersebut.

3) Pemberian yang di belakangnya ada harapan pertolongan, misalnya seorang yang memerlukan bantuan dari seorang pejabat, lalu ia memberi kepada orang dekat atau pembantu pejabat tersebut agar bisa mendekatkannya kepada pajabat dimaksud sehingga selanjutnya bisa mendapatkan pertolongannya.

Di sini dilihat dari bentuk pertolongan atau pekerjaan yang diinginkan. Apabila pekerjaan yang diinginkan haram seperti merampas hak orang lain dengan tanpa alasan yang sah, atau pekerjaan tersebut berkaitan dengan kewajiban pejabat yang bersangkutan sehingga ia keluar dari ketentuan yang seharusnya ia lakukan, misalnya akibat pemeberian tersebut menyebabkan si pejabat lalai menegakkan keadilan dan malah sebaliknya berbuat kedlaliman. Ini haram hukum memberi dan menerimanya, karena ini termasuk risywah. Apabila pekerjaan tersebut diperbolehkan secara agama, sehingga kalau tanpa pemberian urusannya jadi lambat karena dia tidak tahu aturan yang berlaku. Misalnya membayar pangacara, yang berpengalaman tentang seluk-beluk hukum, untuk menyelesaikan prosedur hukum tertentu sesuai dengan hukum yang ada. Pemberian ini hukumnya boleh asalkan pekerjaan yang dilakukan termasuk pekerjaan halal. Pemberian jenis ini dalam fiqh termasuk Ji'alah ( upah sayembara).

4) Pemberian yang tujuannya semata agar si penerima menjadi semakin mencintai atau menyenangi si pemberi. Pemberian yang semata untuk mendekatkan hati dan memupuk tali persaudaraan dan persahabatan serta silaturrahmi. Pemberian seperti ini sangat diajurkan agama. Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda "Kalian seharusnya saling memberi hadiah, agar kalian saling mencintai dan menyayangi" (H.R. Bukhari). Hadiah ini boleh diterima, demikian juga pemebrian yang tujuannya tidak diketahui. Ini karena tujuan dari pemberian dasarnya adalah untuk kebaikan. (Tentu setiap orang akan tahu dan merasa apakah hadiah yang diterimanya ada tujuan tertentu dibelakangnya atau tidak)

5) Pemberian yang di belakangnya ada harapan jabatan atau pangkat, sehingga seaindainya di sana tidak ada jabatan atau pangkat tersebut pastilah tidak akan ada pemberian. Apabila jabatan tersebut karena ilmu dan kemuliaan semata, maka hukumnya makruh karena mendekati risywah. Namun apabila jabatan tersebut cukup strategis untuk mencari uang semata dan tujuannya untuk disalah gunakan demi mendapatkan harta yang tidak halal, ini risywah yang berbentuk hadiah, sebagian ulama mengatakan hukumnya makruh yang mendekati haram dan sebagian ulama mengatakan haram sesuai hadist di atas.

Kondisi Risywah diperbolehkan : Dalam sebuah riwayat, Wahb bin Manbah ditanyai apakah semua risywah haram? beliau menjawab "tidak", risywah diharamkan apabila tujuannya agar kamu mendapatkan apa yang kamu tidak berhak, atau kamu dibebaskan dari kewajiban yang seharusnya ada di pundakmu. Adapun risywah untuk membela agamamu, hartamu dan darahmu maka hukumnya boleh. Abu Laith a-Samarqandi mengambil pendapat ini. Ibnu Masud diriwayatkan terpaksa menyuap dengan dua dinar di Habasyah, ia lalu berkata "dosa bagi yang menerimanya".

Imam Nawawi dalam fatwanya tentang seorang yang dipenjara secara aniaya, kemudian membayar uang kepada orang yang bisa berbicara untuknya agar membebaskannya dari penjara, apakah boleh dan apakah ada pendapat ulama tentang ini? Belau berkata : boleh dan telah dijelaskan oleh ulama terdahulu termasuk di antaranya Qadli Husain dalam bab riba. Dari Qaffal al-marwazi, ini termasuk Ji'alah yang dihalalkan.

Melihat dari uraian di atas, pemberian yang Saudara terima termsuk yang halal bila tujuannya memang sekedar bagi-bagi rejeki. Memberi agar konsumen tidak lari juga tidak ada larangan dalam agama, karena ini termasuk strategi bisnis yang secara umum tidak dilarang agama. Semoga membantu. Wallahu a'lam bissowab.

Wassalam

Muhammad Niam

Disadur dari Syeh 'Atiyah Shaqr, 1997.

 
 

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com