Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

Ust. M. Niam

Whatsapp: +998903559836
Ustdzh Kamilia
Ust. Arif Hidayat

Kirim Artikel

Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
Silahkan kirim ke redaksi

Konsep Kebahagiaan Cetak E-mail
Ditulis oleh Rizqon Khamami   
Dunia bukanlah tujuan, tapi tempat manusia berbakti kepada Allah dan tempat berbuat sebagai wakil-Nya untuk kesejahteraan, keadilan dan kedamian. Kelak tujuan akhir adalah akhirat, dimana manusia dapat menikmati puncak kebahagian. Namun, dunia diperlukan, selain sebagai alat pengabdian, untuk dinikmati seperlunya agar tumbuh rasa rindu kepada kampung akhirat. Allah berpesan,�Hidup di dunia ini tidak lain hanyalah suatu kesenangan dan permainan belaka. Sesunggunya kampung akhirat, itulah kehidupan yang sebenarnya jika mereka mengetahui.� (Q.S. al-Ankabut : 64).

Kemunculan berbagai agama dan filsafat di muka bumi terkait dengan pertanyaan : untuk apa manusia hidup di dunia, mencari apa? Agama lahir pada umumnya di benua Asia dalam mencari jawaban atas pertanyaan tadi dengan menggunakan intuisi (hati), sedang sistem filsafat muncul di benua Eropa dengan pendekatan rasio (akal). Hindu dengan berbagai aliran dan resi-nya masing-masing, Buddha, Jain, Konghucu, Shinto, Tao yang lahir di Asia sebelah timur memperlihatkan kedalaman pencarian lewat hati yang khas. Tradisi Ibrahim beserta nabi-nabi lain di Asia sebelah barat, yang dikenal dengan Timur-Tengah, demikian juga memperlihatkan ciri-ciri tersendiri.

Tradisi penggalian melalui filsafat di Eropa, dengan penggunaan rasio, menunjukkan bahwa mereka sedang mengikuti saudaranya di Asia dalam menemukan hakekat kemanusiaan. Mereka satu keinginan, yaitu ingin memecahkan persoalan penting : apa yang dicari manusia dalam hidup. Para nabi dan filosof bersepakat dalam satu kata, bahwa manusia ingin memperoleh kebahagian selama hidupnya. Ada sebagian yang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah melalui kebahagiaan badani. Sementara sebagian yang lain mengatakan bahwa kebahagiaan adalah kepuasan rohani, atau hati yang tidak dibudakkan oleh keduniaan (harta, benda, tahta, anak-istri dan kemasyhuran).

Kelompok pertama menandaskan, kebahagiaan adalah terpenuhinya kebutuhan dan keinginan manusia selama di dunia. Membantah pendapat ini, kelompok kedua menegaskan sebaliknya, bahwa untuk memperoleh kebahagiaan seseorang harus melepaskan diri dari keinginan dunia. Kelompok pertama mendorong manusia untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya dan menikmati kehidupan dunia sepuas-puasnya (hedoisme).

Sedang kelompok kedua memerintahkan manusia jika hendak bahagia, maka melepaskan keduniaan dan menjauhi dengan bertapa, berlaku membujang (celibacy), menjauhi keramaian dan hidup dengan fakir. Di saat pertengkaran antara dua kubu yang saling bertentangan secara ekstrem, Islam datang dengan memberikan jalan keluar, penengah bagi keduanya. Untuk meraih kebahagian, sebagaimana pendapat kelompok kedua, Islam memerintahkan untuk melepaskan dunia dari hatinya, bukan dari tangannya. Artinya, bagi seorang Muslim, dunia harus dijauhi oleh hati dari kecenderungan untuk mencintainya. Tapi Islam memperbolehkan untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya, sebagaimana kelompok pertama, sebagai alat pengabdian kepada Allah (swt), karena setiap ibadah kepada Allah lebih sering memerlukan pengorbanan badan dengan ritual yang melelahkan dan hati yang rela mengeluarkan harta miliknya. Sikap demikian ini dalam ilmu tasawuf disebut "zuhud".

Imam Junaidi al-Baghdadi menegaskan, bahwa zuhud adalah meletakkan dunia dan isinya di telapak tangannya, bukan dalam hatinya. Harta untuk dimiliki, bukan untuk dicintai. Demikian pula anak dan istri. Dunia bukanlah tujuan, tapi tempat manusia berbakti kepada Allah dan tempat berbuat sebagai wakil-Nya untuk kesejahteraan, keadilan dan kedamian. Kelak tujuan akhir adalah akhirat, dimana manusia dapat menikmati puncak kebahagian. Namun, dunia diperlukan, selain sebagai alat pengabdian, untuk dinikmati seperlunya agar tumbuh rasa rindu kepada kampung akhirat.

Allah berpesan,�Hidup di dunia ini tidak lain hanyalah suatu kesenangan dan permainan belaka. Sesunggunya kampung akhirat, itulah kehidupan yang sebenarnya jika mereka mengetahui.� (Q.S. al-Ankabut : 64). Di ayat lain,�Tiadalah kehidupan di dunia kecuali permainan dan senda gurau saja. Sesungguhnya kehidupan di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, apakah kamu tidak memikirkannya ?� (Q.S. al-An’am : 32) Nabi Muhammad (saw) mengajarkan lewat do’a,�Rabbana aatina fiddun-ya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban-naar.� (Tuhan-ku, berilah kepada hamba-Mu ini kebahagiaan di dunia, dan kebahagian kelak di akhirat, serta jauhkan dari hamba-Mu ini siksa neraka). Wallhu a’lam.

Rizqon Khamami.

 
 
Surah:. At Tahriim (66)
Ayat: 11
 Listen to this ayat (verse)  وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
66.11. Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-MU [1489] dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim. [1489] Maksudnya: sebaliknya sekalipun isteri seorang kafir apabila menganut ajaran Allah, ia akan dimasukkan Allah ke dalam jannah.
[ At Tahriim : 11 ]

Sumbangkan Donasi

Alamat Donasi:
Bank Syariah Mandiri KCP Jepara
a/n: Kamilia Hamidah
(anggota Dewan Asatidz)
No Rek.:  7063550374

Catatan:
Donasi mohon dikonfirmasikan ke email donasi@pesantrenvirtual.com