Ini Bulan Aktifitas, Jangan Malas!

Tiga puluh hari dimana kemuliaan menemani kita ada di Ramadan. Satu bulan suci yang akan mengantarkan kita untuk merasakan sentuhan kasih sayang Sang Maha Penyayang yang-barangkali-kita lupakan pada bulan-bulan yang lain.
Sebelas bulan dalam setahun kita sibuk mengejar kemewahan, superioritas, gelimang gemerlapnya dunia, dan tanpa kita sadari bertumpuk-tumpuk dosa dan kesalahan di pundak kita. Kita sudah biasa melupakan-Nya, mengkristalkan bongkahan-bongkahan batu dalam hati kita, mengobarkan api permusuhan terhadap siapa saja yang menghalangi langkah kita serta buta kepada yang di "bawah" dan di sekitar kita.

Maka, datangnya bulan yang mulia ini mengajak kita untuk merenungi kembali kesalahan-kesalahan kita, memperbaiki hubungan kita, baik vertikal maupun horisontal. Adapun cara kita memperbaiki hubungan kepada Allah adalah dengan kembali mengingat-Nya dengan kembali menjalankan perintahnya sehingga kita tetap pada jalan-Nya yang lurus.

Sedangkan cara kita untuk memperbaiki diri sendiri adalah dengan menyatukan lisan dan perbuatan yang disertai panggilan suci hati nurani. Iman bukan sekedar ucapan atau pun syiar-syiar, tapi iman hakiki adalah seperti yang disampaikan oleh Rasul saw, yaitu membenarkan dalam hati, dan mengejawantahkannya dalam amal perbuatan. Apabila berhasil memperoleh iman yang hakiki ini maka ketenangan hati, kebersihan jiwa akan kita peroleh. Di samping, tentunya, manisnya iman serta lezatnya taat dan beribadah kepada Sang Khalik. Bulan ini akan membantu kita membersihkan mata hati dan menjauhkan perilaku hipokrit. Allah tidak menjadikan bagi mukmin dalam dirinya kecuali satu hati.

Adapun cara kita untuk berbuat baik kepada manusia adalah dengan menebarkan kasih sayang, kelembutan, dan menjauhkan diri dari sifat dengki, membenci, dan menyambung hubungan yang terputus, baik dengan kerabat dekat, tetangga, dan seluruh sahabat. Akan lebih baiknya, apabila kita mampu memaafkan orang-orang yang memiliki kesalahan kepada kita sehingga Allah juga akan memaafkannya dan ridla terhadap perbuatannya.

Sudah sewajarnya, dalam keadaan puasa tubuh kita letih-terkuras untuk aktifitas sehari-hari semisal bekerja, menuntut ilmu, ibadah, dan lain-lain. Tapi, kita harus ingat walaupun tubuh kita letih, bekerja juga merupakan suatu kewajiban bagi setiap Muslim dan tercatat sebagai amal ibadah. Bukankah Allah dan Rasul-Nya lebih mencintai tangan-tangan yang bekerja dan berkarya dari pada tangan-tangan yang malas dan berpangku tangan.

Karena itu, menjadikan Ramadan sebagai alasan untuk lamban bekerja akan menghilangkan pahala puasa bagi pekerja itu sendiri, ia tak akan memperoleh dari puasa selain lapar dan dahaga. Bahkan ia telah melakukan kesalahan ganda, yaitu kemunduran dalam beribadah dan bekerja. Terlebih lagi, jika ia bekerja untuk melayani masyarakat. Sebaik-baik pekerjaan adalah khidmat kepada umat. Ia lebih afdhol dibanding i’tikaf di dalam masjid selama bertahun-tahun. Allah menyukai pekerjaan yang dilakukan dengan keuletan, peras keringat, dan banting tulang.

Nah, cara "tobat" di atas (yaitu memperbaiki segala amal perbuatan kita baik ke arah vertikal maupun horisontal), tertuang dan tersedia dalam kesempatan yang mulia ini. Tetapi, di sana ada syarat yang harus kita penuhi, yaitu bahwa segala perbuatan buruk yang telah dilakukan di masa lalu tak akan diulangi di masa mendatang. Kita harus berusaha untuk itu, berusaha untuk istiqamah. Terlebih lagi, tidak logis rasanya jika dengan berakhirnya bulan Ramadan maka kita mengulangi lagi perbuatan-perbuatan buruk yang telah kita lakukan sebelum bulan Ramadan. Kalau hal itu sampai terjadi, maka puasa, salat, zakat, serta kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan tak akan bermanfaat.

Jika Ramadan akan mengahapuskan dosa-dosa kita sebelumnya, tetapi ia tak akan menghapuskan dosa-dosa kita setelah ia usai. Jika kita mengulang kesalahan masa lalu, maka kita telah menipu diri sendiri, dan tak akan memperoleh apa-apa kecuali murka Sang Khalik dan malaikat malaikat-Nya. Hendaklah kita jadikan puasa Ramadan ini untuk menumbuhkan kebaikan-kebaikan dan menutup kejelekan-kejelekan, serta membangkitkan nurani untuk mendorongnya beramal dengan ikhlas, agar kita memperoleh ridla Tuhan dan surga-Nya. Barangsiapa telah merasakan manisnya taat dan iman serta taqarub kepada Tuhan, maka tak akan mungkin kembali kepada kerendahan maksiat dan kehinaan syahwat. Semoga Allah menjaga kita dari perbuatan-perbuatan tercela dan menganugerahkan kepada kita kebahagiaan dunia akhirat.

(Oleh: Dr. Muhammad Majdi Marjân dari harian al-Akhbâr/Alih bahasa: Udy Andriyati S. Moechtar)