Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Kullu Mauludin Yuuladu 'alal Fitrah Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Keyakinan saya selama ini, bahwa orang orang selain Islam ini akan mendapat adzab dari Allah SWT, karena setahu saya bukan saja mereka itu syirik, tetapi betul betul tidak mempercayai Allah, jika syirik saja tidak terampunkan dosanya, apalagi yang tidak percaya sama sekali??? Yah, katakanlah Kristen dan Yahudi ada sedikit mempercayai Allah, meski kita tidak betul betul tahu apakah Allah yang kita percayai sama dengan Allah yang mereka percayai. Lantas bagaimana dengan orang Budha, Hindu, Kong Hu Chu, Shinto, Singh, dan bahkan Komunis??? Assalamu'alaikum Wr Wb, Almukarrom Pengasuh Pesantren Virtual yang di rahmati Allah, disini saya ingin menanyakan sesuatu permasalahan yang mungkin cukup mendasar dan berhubungan rapat dengan persoalan "usuluddin". sebenarnya, pertanyaan ini sudah beberapa kali saya lontarkan kepada beberapa milist, dan Alhamdulillah saya mendapat banyak masukan dan nasehat bahkan tak kurang tanggapan sinis, tuduhan sekular dan sebagainya. tetapi menurut saya, tak ada salahnya kalau saya tanyakan permasalahan ini tidak kepada seorang dua saja, semakin banyak dan variatif tanggapan yang saya perolehi, makan akan semakin banyak pula bahan bahan yang bisa saya jadikan pertimbangan sekaligus untuk melatih "intelectual exercise" saya, mungkin... Pada Workshop Pemikiran Islam di Indonesia yang bertempat di Islamic International University, Kuala Lumpur, yang dilangsungkan dari tgl 6-7 September 2003 kemaren, saya sempat menanyakan sebuah permasalahan yang selama ini menjadi pertanyaan besar dalam hidup saya, sebuah pertanyaan yang bahkan sering "mengganggu" kestabilan iman saya terhadap Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Pertanyaan tersebut sudah cukup lama saya simpan, dan pernah juga beberapa kali saya tanyakan kepada orang orang yang saya anggap mungkin mampu untuk menjawab persoalan saya ini. Tapi terusterang saja, saya masih belum betul betul mendapatkan kepuasan secara kaaffah ( Ya Allah, ampunkan hambaMu yang "mempertanyakan" kebenaranMU) Pertanyaan tersebut adalah berhubungan dengan seberapa dalam sebenarnya intervensi lingkungan terhadap perkembangan iman seorang individu juga korelasinya dengan pembalasan (hisaab) masing masing individu tersebut di hari akhirat kelak. Dipondok ini saya semakin banyak diajarkan dan diperkenalkan kepada Iman, Islam, Fiqh, Syariah, Tauhid dll secara lebih mendalam ketimbang ketika saya di MTs apalagi di MIN, saya semakin meyakini bahwa Islam lah agama yang benar disisi Allah, Islam lah yang akan menentukan berhasilnya hidup saya baik didunia ataupun di akhirat, saya semakin meyakini bahwa Islam adalah penentu keselamatan saya, saya selalu diperingatkan "Walaa Tamuttunna Illa Waantum Muslimuun", "Waman Yabtaghi Ghairal Islaama Dinan Falan Yuqbal Minhu Wahua Fil Akhirati Minal Khasirin", "Innad Diina IndAllahil Islam" dan lain sebagainya. Tak pelak lagi, saya berkeyakinan dengan seyakin yakinnya, tampa Iman Islam maka saya tidak akan selamat dunia dan akhirat. Pada sisi yang lain saya juga belajar bagaimana seharusnya kita bersikap kepada orang orang yang belum mendapat hidayah Islam ini, adalah kewajiban saya untuk berdakwah, mengajak dan membimbing mereka menuju jalan kebenaran ini, meski Allah jualah yang menjadi penentu apakah mereka akan mendapat Hidayah tadi atau sebaliknya. Namun yang jelas saya juga mempunyai tanggung jawab untuk menyelamatkan orang orang yang "sesat" tadi, jika tak mampu dengan tangan saya wajib mengajak dengan mulut, jika tak mampu dengan mulut tetap saya mempunyai niat dan keinginan untuk mengajak meski hanya dengan gerak hati. Yah.. saya yakin mereka sesat, karena saya diberitahu bahwa "kullu mauludin yuladu alal fitrah" maka Ayah dan Ibunya lah yang bertanggung jawab akan menjadikan dia Majusi,Yahudi, Nasrani atau pun Muslim. Demikianlah gambaran ringkas perkembangan keimanan dan ke Islam-an saya dengan segala korelasinya terhadapa lingkungan dimana saya berada didalamnya, berinteraksi dengannya, dengan segala konsistensi hukum lingkungan, dicela jika tidak "seperti mereka" dan dipuji jika bisa "lebih baik" dari mereka. Nah para sahabat2 dan para Ustadz2 sekalian yang budiman, belakangan ini saya berfikir, adalah tidak mustahil dan bahkan sangat berkemungkinan bahwa perkembangan keimanan saya dalam lingkungan yang boleh dikatakan serba islami tadi, dialami juga oleh individu selain saya dengan gambaran dan ilustrasi yang sama atau hampir sama tetapi dalam lingkungan yang NON ISLAM. Sejak kecil mungkin mereka sudah diajarkan untuk berpegang teguh kepada ajaran agama mereka, supaya berhati hati terhadap "godaan" agama agama lain, kehinaan dan kenistaan yang akan mereka kecapi jika mereka meninggalan agama mereka. Bukankah mereka juga berkeyakinan bahwa agama merekalah yang paling benar?? Bukankah mereka juga sama seperti kita dlam segala hal? Jika kita merasa berkewajiban untuk berdakwah, bukankah mereka juga merasa kewajiban yang sama? Lantas dimanakah ukuran kebenaran ini??? Alqur'an, Assunnah, Ijma' Qiyas? Bukankah itu semua tidak bisa kita jadikan sebagai ukuran kebenaran kepada orang orang yang tidak mempercayainya??? Bukankah mereka juga mempunyai rujukan kebenaran mereka sendiri??? Keyakinan saya selama ini, bahwa orang orang selain Islam ini akan mendapat adzab dari Allah SWT, karena setahu saya bukan saja mereka itu syirik, tetapi betul betul tidak mempercayai Allah, jika syirik saja tidak terampunkan dosanya, apalagi yang tidak percaya sama sekali??? Yah, katakanlah Kristen dan Yahudi ada sedikit mempercayai Allah, meski kita tidak betul betul tahu apakah Allah yang kita percayai sama dengan Allah yang mereka percayai. Lantas bagaimana dengan orang Budha, Hindu, Kong Hu Chu, Shinto, Singh, dan bahkan Komunis??? Wassalam, Khairul Hamzah ------- Jawab ------- Wa `alaikum salam Wr. Wb. Saudara Hamzah, Melihat latar belakang Anda yang cukup 'santri', saya ingin mengajak berdiskusi mengenai hal yang Anda pertanyakan ini. Kita mulai diskusi ini dengan Hadis yang Anda kutip, "kullu mauludin yuladu 'alal fithrah". Nah, yang perlu kita lacak berikutnya, "siapa atau apakah fitrah itu" atau fokusnya, "yang manakah agama fitrah itu?" "Fithrah" secara bahasa bisa diartikan: "sifat dasar, natural", "watak, karakter", "penciptaan, ciptaan", "agama, sunnah", "alami", "insting", "primitif" dan sejenisnya. Maksud fitrah di sini adalah: Menurut proporsi penciptaannya, manusia diciptakan dalam fitrah/sifat dasar bisa menerima tauhid (kepercayaan hanya kepada satu Tuhan). Fitrah ini tak akan berubah. Dan, fitrah untuk menerima ajaran tauhid (pengesaan Tuhan) inilah agama yang lurus. Namun, kebanyakan manusia tidak menyadarinya. Kebanyakan manusia tidak mengesakan Tuhan. *** Agama-agama samawi mengaku sebagai penerus agama Ibrahim. Apakah fitrah ini bermula dari sini? Jika iya, di antara agama-agama yang mengaku sebagai penerus agama Ibrahim, manakah yang paling sesuai dengan pengakuan itu? Coba renungkan ayat "wajjahtu wajhiya lilladzi "fathara"s samawati wal ardla hanifan "muslima". "Huwalladzi sammakumul "muslima". "Innaddina `indallahil Islam". Intinya, saya ingin mengatidakan, "fithrah" yang dimaksud dalam Hadis tersebut adalah Islam; dan orangtuanyalah yang menjadikan sang anak tidak Islam. Padahal jika tidak Islam, berarti dalam pandangan Allah, ia tidak beragama. Apakah berarti mereka (yang tidak Islam) sesat dan akan mendapat siksa? Meski tidak diakui sebagai agama--dalam pandangan Allah--Kristen, Yahudi, dan Shabiin (termasuk di dalamnya Majusi, Budha, Hindu dll) akan tetap mendapatkan balasan kebaikan dari Allah jika mereka beriman kepada Allah, Hari Akhir dan berbuat baik. (lihat Q., s. al-Baqarah: 62; al-Maidah: 69) Bagi Yahudi dan Kristen, mereka terkena tuntutan untuk mengamalkan wahyu-wahyu Tuhan yang telah diturunkan kepada mereka di dalam Taurat dan Injil (lihat al-Maidah: 44 dan 47) sebagaimana umat Islam dituntut untuk mengamalkan wahyu Tuhan di dalam Al-Qur'an. Masing-masing umat telah diberi petunjuk oleh Tuhan dan agar saling berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan keburukan dan permusuhan. (lihat al-Maidah: 48) Permasalahan-permasalahannya: Pertama, jika ada masalah yang dipersoalkan oleh umat penganut Kitab bukan Al-Qur'an dan diajukan kepada kita, penganut Al-Qur'an, untuk diselesaikan maka pedoman kita adalah Al-Qur'an dan Kitab inilah yang lebih diunggulkan karena dia turun "muhaiminan" atas kitab sebelumnya dan lebih lengkap isinya. Akhirnya, akan tampak Al-Qur'an superior di atas Kitab-Kitab lainnya. Nah, apakah mereka akan menerima superioritas Al-Qur'an ini? Jika tidak menerima, maka tidak perlulah mereka mengutak-atik Islam atau kita tidak perlu ikut mempersoalkan permasalahan keagamaan mereka, kecuali jika mengakui keberadaan Al-Qur'an. Kita tidak berdosa dengan sikap menolak turut campur ini, dan seandainya mau turut campur--atas permintaan mereka tentunya--maka pedoman kita adalah Kitab yang diturunkan kepada kita, bukan yang diturunkan kepada mereka. Kedua, Kitab-Kitab sebelum Al-Qur'an disinyalir telah mengalami perubahan dan penyimpangan. Begitu pula tentang keyakinan mereka yang menganggap nabi-nabi mereka sebagai anak-anak Tuhan atau Tuhan itu sendiri. Kita tidak punya kewajiban untuk 'aktif' meluruskan penyimpangan ini, melainkan hanya menyampaikan apa yang kita terima dari Ajaran kita kepada semua khalayak (bisa lewat buku, dialog, seminar, tabligh dsb). Jika mereka mempercayai yang kita sampaikan, biarlah akal dan hati mereka sendiri yang akan memilih nantinya. Jika mereka menolak, kita pun tidak punya kewajiban untuk memaksakan kebenaran. Kita tidak perlu saling memperolok. Perubahan dan penyimbangan ini telah diketahui Tuhan sejak Al-Qur'an belum diturunkan kepada Nabi Muhammad. Toh, begitu, Tuhan masih tetap mengakui telah menurunkan Kitab kepada mereka dan agar mereka mengatur kehidupan mereka berdasarkan Kitab-Kitab yang diturunkan tersebut. Juga, kebolehan kita memakan makanan Ahli Kitab dan mengawini perempuan-perempuannya menunjukkan adanya pengakuan Tuhan terhadap mereka. Tidak perlu pengakuan ini dikhususkan pada "sebelum terjadinya perubahan dan penyimpangan", karena Tuhan mengakui hal ini ketika mereka telah dalam keadaan berubah dan menyimpang. Ayat yang berkaitan dengan masalah ini termasuk ayat yang turun belakangan. Di tambah, kita semua diuji dengan segala sesuatu yang diturunkan Tuhan agar kita berlomba-lomba dalam kebaikan dan kebajikan. Bukankah untuk memulai perlombaan garis startnya harus sama? Artinya, sama-sama dibenarkan oleh Tuhan untuk menempuh jalan masing-masing. Tuhanlah nanti yang akan memberi kebijaksanaan. Nah, jika argumen-argumen itu diterima, apakah Anda ingin memilih jalan selain Islam? Jika iya, maka berarti Anda memilih sesuatu yang bukan fitrah. Anda keluar dari fitrah sendiri. Wallahu a'lam. Demikian, semoga membantu. Jika masih ada ganjalan, tentu kita perlu melanjutkan diskusi ini. Salam, Shocheh Ha.
 
 

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com